Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 171


__ADS_3

Sebuah mobil xenia yang di tumpangi oleh mereka telah terparkir di halaman villa milik Lancelot. Terlihat Garnier dan nyonya Ang, telah duduk santai di bawah taman depan sambil menikmati sejuknya kota Malang. Lancelot, Hanifah dan nona An turun dari mobil, mereka berdua ketika melihat kedatangan Garnier dan nyonya Ang langsung berdiri dan menghampiri mereka bertiga.


"Pengantin baru sudah datang!" seru Garnier.


"Kok, sepi pada kemana kak?" tanya Lancelot pada Garnier.


"Papa, sama yang lainnya sedang jalan-jalan entah di mana, aku sama Ang di suruh jaga villa." ucap Garnier.


"Nyonya, eh maaf kak." sapa Hanifah sopan.


"Han, akhirnya kita benar-benar menjadi suadara, kamu harus sabar ngadepi adikku itu, dia keras kepala." nasehat Garnier.


"Sekarang bukan keras kepala kak tapi manja sekali kak, lebih manja dari pada anaknya," adu Hanifah.


"Siapa tadi yang aku suapi." elak Lancelot atas tuduhan Hanifah.


"Sudah ayo masuk apa di sini saja, udaranya segar sekali bikin males bergerak, sangat bersih." ucap nyonya Ang menimpali


"Ya, makanya An kerasan tinggal di sini sampai kulitnya menggelap, tambah manis seperti mamanya, pikirku aku suruh An, pulang bersama mama, setelah itu aku dan Han pulang, malah An-nya nyuruh aku pulang duluan, dia mau tinggal di sini sama namanya, menikah setelah punya anak itu ternyata sunguh nikmat gak bisa pacaran." keluh Lancelot mereka semua sudah duduk di teras villa sambil menikmati canilan sedangkan An, karena tidak ada temannya dia juga masih terlihat lelah makanya nempel terus ke Hanifah.


Semua yang mendengar ocehan dari Lancelot tertawa, kecuali nona An yang tidak paham tentang apa yang mereka bicarakan.


"Terus semalam gagal?" tanya nyonya Ang penasaran.

__ADS_1


"Kita sudah sama-sama capek, bayangin aja resepsi pernikahan mulai jam lima sore sampai jam setengah sepuluh, siangnya juga ada acara, capek tapi sangat menyenangkan, akan menjadi kenangan terindah dalam hidupku nanti." ucap Lancelot berbinar-binar, dan juga ngelantur.


Garnier dan nyonya Ang tertawa terbahak-bahak mendengar ocehan dari Lancelot, sedanng Hanifah, hanya tersenyum simpul, mendengar ocehan mereka bertiga.


"Han, nanti malam kamu tinggal tidur lagi saja, biar dia tambah penasaran, gitu dari dulu suruh nikah pakai drama segala, sekarang maunya nempel terus to sama istrimu." cibir Garnier.


"Habisnya kenalnya dia juga baru sekarang, dan untuk mendapatkannya juga tidak mudah kak, dulu itu kebanyakan yang mendekatiku karena tahu aku banyak harta, makanya aku males, bukannya aku pelit, tapi memang hatiku tidak sreg dengan mereka," terang Lancelot.


"Kalau sekarang bagaimana?" tanya nyonya Ang.


"Sekarang pasti tiada duanya, dia itu sangat mahal, pokoknya istriku ini yang terbaik darii semua wanita setelah mama." Lancelot memuji Hanifah.


"Kenapa nih, kok aku dengar menyebut kata mama?" celetuk nyonya Bisseling yang baru datang dari jalan-jalan.


"Ma," sapa Hanifah, bersalaman mencium tangan nyonya Bisseling, tanpa komando Lancelot juga melakukan hal yang sama, begitu juga nona An.


"Pengantin baru kok sudah sampai sini?" tanya Ang.


"Dia mau belajar bagaimana caranya membuat gempa di atas ranjang." kelakar nyonya Ang.


"Benaran Lanc, Han?, kalian?" tanya Ang mengerutkan keningnya.


"Udah abaikan mereka saja, Ang jangan hiraukan kakakku dan istrimu, mereka itu lagi ngacau saja, mungkin jatah bulanannya kurang kali." ucap Lancelot tambah ngawur.

__ADS_1


"Kalian itu kalau bicara lihat dulu ada anak kecilnya apa tidak." nasehat nyonya Bisseling "Bagaimana kalian apa gak capek, pagi-pagi kok sudah sampai sini?"


"Setelah tidur semalaman rasa capeknya sudah hilang ma, semalam ngeloni An, aku juga tertidur bangun sudah pagi." jawab Hanifah.


"Jangan-jangan kamu lupa jika sudah menikah?" goda Garnier.


"Ya, begitu kak soalnya selama ini kan memang kebiasannya begitu, ngeloni An, langsung tidur, beberapa hari sebelumya juga sudah capek bikin persiapan untuk kemarin." jelas Hanifah sambil tertawa ringan.


"Ya ampun, ternyata!" seru Ang "Lanc jangan-jangan memang benar isu tentang kamu yang tidak bisa menggerakan ranjang, dengan wanita." ejek Ang.


Lancelot tidak menjawab, malah nenimpuk punggung Ang, dengan bantal di dekatnya.


"Hah, omongan kalian gak jelas, biar aku dan An, bermain di taman saja, gak baik untuk telinga An." Hanifah pamit dan ingin berdiri.


"Biar An, sama mama saja Han, kalian ngobrol saja ya memang salah anakku Han, kalau dulu dia tidak kontrak rahim orang, kalian bisa langsung honeymoon," seloroh nyonya Bisseling "Ayo An temani nenek main di kebun sebelah." nyonya Bisseling mengajak nona An, untuk ke kebun.


"Kalau tidak An, pasti sudah lain ceritanya, berarti tidak akan ada istriku, kalaupun dia bekerja di rumahku gak mungkin aku bisa mengenalnya lebih dekat, yang ada Han, di ambil orang." Kelakar Lancelot.


Semua kembali tertawa mendengar ocehan dari Lancelot.


"An, besok pulang bareng oma dan opa ya?" ajak nyonya Bisseling, menggandeng nona An, untuk menuju ke kebun.


"Aku mau di sini sama mama, bial opa sama oma dan papa yang pulang, Aku belsama mama telus di sini, tiap hali An punya teman banyak, bisa belmain di kebon dan sawah," jawan nona An polos.

__ADS_1


"Ya, ampun pantesan, Lanc uring-uringnan ceritanya antara anak dan papanya lagi rebutan." goda Ang, di iringi tawa renyah mereka semua.


"Ya, ampun begitu ceritanya." tambah Garnier, juga dengan tertawa nyaring.


__ADS_2