Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 148


__ADS_3

Setelah empat tahun bekerja di negara Hongkong, hari ini kontrak kerja Hanifah telah usai, Hanifah kbali ke tanah air dua minggu sebelum visa habis sesuai dengan ketentuan pihak imigrasi. Sesuai dengan janjinya tuan Bisseling nyonya Bisseling, Lancelot dan nona An, ikut terbang ke Indonesia untuk mengantar Hanifah kembali ke kampung halamannya. Mereka melakukan penerbangan siang tanpa transit, tidak ketinggalan Dandruff juga ikut serta dalam perjalanannya.


"Bagaimana, kalian sudah siap!" seru nyonya Bisseling yang sangat antusias.


"Siap, semua sudah siap." sahut nona An, Lancelot, tuan Bisseling dan juga Hanifah, sedangkan Dandruff sudah menunggu di teras.


Semua dokumen di pegang oleh Dandruff, Hanifah hanya tahu jadwal terbangnya lewat ticket yang di kirim di chat WhatsApp-nya. Perasaan Hanifah antara bahagia dan juga bimbang, yang dipikirkan oleh Hanifah saat ini tentang nona An.


"Aku, tahu kamu tidak bisa berpisah dengan cucuku, kamu jangan khawatir selamanya kalian tidak akan terpisah, di mana ada kamu di situ ada An, kami sendiri juga tidak tega memisahkan kamu dengan An, percayalah akan ada keajaiban di antara kalian, kebetulan An, sekolahnya libur sampai satu bulan itu artinya An bisa tinggal di Indonesia selama satu bulan." ucap nyonya Bisseling dengan senyum indahnya.


"Terima kasih nyonya paham dengan situasi ini." sahut Hanifah.


"Sekarang ayo berangkat, jangan sampai ketinggalan pesawat!" ajak Lancelot.


Mereka menuju bandara dengan perasaan bahagia, nona An yang begitu polos dia sangat senang sekali karena bisa bepergian bersama, sudah hampir tiga tahun ini pertama kalinya nona An, pergi bersama dengan keluarga jalan-jalan ke luar negeri. Sesampainya di bandara mereka langsung melakukan check in, setelah check in, Hanifah menemui temannya Tatuk yang sudah menunggunya dari tadi.

__ADS_1


"Han, beneran kamu tidak nambah kontrak lagi?" tanya Tatuk Berlin Ang Air mata.


"Iya Tuk, terima kasih Salam ini kamu sudah menjadi teman baikku, hati-hati kamu di sini jaga kesehatan." pesan Hanifah "Jika tujuanmu sudah tercapai cepat pulang aku akan selalu menunggumu di kampung halaman." pesan Hanifah lagi.


"Iya Han, hati-hati doakan ya habis kontrak ini aku bisa kembali ke kampung halaman, kita bisa bersama lagi." ucap Tatuk.


"Mama, kok nangis, mama jangan sedih kita kan mau jalan-jalan," tanya nona An.


"Nona yang manis, mama itu nangis karena bahagia, lihatlah." ucap Tatuk.


"Iya, apa yang di ucapkan tante benar mama bahagia karena bisa bertemu teman mama, dan sebentar lagi kita juga bisa jalan-jalan." sahut Hanifah menambahkan.


"Tante harus kembali bekerja Nona, selamat jalan-jalan sama mama ya, jaga mama." pesan Tatuk bahagia.


"Siap tante." sahut nona An antusias.

__ADS_1


"Baiklah Han, aku pergi dulu jangan lupa kabari aku jika sudah sampai Indonesia," pesan Tatuk pada Hanifah.


"Tentu, hati-hati Tuk, terima kasih banyak."


Tatuk dan Hanifah saling berpelukan untuk mengucapkan perpisahan, Tatuk tidak lupa juga berpamitan dengan keluarga Bisseling, semua keluarga Bisseling menyambut dengan ramah.


"Dia teman yang selalu kamu temuai apa kamu tidak punya teman lain selain dia?" tanya Lancelot.


"Bagaimana saya punya banyak teman sedangkan saya keluar rumah jarang sekali, baru-baru ini saja saya keluar itupun belum tentu sebulan sekali, tuan juga tidak mengijinkan saya untuk seeing libur, jadi yang akrab hanya satu itu saja." jawab Hanifah apa adanya.


"Maaf, aku begitu karena An, masih kecil dan kamu tahu sendiri An tidak bisa berpisah dengan kamu, setelah ink entah aku sendiri tidak tahu, bagaimana aku harus menjelaskan pada An." keluh Lancelot merewang.


"Gampang, tidak perlu di jelaskan, menikah saja mudahkan gak perlu repot cari alasan atau cari ganti, ayo masuk kita pikirkan nanti saja sekarang kita berangkat liburan dulu." ujar tuan Bisseling santai.


"Ayo, kita berangkat." ajak nyonya Bisseling.

__ADS_1


Mereka melangkah menuju pintu masuk pesawat, jarak yang mereka tempuh lumayan jauh, namun karena hati yang bahagia sehingga tanpa terasa mereka sudah berada di pintu masuk pesawat. Mereka tudak sampai menunggu lama, setelah duduk sepuluh menit pintu masuk pesawat sudah di buka, karena Lancelot menguatkan kursi roda maka Lancelot mendapatkan fasilitas khusus, sehingga Lancelot di suruh masuk lebih dulu dengan di dampingi oleh Dandruff.


Mereka sangat menikmati perjalanannya, seluruh keluarga Lancelot duduk di bangku VVIP, selain Hanifah, ada banyak pekerja Indonesia yang sedang melakukan perjalanan kembali ke tanah air entah itu sedang ciri atau seprti Hanifah yang tidak melanjutkan kontrak kerjanya memilih berhenti dan kembali ke tanah air untuk bisa berkumpul dengan keluarganya.


__ADS_2