Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 102


__ADS_3

Selesai makan siang, mereka berkumpul di sofa ruang tengah, setelah bermain selama setengah jam nona An, susah mulai ngantuk, Hanifah segera pamit dan membawa nona An masuk ke kamarnya untuk tidur siang. Nyonya Bisseling dan tuan Bisseling memilih untuk keluar rumah menghirup udara luar, mereka berdua jalan-jalan di mall terbesar yang ada di area rumahnya sementara waktu sambil nunggu nona An, bangun dari tidurnya, sedangkan Lancelot kembali fokus pada lap topnya di kamar sebelah yang di tempati Hanifah. Setelah nona An, sudah tidur Hanifah memilih membaca Al-Quran walau lirih karena tidak mau mengganggu nona An, sedangkan suster memilih mengerjakan pekerjaan lainnya seperti menyeteril mainan nona An.


Waktu berlalu dengan cepatnya satu setengah jam nona An terlelap dalam tidurnya, setelah satu setengah jam nona An mulai membuka matanya.


"Mama ma ma ma," suara nona An memanggil Hanifah.


Hanifah segera menghampiri nona An yang sedang tertidur setelah menutup Al-Quran-nya.


"Tuan Putri mama sudah bangun ya," suara Hanifah langsung menolong nona An agar tidak menangis.


Lancelot biarpun dia bekerja namun tidak pernah lepas dari layar monitor CCTV agar bisa memantau nona An. Lancelot selalu tersenyum bahagia ketika melihat interaksi Hanifah dengan putrinya, ketulusan Hanifah dalam menyayangi putrinya membuat Lancelot semakin mengagumi Hanifah. Setelah beberapa saat Lancelot mematikan laptop-nya dan bangkit dari tempat duduknya, Lancelot menuju kamarnya sendiri yang sekarang menjadi kamar Hanifah dan nona An.


"Hai, Putri papa sudah bangun ya!" seru Lancelot masuk yang baru masuk ke kamarnya sendiri.


"Putri mama, ayo bilang apa sama papa," perintah Hanifah pada nona An.


"Ma ma ma." celoteh nona An.


"Pa pa papa," Ayo ikuti suara mama"Pa pa pa pa, papa."


"Ma ma mama," Nona An tetap mengucap kata mama dan memeluk Hanifah erat-erat.


"Maaf, tuan saya sudah berusaha untuk mengajari nona An, tapi entahlah saya gak tahu Nona An, belum bisa mengucapkan kata papa secara sempurna." ucap Hanifah merasa sungkan


"Aku tidak keberatan, jika An tetap memanggilmu mama, kalau tenang saja suatu saat bila waktunya sudah tiba dia pasti bisa memanggilku papa, entah kapan," ucap Lancelot santai sambil membelai lembut kepala nona An yang berada dalam pangkuan Hanifah.


"Tapi saya merasa tidak enak sama tuan."cicit Hanifah merasa sungkan.


"Gak, usah dipikirkan sola panggilan sekarang siap-siap kita susul oma dan opanya An, kita jalan-jalan, mumpung aku ada waktu karena besok pagi aku sudah terbang lagi ke cina, mungkin agak lama kurang lebih dua minggu, karena ada tiga negara yang harus aku kunjugi dan ada salah satu proyek yang bermasalah, jadi titip An didik dan rawat An, selama aku tidak bisa merawat dan mendidiknya." pinta Lancelot penuh harap.

__ADS_1


"Saya akan berusaha semaksimal mungkin Tuan, terima kasih atas keprcayaan Tuan pada saya untuk menjaga dan merawat nona An," cicit Hanifah.


"Awalnya aku tidak mempercayaimu Han, tapi kamu adalah pilihan putriku, dan aku sangat mempercayai putriku itu artinya kamu orang yang paling di sayangi oleh putriku, sekarang ayo ganti baju dan berangkat," perintah Lancelot.


"Kenapa Tuan, ngomongnya mendadak sekali sih, kenapa tidak dari tadi Tuan ngomong jika kita mau keluar, saya kan bisa siap-siap." protes Hanifah.


"Sudahlah kamu ganti baju saja, biar suster yang gantikan baju untuk An," ucap Lancelot "Sus, tolong ganti baju untuk An, kita mau keluar, kita pulangnya setelah makan malam jadi setelah kita pergi kamu bisa kembali ke rumahku." perintah Lancelot pada suster.


"Baik, Tuan," sahut suster sopan" Han, sini biar aku gantikan baju untuk nona," suster minta nona An yang masih berada di pangkuan Hanifah.


"Nona ayo, bibi bantu ganti bajunya." rayu suster pada nona An.


"No no no." Nona An tidak MUA malah memeluk erta tubuh Hanifah.


"Sus, tolong ambilkan saja baju untuk nona biar aku ganti sendiri." pinta Hanifah sopan.


"Baik, Han." sahut suster langsung mengambil baju untuk nona An.


"Baik Tuan."


"Han, kita sama-an kamu juga pakai sama kaya aku dan An." pinta Lancelot pada Hanifah.


"Tapi Tuan, nanti apa yang orang pikirkan tentang kita, nanti orang sini pikir Tuan, apa Tuan tidak malu jika ada awak media yang mengenali Tuan, saat berjalan sama saya pakai baju sama-an pula." Hanifah berusaha menolak dengan halus.


"Kalau aku mencuri itu aku malu atau kalua aku telah ketahuan selingkuh dengan istri orang itu baru aku malu, lah kamu kan singgel aku juga singgel, tidak ada yang membuatku malu," jawab Lancelot santai dab percaya diri.


Suster segera mengambil baju yang di maksud oleh Lancelot dan menyerahkan pada Hanifah.


"Han, ini baju nona An, benar yang di katakan Tuan, banyak wanita yang ingin bisa berdekatan dan jalan sama Tuan Lanc, lo Han, kamu turuti saja permintaan Tuan, biar dia tambah semangat bekerjanya dan bisa mendapat banyak uang yang banyak jadi bonus kita-kita juga nambah banyak." ucap suster dengan begitu percaya diri tanpa dosa.

__ADS_1


"Kamu tahu saja, Sus, maksud dan tujuanku" ucap Lancelot memuji susternya dalam mendukung aksinya.


"Dari dulu, berita tentang wanita yang berambisi dengan tuan selalu aku ikuti, Tuan, hingga datanb suatu berita tentang Tuan, yang pecinta satu spesies dengan Tuan." cerocos suster sambil membantu Hanifah mengganti baju nona An.


"Kamu dengar sendiri kan Han?"


"Iya ya ya Tuan, OK Putri mama sudah selesai sekarang ganti mama ganti baju dulu ya, Putri mama sama papa dulu." perintah Hanifah pada nona An.


"No no no." Nona An memggeleng kepala dan memeluk kembali Hanifah seolah tidak mau berpisah dengan Hanifah.


"Baiklah, kalau begitu Putri mama yang cantik temani mama ganti baju OK," ucap Hanifah.


Nona An menganggukkan kepala beranda menyetujui ajakan Hanifah, Hanifah segera turun dari ranjang sambil menggendong nona An menuju ruangan khusus untuk ganti baju.


"Sus tolong segera kamu siapkan keperluan untuk An, nanti kami makan malam di luar." perintah Lancelot pada suster.


"Baik, tuan."


Hanya butuh waktu sepuluh menit Hanifah sudah keluar dari kamar ganti dengan nona An, tentu dengan baju batik dan yang sama dengan nona An dan Lancelot, tidak ketinggalan Hanifah memakai hijab yang satu set dengan bajunya, supaya tidak diketahui wajahnya Hanifah, memakai masker.


"Sempurna." Lancelot langsung memuji penampilan Hanifah.


"Kita berangkat Tuan," ucap Hanifah.


"Tentu, tapi kenapa kamu memakai masker?" tanya Lancelot.


"Biar tidak di ketahui oleh orang, dan lagian biar wajah saya tidak terkena debu terlalu banyak," jawab Hanifah dalam membuat alasan.


"Baiklah terserah kamu, asal kamu nyaman, keperluan untuk An, suster sedang menyiapkan, kita turun sekarang."

__ADS_1


Hanifah, Lancelot dan nona An turun dari lantai empat untuk menuju parkiran mobil yang ada di lantai satu. Hampir seluruh pelayan keluarga Bisseling bengong ketika melihat penampilan Hanifah, Lancelot dan nona An.


__ADS_2