
"Nyonya Tuan, bagaimana kata dokter?" Hanifah sangat antusias ingin mengetahui keadaan Lancelot.
"Semua, baik-baik saja secepatnya Lanc, akan pulih namun kami sangat membutuhkan bantuanmu Han," ucap nyonya Bisseling.
"Katakan saja Nyonya, saya akan berusaha untuk membantu Tuan Lanc." ucap Hanifah bersungguh-sungguh.
"Kami percaya padamu Han, mulai besok Lanc, mulai melakukan terapi dan dokter meminta kamu untuk selalu menemani Lancelot, ketika Lanc melakukan terapi, setiap jam sepuluh maju harus sudah sampai sini, jadi dari mengantar An, sekolah kamu bisa langsung datang ke sini."jekas nyinhs Bisseling pada Hanifah.
"Baik, Nyonya akan saya lakukan." sahut Hanifah sangat antusias.
"Sekarang kita pulang dulu, nanti sore kita ke sini lagi, kasihan An, sudah capek, sekarang waktunya tidur kan." ucap nyonya Bisseling.
"Iya, nyonya, Putri mana ayo kita pulang dulu." Hanifah menggendong nona An, yang sudah terlihat tidak bertenags karena ngantuk.
"Han, biar di gendong sama bodyguard." perintah nyonya Bisseling.
__ADS_1
"Tidak usah nyonya, lagian nona An juga tidak mungkin mahu," jawab Hanifah.
"An, di gendong Om botak ya, kasihan mama Hani, kecapek an." rayu nyonya Bisseling.
"No, no, An, gak au ama om botak." sahut nona An, memeluk erat Hanifah.
Nyonya Bisseling, Hanifah dan bodyguardnya tertawa mendengar ocehan nona An, nona An selalu memanggil om Botak, kepada bodyguard khususnya. Bodyguard yang mengawal Hanifah dan nona An, rambutnya di cukur habis tidak ada rambutnya, sehingga nona An, mengenalnya dengan sebutan om botak.
"Apa kita pulang sekarang nyonya?" tanya pm Botak.
"Iya, kita pulang sekarang, An sudah tidak punya energi, sebab sebentar lagi waktunya dia untuk tidur." ucap Hanifah.
Hanifah, menggendong nona An, untuk masuk ke dalam rumah, suster yang merawatnya membawakan tas dan peralatan nona An, lainya untuk di taruh di kamarnya. Hanifah segera membawa nona An, masuk ke kamarnya dan menidurkan nona An, di atas ranjang. Nyonya Bisseling mengikuti Hanifah masuk di kamarnya, selesai menaruh nona An, Hanifah mengganti pakiannya dan memeriksa PR, nona An. PR nona An, ada yang tulisan coba dan inggris, jika tulisan inggris Hanifah masih bisa, namin yang tulisan cina membuat Hanifah berpikir keras, karena Hanifah sendiri baru belajar tulisan Cina menjelang nona An masuk sekolah.
Nyonya Bisseling mendatangkan secara khusus guru privat untuk mengajar Hanifah, belajar tulisan cina dan juga bahasa kantonis, Nyonya dan tuan Bisseling mencurahkan perhatiannya pada Hanifah dan nona An, intu mengalihkan kepedihannya atas apa yang menimpa Lancelot.
__ADS_1
"Aku, capek sekali Han." keluh nyonya Bisseling.
"Biar, Han pijiti seperti biasa nyonya." Hanifah menawarkan diri untuk memijat nyonya Bisseling, tanpa menunggu jawaban dari nyonya Bisseling, Hanifah sudah mulai memijat punggung nyonya Bisseling.
"Terima kasih Han, tanganmu enak sekali, setiap kali habis kamu pijiti tubuh ini rasanya benar-benar enteng," ucap nyonya Bisseling yang sudah menikmati pijaran Hanifah.
"Bersyukurlah jika cocok, takutnya pijitan saya tidak cocok di tubuh nyonya." ucap Hanifah basa-nasi.
"Enak, sekali tidak terasa ya Han, kamu sudah hampir tiga tahun kerja di sini, jika Lancelot sudah sembuh, setelah kontrak ini, kamu boleh ambil cuti, dan kita bisa sekalian berlibur di Bali, dan di kotamu bersama-sama, Lanc bilang kotamu sangat Indah, dan tidak ada panas katanya kotamu selalu sejuk." ucap nyonya Bisseling.
"Tuan, pernah ke kota saya, kapan?" Hanifah terkejut mendengar ucapan dari nyonya Bisseling.
"Sebelum pergi ke Cina, dan sebelum kecelaan itu terjadi." jawab nyonya Bisseling sambil menikmati pijatan dayi Hanifah.
"Oh, bukannya waktu itu tuan sedang menggarap proyek di Bali?" tanya Hanifah penasaran.
__ADS_1
"Benar, namun Lancelot juga singgah di kotamu selama empat hari, dan yang mengantar paketmu dulu, itu ya Lancelot, sendiri dengan Dandruff, tentu di temani oleh rekan kerjanya." jelas nyonya Bisseling.
Hanifah tidak menjawab mendengar ucapan dari nyonya Bisseling.