Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 47


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Lancelot sudah siap dan juga sudah rapi namun kali ini bukan memakai baju kantornya namun memamakai baju biasa. Hanifah dan seluruh pekerja lainnya melakukan aktifitasnya seperti biasa tidak ada yang aneh. Lancelot menghampiri Hanifah dan putrinya yang kini sedang berada di dalam kamar nona An, karena nona An baru saja menyelesaikan kegiatan minum ASI-nya.


"Selamat pagi tuan !" sapa Hanifah pada Lancelot sopan.


"Pagi, Han, sejam lagi kita akan keluar dan sekarang bersiap-siaplah." perintah dingin Lancelot pada Hanifah.


"Kita mau kemana tuan?" tanya Hanifah penasaran karena tidak biasanya Lancelot mengajak Hanifah dan nona An pagi-pagi sekali dan mendadak sekali.


"Yang penting kamu dan anakku bersiap-siaplah!" perintah Lancelot dingin.


"Maksud saya tanya itu gini tuan, kita mau pergi ke mana agar saya bisa menyesuaikan dengan pakaian kami." jelas Hanifah sedikit ragu.


"Jalan-jalan, karena semua sudah di persiapan oleh Dandruff dan juga kak Nier untuk keperluan kamu dan keperluan putriku, jadi kalian tinggal ganti baju saja dan menunggu instruksi dariku." perintah Lancelot datar.


"Baik tuan." sahut Hanifah, mengalah tidak lagi bertanya.


"Oh ya, jangan lupa pakai, pakaian santai dan bagus." perintah Lancelot lagi sebelum meninggalkan Hanifah dan nona An.


"Baik, Tuan." sahut Hanifah sopan.


Hanifah segera melaksanakan instruksi dari Lancelot, Hanifah mengganti baju yang dipakainya dan juga mengganti baju nona An, tidak sampai satu jam semua sudah selesai Hanifah turun menemui Lancelot yang sudah dari tadi menunggunya di ruang tengah. Penampilan Hanifah kali ini dengan rambut dikucir kuda tentunya dengan polesan wajah ala kadarnya, serta memakai dres lengan panjang dan panjang dres sebetis, tidak lupa stocking warna kulit yang selalu membalut kakinya agar terlindung dari hawa dingin AC maupun sengatan matahari jika berada di luar ruangan.


"Selamat pagi tuan kami sudah siap," lapor Hanifah ketika sudah berada di dekat Lancelot sambil menggendong nona An.


Lancelot lagi-lagi tertegun melihat penampilan Hanifah, dan juga putrinya mereka berdua memakai warna senada dan pastinya sangat serasi ditambah nona An juga dikucir rambutnya, sebab nona An juga memilki warna rambut sama hitam dan juga ikal persis dengan rambut Hanifah, warna peach bunga-bunga kecil itulah yang menjadi pilihan Hanifah untuk dirinya maupun nona An.

__ADS_1


"Eh... kalian sudah siap," sahut Lancelot sedikit gugup tentu dengan pandangan penuh kegaguman melihat keserasian Hanifah dan nona An, sayangnya yang menjadi pusat perhatian sama sekali tidak peka.


"Iya, tuan." sahut Hanifah santai.


"Sekarang kita berangkat." ajak Lancelot langsung bangkit berdiri "Biar aku gendong putriku." Lancelot mengambil nona An dari gendongan Hanifah.


"Silakan, Tuan." Hanifah memberikan nona An pada Lancelot.


Nona An, terlihat bahagia begitu berada di dalam gendongan papanya, Lancelot berjalan menuju garasi mobil dengan bersenandung gembira sambil menggoda Putri kecilnya sedangkan Hanifah berjalan di belakang Lancelot, sesampainya di mobil ternyata hanya Hanifah, Lancelot nona An serta snag sopir yang masuk ke dalam mobil.


"Tuan, apa suster tidak ikut?" tanya Hanifah penasaran, karena di dalam mobil hanya ada tas botol susu sedangkan susternya tidak ada, padahal biasanya suster akan menunggu di dalam mobil ketika Hanifah dan nona An bersiap-siap, sebab sang suster, yang kebagian mempersiapkan peralatan bayi jika akan melakukan perjalanan.


"Apa kamu keberatan jika hanya kamu yang menjaga putriku?" Lancelot malah balik tanya pada Hanifah.


"Bagus jika kamu tidak keberatan." sahut Lancelot tetap fokus pada putrinya.


Lancelot segera menerintahkan sopirnya untuk mengemudikan mobilnya, Hanifah sedikit heran sebab tidak biasanya Lancelot menggunakan sopir saat keluar, namun Hanifah tetap diam tidak berani bertanya banyak.


"Oh, ya maaf tuan KTP saya masih ada pada tuan kan?" tanya Hanifah ketika teringat akan Ktp-nya yang di minta Lancelot beberapa waktu lalu.


"Masih," jawab Lancelot enteng.


"Nanti jangan lupa kasumihkan ke saya tuan." pinta Hanifah.


"Ya, nanti." jawab Lancelot enteng.

__ADS_1


Hanifah dan Lancelot kembali diam tidak ada percakapan yang berarti, yang ada hanya saling bercengkerama menggoda nona An sekarang nona An terlihat bahagia dan sangat menikmati kebersamaannya dengan papanya.


"Ma ma ma ma ma." celoteh nona An memanggil Hanifah.


"Pa pa," ucap Lancelot mengajari anaknya.


"Ma ma ma ma ma." celoteh nona An lagi.


"Pa pa pa pa." nona An tetap berceloteh dengan panggilan mama.


"Anak manis ayo panggil papa pa... pa... pa." Lancelot menekankan kata papa pada nona An.


Namun nona An tetap berceloteh kata mama, berkali kali Lancelot mengajari nona An dengan kata papa namun nona An tetap pada pendiriannya hanya kata mama yang keluar dari mulut mungil nona An. Lancelot sedikit kesal karena nona An tetap tidak mengucapkan kata papa, Hanifah yang melihat reaksi wajah Lancelot merasa kasihan di bujuknya nona An untukengucap kata papa.


"Anak mama yang manis, ayo pangghi Pa Pa, ayo ikuti mama." rayu Hanifah lembut sambil membelai kepala nian An yang berada dalam pangkuan Lancelot.


"Ma ma ma." mulut nona An tetap mengeluarkan kata mama.


"Ayo sayang ikuti mulut mama, pa pa pa pa." rayu Hanifah lagi lembut.


Setelah ke sekian kalinya Hanifah menuntun nona An akhirnya nona An mengucapkan kata papa.


"Pa pa." sebuah kata yang keluar dari mulut mungil nona An.


Lancelot yang pertama kalinya mendengar nona An mengucap kata papa langsung tersenyum girang tiada terkira, Lancelot bukanya tidak tahu dari video CCTV Hanifah sebenarnya juga sudah mengajari nona An untuk melafalkan kata papa namun bum pernah berhasil, dan kali ini pertama kalinya Lancelot mendapat panggilan papa dari Putri tunglanya. Mobil yang mereka tumpangi setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit mobil tesla keluaran terbaru tersebut berhenti di parkiran Bandara Internasional Cek lap kok Hongkong.

__ADS_1


__ADS_2