
Di hari pertama Lancelot menjalani terapi berjalan dengan baik, Hanifah menemani dengan sabar dan iklas tanpa mengeluh. Setelah selesai menemani Lancelot terapi Hanifah dengan diantar oleh sopir dan bodyguardnya meluncur ke sekolahan nona An, untuk menjemput nona An. Seperti biasa Hanifah menjemput nona An, paling akhir karena Hanifah tidak mau ikut berjubel antri dengan para penjemput lainnya. Masih seperti hari-hari sebelumnya sepulang nona An, dari sekolahan Hanifah mengajak nona An, untuk ke rumah sakit menjenguk Lancelot.
Mobil yang di tumpangi Hanifah dan nona An, meluncur menuju rumah sakit dengan kecepatan sedang, setelah menempuh perjalanan dua puluh menit sampailah mereka di rumah sakit. Hanifah membantu nona An, ganti baju di dalam mobil karena untuk mengejar waktu. Di dalam kamar Lancelot masih terbaring di atas ranjang namun kali ini hanya ada selang infus di tangannya, karena peralatan medis lainnya sudah di lepas. Nyonya Bisseling melihat Hanifah dan An, datang dia sangat senang sekali, apalagi Lancelot dia sangat bahagia bisa melihat Hanifah dan putrinya.
"Lanc, lihatlah putrimu sudah besar sangat cantik sekali dan pintar, kamu tahu dia lebih mirip Hani," ujar nyonya Bisseling.
"An," Lancelot memanggil nama nona An walau masih dengan suara lemah.
Hanifah menuntun nona An, untuk mendekat seperti biasanya.
"Papa," Nona An memanggil Lancelot dengan sebutan papa, dan mencium serta memeluk tangan Lancelot.
Lancelot mendengar panggilan dan perilaku nona An, membuat Lancelot langsung menitikan air mata, dia terharu sekali melihat putrinya yang dulu masih bayi sekarang sudah besar sudah sekolah. Hanifah menggendong nona An, untuk mencium pipi Lancelot.
__ADS_1
"Papa cepat bangun, aku lindu." Nona An, berucap dengan di tuntun oleh Hanifah.
Lancelot tidak bisa berkata apa-apa selain mengangguk dan menitikkan air mata bahagia.
"An, te... ri... ma... ka... s... sih, pa... pa... sa... ng... at... sa... ya... ang... An." ucap Lancelot masih terbata-bata.
"Tuan, cepat sembuh, lihatlah nona An, masih sangat membutuhkan Tuan." ucap Hanifah lembut.
Satu jam mereka bersama, Hanifah, nyonya Bisseling mereka dominan menceritakan tentang kehidupan nona An, selama Lancelot koma, nona An, sangat antusias berceloteh walau masih banyak cedalnya. Lancelot walau belum bisa berbicara dengan baik dari wajahnya sudah sangat terlihat jika Lancelot sangat bahagia merasakan sebuah kebersamaannya hari ini.
"Lanc, mama dan papa sudah menyiapkan acara ulang tahun untuk An dan Hani, acaranya tidak meriah hanya sederhana saja, nanti petang kakakmu bakal datang, sekarang dalam perjalan ke sini," nyonya Bisseling memberitahukan kepada Lancelot.
"Ka... do... ka... li... a... an, Ha... an... An.... " ucap Lancelot.
__ADS_1
"Tuan, kado terindah dan terbaik buat saya dan nona An, adalah Tuan bisa kembali sehat, Tuan bisa bangun seperti sekarang itu sudah lebih dari segalanya Tuan, itu merupakan kado terindah dan terbaik dalam hidup kami Tuan." ucap Hanifah bersungguh-sungguh.
"Lanc, kamu bisa sayang, lihatlah begitu tulusnya kasih sayang mereka padamu, kamu harus semangat sayang." nyonya Bisseling bersungguh-sungguh menyemangati Lancelot untuk sembuh.
Lancelot saking terharunya dia sampai tidak bisa berkata apa-apa selain mengangguk, dan berlinang airmata.
"Jangan menangis sayang, kamu jangan khawatir mama dan papa sudah menyiapkan kado terindah untuk An dan Hani, kamu percaya pada mama dan papa-kan." ucap nyonya Bisseling lembut.
"I... ya... ma.... " sahut Lancelot masih lemah.
"Jam jenguk sudah habis, kita pulang dulu ya Lanc, jangan berpikir yang macam-macam, fokuslah pada proses kesembuhanmu, besok lusa kamu harus lebih kuat agar bisa meryakan ulang tahun An dan Hani." pesan nyonya Bisseling.
Nyonya Bisseling, Hanifah dan nona An pamit pulang karena, waktu juga sudah siang menjelang sore sedangkan nona An juga sudah mulai mengantuk, waktunya nona an tidur siang.
__ADS_1