Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 166


__ADS_3

"Mendapatkanmu itu sangat sulit, sesulit-sulitnya memenangkan tander proyek masih sulit menaklukan hatimu, kini aku bersyukur alhamdulillah, semoga kita bisa mengarungi bahtera rumah tangga bersama, satu bulan yang lalu aku tidur di kamar ini hanya berdua dengan An, dan sekarang tidak ada jarak lagi diantara kita, padahal bukan pertama kalinya aku tidur sekamar atau bahkan seranjang dengan kamu Mah, tapi aku biasa, saja, namun kali ini hatiku berdebar kencang Ma." ucap Lancelot.


Tanpa Lancelot sadari Hanifah sudah terbuai dengan mimpinya, bersama dengan nona An, mendapati dua orang di sebelahnya sidah tidur pulas, Lancelot juga ikut memejamkan matanya, sebelum tidur Lancelot memberanikan diri memberi kecupan sayang untuk Hanifah dan nona An.


"Ternyata tadi Aku ngomong sama tembok, di ajak bicara situ malah tidur pulas." gerutu Lancelot sambil tersenyum miris "Entah apa yang ada dalam pikiranku, bagaimana bisa aku justru jatuh cinta pada wanita yang benar-benar jauh dari kriteriaku sebelumnya, namun demikian kamu itu ibarat berlian yang tersimpan do etalase, orang hanya bisa melihat dan tidak dapat menyentuh apalagi memelikimu, jika tidak di bayar mahal tidak akan di lepas oleh pemiliknya, dulu tidak ada cita-citaku untuk menikah dengan wanita dari manca negara, sama sekali tidak ada ternyata jodohku ibu susu dari anakku, anak yang tidak pernah kusentuh ibunya, wajahnya juga tidak tahu, entahlah dulu aku memang gila, dan selalu mengikuti emosi sesaat." gumam Lancelot sambil memandangi dua wanita yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Waktu yang seharusnya menjadi milik mereka berdua, nyatanya sampai saat ini tetap bertiga dengan nona An. Lancelot berusaha memejamkan matanya walau sedikit sulit karena Lancelot bukan tipe orang yang rajin tidur siang. Akhirnya Lancelot melingkarkan tangannya pada tubuh nona An, lambat laun Lancelot juga ikut menyusul Hanifah dan nona An, masuk dalam buian ke dalam mimpi.


Prenikahan mereka berdua di gelar sangat meriah di kampung halaman Hanifah, di dapur terlihat jelas selaku betapa rukunnya tetangga Hanifah saling babu-membahu untuk bantuan tetangga yang punya hajat, Garnier, tuan dan nyonya Bisseling tidak kembali ke villa malah mereka bersantai duduk di salah satu sudut rumah orang tua Hanifah, mereka ngobrol ringan sedangkan orang tua Hanifah, menyalami para tamu yang selalu datang dan pulang, silih berganti. Garnier tidak henti-hentinya membuat video kenang-kenangan.


"Ma, dari tadi Aku tidak melihat Lancelot, Hanifah, dan juga An, kemana ya mereka bertiga?" tanya Garnier penasaran.

__ADS_1


"Aku, kira adikku itu tidak akan gugup, saat menikah melihat tingkahnya dia selama ini, terlalu percaya diri, mama masih ingat waktu mau menjemput An, dia bilang ke mama dan papa sebelum berangkat jemput An, kita semua tidak di beri tahu sebelumnya, jujur saja Ma di balik itu semua aku juga bersyukur karena berkat hadirnya An, adikku mendapatkan tambatan hatinya, sungguh Ma, Pa, Nier tidak pernah menyangka jika Lancelot, benar-benar menikah, Lancelot benar-benar takluk dengan seorang wanita yang sangat sederhana dadi penampilannya namun sangat istimewa hatinya." ucap Garnier berulang-ulang, sampai Garnier bingung memilih kata yang tepat untuk mengutarakan atas kebahagiaannya, sebuah rasa yang di miliki bukan saja oleh Garnier, namun juga tuan dan nyonya Bisseling.


"Ya, dan karena ulahnya, papamu marah sama Lancelot, sampai hampir satu tahun, kamu tahu papamu menyentuh An, pertama kali saat ulang tahun An, yang pertama, itupun masih sangat terpaksa, dan padahal dulu Mama memperkenalkan banyak wanita pada adikmu, naas dan mengenaskan semua di tolak, aku malah kena caci maki adikmu, dia bilang pilihanku asal saja, tidak benar-benar di seleksi, dan memang adikmu itu ada benarnya, mayoritas wanita yang pernah aku kenalkan ke Lancelot semua suka dengan dunia malam dan suka shopping, ya mama sih gak masalah jika hanya shopping, yang tidak baik itu tentang dunia malam, sebab jika sudah kecanduan dunia malam sangat sulit untuk keluar dari dunia tersebut." jelas nyonya Bisseling panjang lebar.


"Ya, memang benar adanya, entah pertama kali papa melihat Hanifah, seperti sudah ada ikatan batin dan seperti kekuarga sendiri," tambah tuan Bisseling.

__ADS_1


"Nyatanya begitu kenal Hani, Lancelot jauh lebih baik, lebih sopan terhadap orang tua, dan Nier, rasa ya pa ma, Lanc, itu seperti jarang emosi, tidak seperti dulu pokoknya, dia sekarang bisa mengatur emosinya lebih stabil dan lebih tenang." tambah Garnier memuji perubahan Lancelot yang sangat drastis.


"Adikmu, itu ibarat kata tidak ada malu ataupun gengsi di saat mengejar Hanifah, sekarang sudah dapat ya tidak mungkin di lepas, kayak gini, masih siang sudah sibuk di dalam kamar." celoteh nyonya Bisseling sambil menikmati hidangan yang ada di depannya.


__ADS_2