
Gemerlap lampu malam hari di kota London benar-benar memukau apalagi bagi Hanifah yang tidak pernah melihat gemerlap dunia luar, Hanifah berdiri di depan jendela hingga satu jam, rasa kantuk dan capek hilang seketika. Kerlap kerlip sinar lampu dari apartemen, perhotelan, gedung-gedung pencakar langit serta jalan raya, bagai bintang bertaburan di atas langit.
"Subhanaallah, indah sekali," gumam Hanifah lirih penuh kegaguman" Tidak pernah aku sangka aku bisa menginjakan kaki di negara ini," gumam Hanifah berbicara sendiri.
Hanifah langsung menghubungi Tatuk temannya sebelum menghubungi Tatuk Hanifah mengirimkan sebuah foto dirinya yang sedang berdiri di depan jendela kamar hotel dan menampakkan pemandangan di luar hotel.
"Assalamu'alaikum, Tuk," sapa Hanifah lirih karena tidak mau mengganggu tidur nona An.
"Wa'alaikum salam, Han, ya Allah Han Indah sekali, kamu di mana?" tanya Tatuk di balik layar video call.
"Aku sekarang di London, lihat Indah sekali pemandangan di luar," ucap Hanifah mengedarkan kamera hand phone-nya di luar kamar.
"Masyaallah, Han, kapan kamu berangkat ke London, kenapa kamu gak bilang ke aku, kalau kamu ada apa-apa bagaimana?" oceh Tatuk yang tidak beraturan terkejut campur kagum.
"Kemarin lusa Tuk, panjang ceritanya, itupun aku gak tahu jika mau diajak ke sini, kemarin lusa pagi-pagi sekali majikanku ngajak aku keluar, ya aku kira cuma sarapan pagi di luar, eh malah berhenti di bandara, dalam otakku langsung berputar, aku kira aku mau di pecat, aku benar-benar bingung sampai domblong, entah berapa kali majikanku mamggil aku, tapi aku gak dengar, aku baru sadar pas di tarik sama majikanku, waktu itu aku benar-benar lemes Tuk." ujar Hanifah.
"Lalu bagaimana dengan visamu?" Tatuk semakin penasaran.
"Soal visa tiket segala macam mana aku tahu Tuk, kamu kan tahu sendiri bagaimana nasibku, semua serba di atur oleh majikan kirim uang untuk keluarga saja majikan yang ngurus," jelas Hanifah.
"Kamu benar-benar kuat ya, Han, tapi bersyukur sekali majikanmu baik, akupun juga kuat jika punya majikan baik, gak libur gak apa-apa," sahut Tatuk.
"Di syukuri saja Tuk, majikan memang baik, aku merasa berdosa dengan anakku, dia pergi disaat aku tidak ada di sampingnya, beruntung aku dapat job jaga bayi dan tidak memiliki ibu." jelas Hanifah.
"Masa, Han? gak punya ibu bagaimana Han?" tanya Tatuk.
"Momonganku gak nduwe mbok, wong ngertiku ya cuma anak sama bapaknya, pertama kali datang ya cuma anaknya saja, nggak tahu ibuknya ada di mana," ucap Hanifah.
__ADS_1
"La gimana ceritanya Han?" Tatuk masih penasaran.
"Aku gak tahu Tuk, aku juga gak mau banyak tanya yang penting aku kerja aku rawat anak itu seperti anakku ya sudah, sudah rezekiku begitu." sahut Hanifah.
"Han, aku tak masuk rumah dulu ini tadi dari ngantar anak sekolah, di tempatmu jam berapa sekarang?" tanya Tatuk pada Hanifah.
"Aku saja belum tidur Tuk, ini jam dua belas malam, acara ulang tahunnya anakku baru selesai, baju juga belum ganti Tuk," ucap Hanifah.
"Rezekimu Han, bajumu bagus sekali, kamu nginep di mana?" tanya Tatuk tidak jadi mematikan panggilannya.
"Malam ini nginep di hotel, tapi kemarin-kemarin aku nginep di rumah adik e pakku, majikanku benar-benar kaya luar biasa tuk, rumah e adik e pakku ae gak kalah gede ama rumahe pakku." Hanifah malah melanjutkan ceritanya.
"Pantesan mereka menggaji kamu itu tinggi, di samping kaya pasti orangnya baik juga," ucap tatuk.
"Selama aku bekerja di sini aku rasa mereka baik, tapi entahlah akuksn juga baru setahun bekerja di sini, dan akupun jarang ngobrol dengan pekerja lainnya, paling aku hanya ngobrol dengan kak Joyce dan suster, sebab di rumah pun aku di batasi, pokoknya ketat sekali aturan kerja di sini, Tuk." curhat Hanifah.
"Iyo, Tuk, aku istirahat mau tidur dulu kamu cepetan kerja, kalau kamu butuh uang jangan sungkan bilang ke aku Tuk," ucap Hanifah.
"Aku tuh butuh nraktir kamu makan, lusa kamu-kan ulang tahun, tapi kapan ya?, sekarang kamunya malah di London pisan." ucap Tatuk.
"Kapan-kapan saja kamu traktir aku, jika Aku di rumah, kalau di sini tangeh gone lumun Tuk." ucap Hanifah di iringi tawa kecil.
Tatuk juga ikut tertawa "Wes kamu cepat tidur aku mau kerja, assalamu'alaikum." putus Tatuk karena sudah sepuluh menit berhenti di taman apartemen.
"Wa'alaikum salam."
Hanifah juga memutus panggilan telponnya, setelaha meletakkan hand phone-nya Hanifah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan juga ganti baju, selesai mengganti baju Hanifah langsung merebahkan diri di atas kasur dekat dengan nona An. Hanifah tidak langsung tidur dia malah senyum senyum sendiri sambil menikmati betapa nyenyaknya nona An, Hanifah membaik lembut wajah nona An.
__ADS_1
"Setahun lalu kamu masih sangat merah, masih ku ingat tangismu, tidak terasa kamu sudah setahun, tumbuh menjadi anak yang Sholehah ya nona, maaf jika mama tidak bisa melihat dan mendampingimu tumbuh sampai kamu dewasa, cepat atau lambat mama akan kembali ke negara mama." ucap Hanifah lirih.
Tanpa Hanifah sadari air matanya membasahi pipinya, rasa sesak nenyelimuti hatinya jika perpisahan itu terjadi. Nona An menggeliat tidak beberapa saat lalu terdengar rengekan nona An, Hanifah berusaha membelai lembut nona An" Tidur sayang mama ada di sini, jangan khawatir semua menyayangi nona, terutama Papa, tidur ya sayang, kamu harus bahagia karena hari ini hari bahagia nona, semua orang bahagia untuk nona." Hanifah berusaha berbicara lembut sambil terus membelai nona An. Tidak berapa lama nona An kembali terlelap dalam mimpinya, Hanifah juga menyusul nona An untuk menuju alam mimpi sambil memeluk nona An.
Lancelot dan beberapa temannya masih berada di tempat pesta, di tengah pesta Lancelot menerima sebuah panggil dari nomor yang tidak di kenal, namun demikian Lancelot tahu jika itu nomornha A ling, tanpa basa nasi Lancelot langsung menjawab panggilan dari A ling.
"Selamat malam nona A ling, bagaimana pestanya?" tanya Lancelot tetap tenanh di balik telepon.
"Rupanya kamu terlalu takut jika aku akan mengacaukan pesta putrimu, nyalimu terlalu kecil untuk menghadapi aku, Lanc." ejek A ling.
"Sungguh?" Lancelot tetap tenang sambil memainkan jarinya di atas meja.
"Ya, buktinya kamu tidak ada di pesta ulang tahun putrimu." ucap A ling asal.
"Kenapa memang, apa salahnya aku membuat dua pesta ulang tahun untuk putriku, oh ya dan lagi ada hal yang ingin aku katakan padamu, selain ingin membahagiakan putriku, aku akan merayakan ulang tahun kekasihku, karena aku anggap ini tahun yang sangat spesial karena aku sudah me II segalanya so aku buat pesta sangat meriah di dua negara, kenapa cemburu?" ucap Lancelot tenang.
"Sialan!" seru A ling di balik telephon.
"Aku tahu kamu sedang mabuk A ling, segera tidurlah, oh ya aku lupa kalau laku tidak akan bisa tidur sebelum menikmati ranjang panas, jangan buang-buang waktumu untuk menghubungiku, sebab aku sudah tidak tertarik lagi denganmu."
"Bedebah kau Lanc, aku pastikan kekasihmu akan aku buat sengsara!" seru A ling penuh amarah.
A ling langsung membanting hand phone-nya di atas ranjang di hotel tempatnya menginap.
"A ling, A ling, kau tidak pernah berubah, " gumam Lancelot lirih "Aku tunggu permainanmu."
"A... a... a... a... a...." A ling terduduk di sofa dan menjambak rambutnya frustasi "Wanita manapun tidak akan Aku biarkan bisa hidup denganmu Lanc."
__ADS_1