Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 179


__ADS_3

Sepulang dari kegiatan sekolah nona An, mereka tidak langsung pulang Lancelot mengajak mereka ke kantor, karena ada dokumen yang harus diambilnya, karena hari sabtu kantor dalam keadaan sangat sepi karena para karyawan pada libur, kecuali mereka yang sedang lembur. Lancelot memasuki kantornya dengan di ikuti oleh Hanifah dan nona An, kedatangan Lancelot di kantor tidak ada yang tahu, setelah urusannya selesai Lancelot kembali keluar, di saat menunggu lift, mereka bertemu dengan salah satu sekretaris Lancelot yang sedang lembur. Setelah saling sapa Lancelot langsung mengajak Hanifah untuk segera pergi.


Karena hari sudah sangat siang, Lancelot mengajak Hanifah dan nona An, untuk makan siang di restaurant yang ada di hotelnya. Seperti biasa Lancelot sebelum datang pasti sudah memesan tempat dan beberapa menu, yang sesuai dengan mereka. Hari restaurant sangat rame karena, beryepatan dengan dengan jadi minggu, Lancelot sengaja tidak mengundang siapun karena Lancelot ingin menghabiskan waktu bersama dengan keluarga kecilnya.


"Resepsinya nanti tidak jadi di hotel ini, mama dan papa mengalihkannya di kapal pesiar, kebetulan dapat sponsor dari perusahaan kapal tersebut." jelas Lancelot.


"Berapa lama?" tanya Hanifah.


"Semalam saja, dan kapalnya tidak jalan hanya berhenti di tepi pelabuhan." jelas Lancelot.


"Syukurlah kalau kapalnya tidak jalan sebenarnya saya takut dengan kapal laut." ucap Hanifah jujur.


"Ada aku jangan takut." ucap Lancelot.


Mereka bertiga sangat bahagia sekali bisa menikmati makan siang bersama. Selesai makan siang mereka mengunjungi tuan dan nyonya Bisseling di kediaman Bisseling, sebelum datang Lancelot sudah memberitahukan pada nyonya Bisseling jika mereka mau dateng ke rumah. Mobil yang di tumpangi oleh Lancelot sudah terparkir rapi di halaman rumah keluarga Bisseling, nona An, begitu keluar dari mobil dia langsung berlari masuk ke dalam rumah meninggalkan Hanifah dan Lancelot.


"Tidak pernah saya sangka, saya bakal balik ke sini lagi." ucap Hanifah begitu turun dari mobil.


"Aku sudah yakin bahwa kamu bakal tetap di sini, dan sekarang bukan lagi sebagai mamanya An, saja tapi sekarang sudah sebagai ibu negara di istana Lancelot, ayo masuk jangan bengong saja, papa dan mama sudah tidak sabar ingin bertemu dengan menantunya yang paling cantik." Lancelot menggenggam erat jemari Hanifah.

__ADS_1


"Tuan." ucap Hanifah merasa tidak nyaman dengan genggaman jemati Lancelot.


"Kamu harus membiasakan seperti ini, jemarimu tidak akan Aku biarkan kosong, karena dengan jemari ini aku akan nengisinya." ucap Lancelot menunjukan genggaman jemarinya pada Hanifah.


"Ehm... ehm." nyonya Bisseling berdehem.


"Mama!" seru Lancelot dan Hanifah bersamaan.


Lancelot dan Hanifah segera menghampiri nyonya Bisseling yang sudah berdiri di teras rumah,Hanifah dan Lancelot bersalaman dan mencium tangan nyonya Bisseling penuh hormat.


"Masuklah, atau kalian mau kemana gitu biar An, di sini saja." perintah nyonya Bisseling.


"Tujuan kita dari tadi memang kesini kok Ma, kami tidak ada acara kemana-mana mumpung An, masih libur kami ingin menemani An, jarang-jarang kita bisa punya seperti sekarang." ucap Lancelot.


"Maaf Ma, jika sikap saya dulu itu membuat mama sakit hati." ucap Hanifah merasa tidak enak.


"Ya, saking sakit hatinya aku paksa aku sampai jatuh cinta padamu, waktu aku ngadu ke papamu malah papamu bela in kamu." jelas nyonya Bisseling.


"Masa, Ma?" tanya Lancelot tidak percaya.

__ADS_1


"Iya, dari awal Hani yang merawat aan, papamu langsung setuju, cuma karena waktu itu papamu masih marah makanya dia cuek, saja lihatlah sekarang betapa senangnya papamu pada An." ucap nyonya Bisseling menunjukan ke arah tuan Bisseling dan nona An, yang sedang bermain air mrbyirami tanaman di belakang.


Hanifah dan Lancelot menghampiri tuan Bisseling, Hanifah dan Lancelot menyalami dan mencium tangan tuan Bisseling penuh hormat.


"Rasanya benar-benar lega, anak-anak papa sudah bahagia dengan keluarganya, Lanc, sekarang kamu tidak lagi seorang papa saja tapi kamu juga seorang suami, sayangi dan cintai istrimu jika kamu ingin karirmu maju pesat, dan jangan pernah meninggalkan istrimu apapun itu keadannya, Han, dampingi terus putraku, aku yakin kamu tahu apa yang harus kamu lakukan." pesan tuan Bisseling bijak.


"Iya, pa." sahut Lancelot dan Hanifah bersamaan.


"Rencana untuk bulan mau kalian kapan dan di mana?" tanya tuan Bisseling.


"Belum tahu Pa, masih menyesuakan jadwal, lagian Han, mana bisa meninggalkan An, dalam waktu yang lama," jawab Lancelot jujur.


"Bagaimanapun kalian berdua harus punya khusus tanpa An, papa ingatkan kalian harus bisa saling menahami, untuk Hani, papa tidak begitu khawatir, karena papa tahu pikiran Hani itu mirip dengan mamamu," jelas tuan Bisseling.


"Kalau begitu mudah bagiku, tinggal aku belajar sama papa saja." ujar Lancelot.


"Tuan, Nyonya saladnya." pembantu keluargs Bisseling menyuguhkan salad buah dan di taruh di atas meja.


"Ini salad mama sendiri yang buat khusus untuk menantu mama." ucap nyonya Bisseling senang.

__ADS_1


"Terima kasih Ma," sahut Hanifah dengan senyum penuh kebahagiaan.


"Untuk papa mana?" goda tuan Bisseling " An sini!" seru tuan Bisseling memanggil nona An, yang sedang asyik bermain air dengan di temani salah satu pekerjanya.


__ADS_2