Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 206


__ADS_3

Kesehatan Hanifah belum pulih benar karena setelah keguguran, Hanifah menjalani kuret, tubuh Hanifah masih lemas, di tambah Lancelot yang semakin over protective membuat Hanifah, tidak begitu nyaman dan curiga, tanpa Lancelot mengatakan sesuatu Hanifah dapat membaca jika Lancelot menyebunyikan sesuatu.


"Dok, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Hanifah, pada dokter yang memeriksanya hari ini


"Saya harap nyonya, lebih banyak bersabar." jawab dokter.


Hanifah bingung dengan jawaban dokter yang bertele-tele.


"Nanti, papa kasih tahu." sahut Lancelot lembut sambil membelai pucuk kepala Hanifah.


"Kalau begitu saya pamit Tuan , Nyonya, ada apa-apa segera hubungi kami." pamit dokter setelah memeriksa Hanifah.


Dokter pergi meninggalkan ruangan yang di tempati Hanifah, di dalam ruangan hanya ada Lancelot dan Hanifah saja.


"Pa, sebenarnya ada apa? apa yang papa rahasia kan dari mama?" tanya Hanifah semakin penasaran.


"Sebenarnya.... " Lancelot berhenti berbicara, lidahnya kelu tenggorokkanya tercekat.


"Pa, inshaallah mama kuat, katakan pa ada apa sebenarnya?" tanya Hanifah semakin penasaran.

__ADS_1


"Kapan mama terakir datang bulan?" tanya Lancelot berhati-hati.


"Astaqfirullah hal'adzim, mama lupa." jawab Hanifah jujur "Ada apa Pa?" tanya Hanifah semakin penasaran.


"Maafkan papa yang tidak bisa menjaga kalian dengan baik," ucap Lancelot dengan mata yang sudah memerah.


"Pa, tolong jangan bikin mama bingung, apa mama mengidap penyakit yang berbahaya?" tanya Hanifah, semakin gusar.


"Mama baik-baik saja, sebenarnya... sebenarnya mama keguguran, maafkan papa yang tidak bisa menjaga kalian dengan baik." Lancelot mengatakan dengan penuh kesedihan mendalam.


"Innalilahi wainnalilahi rojiun," Hanifah terkejut "Aku hamil?" ucap Hanifah lirih, air mata Hanifah, langsung mengalir sedih.


Hanifah hanya diam, dia masih belum percaya dengan berita yang di sampaikan oleh Lancelot barusan. Ruangan yang Hanifah tempati sangat hening, Hanifah dan Lancelot masih di selimut duka yang mendalam atas apa yang barusan terjadi.


Satu minggu lebih Hanifah menjalani perawatan, setelah semua stabil dan membaik hari ini Hanifah, di ijinkan pulang, tuan dan nyonya Bisseling ikut menjemput kepulangan Hanifah.


Tuan dan nyonya Bisseling meminta agar Hanifah tinggal di rumahnya selama masa penyembuhan, tuan dan nyonya Bisseling, semakin menyayangi Hanifah.


Satu bulan sudah Hanifah tinggal di rumah tuan dan nyonya Bisseling, kesehatan Hanifah juga sudah kembali normal.

__ADS_1


"Sebaiknya kalian cepat jadwalkan untuk bulan madu, sudah hampir setengah tahun menikah tapi kalian belum bulan madu." perintah nyonya Bisseling saat mereka duduk santai di ruang keluarga.


"Sudah Lanc rencanakan, dua minggu lagi kami berangkat." sahut Lancelot.


"Dua minggu lagi, bagaimana dengan sekolah An, bukankah An, tidak libur sekolah." sahut Hanifah.


"Han, Han, mana ada bulan madu membawa anak, kalau membawa anak namanya bukan bulan madu tapi wisata keluarga." sahut nyonya Bisseling.


"Lalu siapa yang menjaga An?" tanya Hanifah.


"An, biar di sini sama kita, kalian pergilah bulan madu, syukur-syukur sepulang dari bulan madu mendapat rejeki lagi, agar An, tidak kesepian dan lagi An, biar bisa tetap tinggal bersama kami, kalian cukup fokus pada adik-adik An." ucap tuan Bisseling.


"An, bagaimana? kamu mau tinggal sana oma dan opa kan?" goda nyonya Bisseling.


"Ehmm... mau kalau sama mama juga sepelti sekalang." sahut An.


"Rumah ini terlalu besar kalau yang menempati hanya kami berdua." ujar tuan Bisseling.


"Semoga kami di beri rejeki anak yang banyak, minimal tiga lagi." sahut Lancelot.

__ADS_1


Suasana rumah sangat hangat, hubungan antara Lancelot dan kedua orang tuanya semakin dekat tanpa sekat, sifat Lancelot dan perikaku Lancelot juga banyak berubah, Lancelot menjadi lelaki yang sangat santun.


__ADS_2