Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 24


__ADS_3

"Han, setelah ini kita akan menuju pasar Sham shui po, kita nyampai sekitar lima belas menit lagi, kabari temanmu posisinya ada di mana?" ujar Lancelot setelah selesai makan.


"Baik Tuan," sahut Hanifah walau sebenarnya memang amat sangat tidak nyaman namun itu lebih baik dari pada tidak bisa bertemu sama sekali dengan Tatuk.


"Kak, Nier aku nanti mau ngantar Hani ketemu temannya, kakak belanja saja dulu, kalau sudah selesai kabari aku." ujar Lancelot.


"Di mana?" tanya Garnier.


"Di pasar Sham shui po, tapi belum tahu di mana." jelas Lancelot.


"Temanmu ada di mana Han?" tanya Garnier pada Hanifah.


"Katanya masih di pasar Sham shui po Nyonya, di sekitar exit b," jawab Hanifah setelah menerima pesan singkat dari Tatuk.


"Kita kesana, pasarnya memang di daerah situ, suruh temanmu nunggu di sana lima belas menit kita sampai." perintah Garnier.


Kali ini karena melihat Hanifah dan nona An, kasihan dan juga untuk menyingkat waktu Garnier memilih menggunakan taxi dari pasar Prince Edward menuju pasar Sham shui po. Selama dalam perjalanan perasaan Hanifah antara senang dan tidak enak terhadap majikan menjadi satu. Nona An di dorong oleh susternya berjalan bareng dengan Garnier, sedangksn Hanifah ditemani oleh Lancelot berjalan cepat menuju tempat yang telah disepakari tadi di depan pintu exit B Station kereta api Sham shui po, Hanifah tak kalah terperangah begitu melihat pasar Sham shui po yang mayoritas pengunjungnya para pekerja Indonesia.


"Tatuk!" seru Hanifah girang langsung menepuk bahu Tatuk begitu mendapati Tatuk yang sedang berdiri menanti kedatangan Hanifah sambil celingak-celinguk.


"Ya Allah, Han,!" Tatuk tak kalah girang kedua manusia itu saling bersalaman, berpelukan dan berciuman "Aku kangen sekali Han,!" seru Tatuk masih dengan wajah berseri-seri.


Lancelot tahu diri dia sedikit memberi keleluasaan pada Hanifah, Lancelot mengawasi dari jarak lima meter. Lancelot sengaja memilih jarak lima meter karena takut Hanifah hilang, sebab pasar Sham shui po sangat rame lautan manusia berlalu lalang berbagai orang dari manca negara tumplek blek, melihat Hanifah yang sangat bahagia Lancelot jadi terharu walau Lancelot tidak paham apa yang mereka bicarakan, pada dasar ya Hanifah dan Tatuk menggunakan bahasa campuran hawa dan Indonesia, sekeras apapun Lancelot menyadap WhatsApp tetap tidak bisa mengartikan dengan benar apalagi Hanifah dan temannya lebih banyak mengunakan bahasa kiasan.


"Kamu sendirian Tuk?" tanya Hanifah begitu sudah saling melepas pelukannya.

__ADS_1


"Ada temanku di warung Indonesia, ayo makan temenku sudah menunggu di sana, makanannya enak-enak sekali pas di lidah kita, ada soto, ada rawon, rujak, pecel lele, gurami bakar, pecel madiun juga ada, urap, ayam panggang komplit pokoknya." ajak Tatuk penuh harap.


"Kamu jangan mameri aku saja to Tuk, kalau lagi libur aku ya mau saja, la ini aku dikawal oleh pakku, koyo tahanan ae." ucap Hanifah antara kesal dan ingin tertawa.


"Mana pakmu?" tanya Tatuk. celingukkan mencari majikan yang di maksud oleh Hanifah.


"Tuh, yang berdiri main hp, pakai topi, kaca mata hitam, kaos hitam menghadap kesini tuh." jawab Hanifah sambil menunjuk dengan ekor matanya.


Tatuk langsung tertawa terbahak-bahak mendapati kenyataan bahwa temannya sedang di kawal oleh majikannya.


"Tuk, jangan ngejek kamu." gerutu Hanifah.


"Masalahnya, Han, pakmu sang majikan ndoro juraganmu itu opo kurang kerjaan, kok ngoyo sekali ngawal babune, gak takut gosong opo, katanya pakkmu itu orang kaya raya." ujar Tatuk.


"Entahlah tuk, wes dinikmati dan di syukuri sajalah, walau peraruturannya sangat ketat yang penting mereka baik, gajian lancar, namanya ikut orang yo kita ikuti sajalah Tuk, karena dia orang kaya makan ta aturannya ketat banget." ucap Hanifah pasrah.


"Puol terjaminnya, sampai-sampai hal makan saja aku harus ngikuti sesuai dengan menu persetujuan sang dokter." cerita Hanifah.


"Ediann... Han, wes nikmati saja Han, kamu termasuk beruntung, gak libur gak apa-apa sing penting majikan apik, pancen yo kerja ikut orang ya turuti aja aturane, sing penting gak di luar jalur." timpal Tatuk menasehati.


"Iya, tuk, biar menu makanku di atur oleh sang majikan ndoro juragan tapi aku senang sebab makanan yang di berikan ke aku itu berlabel halal." jelas Hanifah pada Tatuk.


"Yo wes rejekimu, Han, di usiamu yang masih muda kamu sudah kehilangan orang yang kamu cintai, sekarang nikmati saja gantinya." Tatuk menguatkan Hanifah.


"Tuk, kamu mau beli apa, aku belikan," Hanifah menawarkan sesuatu pada Tatuk

__ADS_1


"Lau aku wes gak kepingin barang Han, ini tadi ae karena mau paket makanya aku beli jajan buat keluarga di rumah," jelas Tatuk.


Tatuk dan Hanifah mengobrol kurang lebih satu jam, mereka berdua berdiri di pinggir jalan sambil melihat orang yang sedang berlalu lalang di sekitarnya. Karena merasa tidak enak dengan Lancelot Hanifah dan Tatuk menyudahi obrolannya.


"Aku pamit dulu ya tuk, lain kali kita ngoceh lagi, aku senang selalu vusa bertemu denganmu." ucap Hanifah sebenarnya masih ingin berlama-ls dengan Tatuk.


"Tetap semangat, Han, hati-hati kalau kerja," pesan Tatuk pada Hanifah.


Hanifah begitu sekesai langsung berjalan menuju ke arah Lancelot sedangkan Tatuk masih berdiri di tempat sambil memastikan jika Hanifah benar-benar aman dengan majikannya. Lancelot segera menyusul Garnier yabf ternyata berada tidak jauh dari tempat Hanifah dan Tatuk ngo rol tadi.


"Mbak, bagaimana nangis gak anakku?"


"Aman, anakmu masih anteng, dari tadi." jelas Garnier pada Lancelot "Han, lalu mau beli sesuatu, siapa tahu mau kamu paketkan." Garnier menawarkan sesuatu pada Hanifah.


"Tidak, nyonya, lain kali saja." tolak Hanifah lembut.


Mereka semua melanjutkan jalan-jalannya di pasar Sham shui po "Han kamu sudah kesini sebelumnya?" tanya Garnier pada Hanifah.


"Ini, yang pertama kalinya nyonya, sebab selama empat bulan bekerja di rumah tuan saya sama sekali belum pernah liburan seperti teman-teman lainnya." jawab Hanifah jujur.


Mendengar jawaban dari Hanifah Garnier benar-benar heran dan langsung geleng-geleng kepala pasalnya selama Ini Lancelot selalu memberi kebebasan pada pekerjanya apalagi kalau sudah menyangkut hal hari libur, Lancelot selalu meliburkan pera pekerjanya sesuai dengan aturan yang berlaku.


"Han, kamu kok betah tinggal di rumah berbulan-bulan tanpa refreshing, lau aku pasti sudah kena yang namanya suterez." jelas Garnier sambil memilih-milih baju yang ada di pasar.


"Saya kan setiap hari juga keluar nyonya." jawab Hanifah apa adanya6.

__ADS_1


"Keluar kemana Han ?" tanya Gaeniar penasaran.


"Di taman belakang rumah." jawab Hanifah jujur.


__ADS_2