Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 96


__ADS_3

Hanifah sedikit mengerutkan keningnya ketika membaca kantong kertas dan kantong plastik yang bertuliskan sebuah nama pusat berbelanjaan yang sangat besar di kota Malang, belum lagi ada beberapa makanan khas kota Malang yang di bawa oleh Lancelot, namun Hanifah tidak berani bertanya, dalam hati Hanifah paling belinya di pusat belanja oleh-oleh di pulau Bali, sebab sekarang sangat mudah untuk mendapatkan makanan khas suatu daerah tanpa harus ke kota tersebut .


"Han, buka saja semoga kamu suka, kebetulan aku pas melihat ada baju yang unik, baju yang biasa di pakai wanita Islam di Indonesia, karena kamu wanita Islam aku membelikannya untukmu, aku tidak akan melarangmu dalam berpakaian jika kamu ingin tetap memakai pakaian seperti wanita Islam lainnya, silakan saja dan jika ada yang kamu perlukan kamu bilang saja, biar nanti aku minta tolong sekretarisku untuk membelikannya atau minta tolong pada rekan kerjaku dari Indonesia." jelas Lancelot panjang lebar.


"Masyaallah, terima kasih Tuan!" seru Hanifah dengan wajah yang berbinar-binar.


Lancelot dan nyonya Bisseling, merasa heran dengan sikap Hanifah yang biasanya dingin kini langsung berubah menjadi sangat ceria dan bahagia, sebuah perubahan yang sangat drastis, ekpresi yang selama setahun ini tidak pernah di tunjukkan oleh Hanifah pada mereka. Lancelot melihat ekpresi Hanifah yang sangat ceria, membuat Lancelot bagai dapat duren runtuh, pasalnya selama beberapa bulan terakir ini Lancelot berusaha untuk membuat Hanifah bahagia, namun setiap kali hanya ekpresi datar yang di dapat, dan kalaupun tersenyum tulus penuh cinta itu hanya untuk nona An, saja.


"Oh ya, selama ini aku juga tidak pernah tahu tentang ibadah yang umat Islam jalankan, untuk ibadah aku juga tidak akan melarangmu, jika sudah waktunya untuk beribadah lakukan saja, sesuai dengan ajaran agamamu, terus terang di rumah ini memang belum pernah ada pekerja yang ber agama Islam selain kamu, yang terpenting bagiku kamu tetap menjaga dan merawat An, putriku." jelas Lancelot panjang lebar.


Hanifah nampak kebingungan dengan semua penjelasan dari Lancelot, sebab selama ini Lancelot tidak pernah membahas apapun kecuali tentang pekerjaan dan nona An, apalagi tentang kepercayaan.


"Apa yang di katakan tuanmu itu benar, Han, dan apa yang Lanc katakan hari ini sudah kami bicarakan sebelumnya dan kami semua sudah sepakat dengan keputusan Lanc, alasannya cukup sederhana karena kamu merupakan bagian dari keluarga Bisseling, sebab ada darah kamu yang mengalir di tubuh keturuanan kami," jelas nyonya Bisseling panjang lebar.


"Terima kasih Tuan, nyonya saya senang sekali," ucap Hanifah, saking Bahagianya sampai menitikan air mata kebahagiaan.


"Yang terpenting kamu nyaman bersama kami, aku dan Lanc, tidak bisa mendampingi An, selama dua puluh empat jam penuh, jadi keberadaanmu di sini itu sangat berarti dalam keluarga kami," jelas nyonya Bisseling.


"Terima kasih Tuan, nyonya." ucap Hanifah masih dengan sorot mata penuh kebahagiaan.


"Bukalah, aku harap kamu suka!" perintah Lancelot, karena dari tadi Hanifah belum membuka plastiknya.


Hanifah membuka plastik satu persatu lima set gamis batik, kemeja batik serta baju anak, telah berjajar di hadapan mereka,"Tuan, ini ada satu set?" tanya Hanifah ambigu takut salah tanya.

__ADS_1


"Sengaja aku membeli satu set untuk aku, kamu dan An, aku lihat sangat bagus dan elegant jadi aku membelinya," jelas Lancelot.


"Terima kasih, Tuan tapi gamis ini terlalu mewah jika di pakai di rumah, dan saya sangat bahagia sekali jika tuan memberi kebebasan kepada saya dalam beribadah dan berpakaian, saya memang saya sangat senang sekali bisa berhijab, itu cita-cita saya sejak dulu." ucap Hanifah sangat terharu.


"Kenapa kamu tidak mengatakan dari awal? Siapa bilang gamis itu terlalu mewah, aku rasa itu sangat cocok untuk kamu pakai walau hanya di rumah" tanya Lancelot pada Hanifah.


"Bukankah dulu Tuan tidak menjawab waktu saya tanya pas interview, dan Tuan malah menjelaskan semua aturan yang ada di rumah Tuan, untuk pakaian di rumah saya memakai seperti biasa yang yang saya pakai saja, saya hanya butuh beberapa potong hijab instan agar mudah memakainya" jawab Hanifah.


"Hijab itu apa?." tanya Lancelot.


"Hijab itu seperti Tuan," jawab Hanifah sambil menunjukkan hijab pada Lancelot.


"Soal, itu gampang, soal kamu tanya tentang permintaanmu aku benar-benar lupa, atau memang aku yang nyantol dengan maksudmu waktu itu?" ujar Lancelot


"Wow, cantik sekali cucu Oma! Papamu mulai pintar belanja" seru nyonya Bisseling bahagia.


"Wow, Putri papa,!" seru Lancelot tak kalah bahagia.


Hanifah dengan cekatan membantu nona An untuk mencoba baju-baju yang dibelikan oleh Lancelot, nona An terlihat senang sekali, bahkan ada salah satu bajunys tudak boleh di lepas inginnya di pakai terus. Lancelot tidak mau ketinggalan dengan putrinya dia juga mencoba kemejanya, yang senada dengan baju nona An. Nyonya Bisseling semakin bahagia melihat Lancelot yang sangat kompak dengan putrinya.


"Han, sekalian kamu coba bajunya yang itu sama dengan An dan Tuanmu biar tambah serasi." perintah nyonya Bisseling.


Hanifah menolak dengan halus permintaan nyonya Bisseling.

__ADS_1


"Iya kak kamu coba, pasti cocok, lihat tuan dan nona An cocok sekali." suster ikut menimpali nyonya Bisseling, padahal dari tadi hanya melihat tanpa komentar.


"Iya, Han, sekali-kali selfi kita bertiga pakai batik." pinta Lancelot.


"Ayo, Han." pinta nyonya Bisseling terus memaksanya.


Hanifah mengikuti permintaan mereka semua, Hanifah pergi ke kamar mandi untuk mengganti bajunya, Hanifah memakai gamis batik yang sama corak warna dan motifnya dengan Lancelot dan nona An, Hanifah mencoba gamisnya lengkap dengan hijabnya. Hanifah keluar dari kamar mandi, mata Lancelot sampai tidak berkedip karena terpukau saat melihat penampilan Hanifah yang memakai gamis lengkap dengan hijabnya, penampilan Hanifah, semakin anggun dan elegan, bukan hanya Lancelot Nyonya Bisseling dan suster ikut terpukau dengan penampilan Hanifah.


"Cantik," gumam Lancelot dalam hati.


"Ehm... ehm... ehm." nyonya Bisseling berdehem saat mendapati Lancelot terbengong sampai tidak berkedip ketika melihat penampilan Hanifah.


Mendapati deheman nyonya Bisseling, Lancelot salah tingkah sendiri.


"Cocok sekali Han!" seru nyonya Bisseling dengan senyum penuh kekaguman.


"Benar, Han, benar-benar cantik." seru suster tak kalah kagum.


"Bagaimana Lanc, penampilan Hani," ucap nyonya Bisseling dengan sebuah kedipan yang menggoda.


"Excellent." sahut Lancelot tanpa di sadari karena masih mengagumi penampilan Hanifah.


Hanifah tetap bersikap biasa walau mendapat tatapan penuh kekaguman dari Lancelot, nyonya Bisseling tidak menyia-nyiaksk kesempatan ini, pasalnya Lancelot sudah mulai benar-benar membuka hatinya pada wanita. Nyonya Bisseling dan suster disamping mengambil video mereka berdua heboh dengan sendirinya dengan hand phone masing-masing mengambil gambar kebersamaan Hanifah, nona An dan Lancelot

__ADS_1


__ADS_2