
Hanifah merasa heran dan terkejut begitu turun dari mobil, Hanifah tahu jika ini adalah Bandara Internasional Cek lap kok , Hanifah sudah pasrah tidak berani bertanya apa-apa, dalam pikiran Hanifah mungkin dia akan di pecat saat ini juga secara sepihak dan dipulangkan ke Indonesia tanpa pesangon dan juga tanpa ada hak-hak lainya yang wajib diterima dari majikannya, Hanifah tidak langsung berjalan dia sedikit terpaku sampai Lancelot memanggil pun Hanifah sampai tidak dengar, Hanifah baru benar-benar sadar ketika tangannya ditarik oleh Lancelot.
"Han, ayo jalan!" perintah Lancelot sambil menggendong nona An putrinya.
Hanifah masih diam terpaku dengan pikiran berkecamuk"Tuan maaf apa Tuan memecat saya dan memulangkan saya ke Indonesia?" tanya Hanifah berusaha memberanikan diri dengan tatapan sendu penuh tanya.
"Jadi ini yang membuatmu tidak mau jalan?" tanya Lancelot masih dengan wajah datarnya.
Hanifah tidak menjawab hanya mengangguk pasrah.
"Hai kalian sudah datang, ayo sudah aku tunggu dari tadi" sapa nyonya Bisseling menghampiri mereka dengan senyum merekah.
"Selamat pagi nyonya," sapa Hanifah sopan.
"Kalian serasi sekali," nyonya Bisseling malah memuji mereka bertiga "Ayo cepetan check in!" perintah nyonya Bisseling.
Lancelot tidak menjawab pertanyaan Hanifah, akhirnya Hanifah bertanya pada nyonya Bisseling dari nyonya Bisseling Hanifah tahu jika mereka akan pergi ke London, kini Hanifah bernafas dengan lega sebab tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang pekerjaannya. Nyonya Bisseling juga mengatakan jika semua keperluan nona Ab dan Hanifah semua sudah disiapkan oleh mereka, karena mereka merahasiakan kepergiannya ke London dari siapapun, dan mereka di London juga hanya seminggu saja.
Mereka berempat memasuki bandara, dengan wajah sudah kembali gembira, begitu sampai di dekat counter check in Lancelot mengeluarkan semua dokumen yang diperlukan untuk melakukan perjalan. Saat mau check, dokumen Hanifah, nona An dan milik Lancelot sendiri dijadikan satu untuk memudahkan prosesnya, pasalnya untuk pergi keluar negeri bagi Hanifah bukan perkara gampang jika tidak bersama dengan majikan, sebab jika mau melakukan perjalanan keluar negeri secara pribadi harus memiliki tabungan yang banyak atau ada sponsor.
Mereka bisa melewati imigrasi dengan mudah, British London salah satu pesawat yang menjadi pilihan Lancelot untuk melakukan perjalanan menuju salah satu kota ternama yang ada di negara London. Lancelot memilih tempat duduk kelas VVIP untuk kenyamanan semuanya, ini adalah pertama kalinya Hanifah melakukan perjalanan paling lama dengan pesawat terbang.
__ADS_1
Penerbangan dari bandara udara Hongkong menuju London memakan waktu kurang lebih sekitar sembilan jam lebih tiga puluh menit. Selama perjalan dalam pesawat nyonya Bisseling dan Lancelot begitu aktif menjaga dan membantu Hanifah dalam merawat nona An. Nona An yang notabennya masih sangat kecil kali ini dis juga tidak begitu rewel malah nona An seringnya tidur.
"Han, istirahatlah masih ada beberapa jam lagi, mumpung An lagi tidur!" perintah Lancelot pada Hanifah, kini nona An terlelap dalam pangkuan Lancelot setelah kenyang minum ASI dan juga makan beberapa camilan kusus balita.
"Terima kasih, Tuan," sahut Hanifah, karena matanya memang susldah sangat ngantuk Hanifah langsung memejamkan mata dan terbuai oleh alam mimpinya.
Hanifah benar-benar terlelap sampai-sampai dia tidak sadar jika kepalanya sudah bersandar pada bahu Lancelot. Nyonya Bisseling dan tuan tuan Bisseling tersenyum ketika melihat Hanifah bersandar di bahu Lancelot dan juga Lancelot membiarkan Hanifah tetap bersandar pada bahunya. Lancelot tetap terdiam hingga beberapa saat, setelah sekian tahun ini pertama kalinya Lancelot melakukan perjalanan dengan seorang wanita, selalunya jika melakukan perjalanan dengan asisten lelaki yaitu Dandruff.
Setelah sekian menit suara tangisan nona An, terdengar, Hanifah begitu mendengar tangisan nona An langsung terbangun "Maaf tuan," ucap Hanifah kikuk ketika sudah terbangun dari tidurnya dan baru menyadari jika se
"Masih sejam lagi, pesawat baru mendarat," ucap Lancelot.
"Nona An biar saya yang pangku, sekarang tuan beristirahatlah," ucap Hanifah meminta nona An dari pangkuan Lancelot untuk menghilangkan kekikukkannya.
"Sayang, sudah bangun ya," ucap Hanifah pada nona An.
Hanifah langsung memeluk dan menenangkan nona An, hanya dalsm waktu beberapa menit nona An sudsh kembali tenang. Perjalanan berjalan lancar cuaca juga sangat cerah, pesawat yang di tumpangi Lancelot beserta keluarga mendarat di Bandara Internasional Heathrow Inggris Raya. Sebagai mana penumpang lainnya Lancelot, Hanifah nyonya Bisseling dan tuan Bisseling keluar dari kabin pesawat untuk menuju imigrasi yang ada di bandara. Semua penumpang antri di pintu imigrasi waktu Hanifah petugas imigrasi meneliti dengan seksama dokumen Hanifah, Hanifah di tanya tentang tujuannya datang ke London beruntung Hanifah bisa menjawab dengan lancar. Selesai dengan urusan dokumen di pintu imigrasi mereka mengambil bagasi selanjutnya melangkah menuju pintu keluar.
Di pintu kedatangan Garnier sudah tidak sabar menunggu kedatangan keluarganya, Garnier sangat girang begitu melihat rombongan Lancelot yang sudah mulai terlihat. Garnier melambai-lambaikan tangannya supaya lekas diketahui oleh keluarganya. Garnier langsung memeluk nyonya Bisseling sebelum memeluk yang lainnya, satu persatu Garnier menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat, tidak terkecuali dengan Hanifah sekalipun Garnier juga memeluknya dengan penuh kebahagiaan.
"Hani, selamat datang, selamat datang keponakan tante," ucap Garnier girang.
__ADS_1
"Kok ya cuma Hani dan anakku yang di sambut!" protes Lancelot.
"Sebab Hani dan anakmu ini pertama kalinya menginjakkan kaki di negara London, kalau kamu kan sudah berkali kali," ucap Garnier.
Ayo sudah malam jangan terlalu lama di luar kasihan An." ucap nyonya Bisseling.
"Iya, ayo Nier," ajak tuan Bisseling.
"Kita makan dulu di restaurant sudah malam." ajak Garnier.
"Baiklah." sahut semua orang.
Mereka segera menuju ke parkiran tempat di mana mobil Garnier di parkir, Garnier mengemudikan mobilnya dengan gesit, sehingga dalam waktu lima belas menit mereka sampai di salah satu restaurant yang dekat dengan rumah Garnier. Mereka semua berada di salah satu restauran yang terjebak di pusat kota London, beberapa porsi steak sapi yang menjadi menu andalan di negara London telah tersaji di atas meja. Lancelot memberi kesempatan pada Hanifah untuk makan lebih dulu, sedang Lancelot memilih menjaga nona An. Setelah Hanifah selesai menyantap menu makan malamnya ganti Hanifah yang menjaga nona An, dan sekarang ganti Lancelot yang menikmati menu makan malamnya.
"Aku kira kamu tidak peka!" ujar Garnier pada Lancelot.
"Adikmu terlalu sibuk dengan pekerjaannya, lihat saja anaknya saja di suruh manggil papa sulitbya minta ampun." ujar nyonya Bisseling.
"Sekarang anakku sudah pintar Na. Ggil aku Papa, ya sayang ya, ayo tunjukkan ke tante panggil pa pa," ujar Lancelot bangga dan percaya diri.
"Ma ma ma ma." celoteh nona An.
__ADS_1
Semua orang yang ada di meja tersebut terbahak-bahak, kecuali Lancelot.