Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 190


__ADS_3

Malam begitu indah, bintang bertaburan rembulan menunjukkan sinarnya yang sangat Indah dan cerah. Lancelot, tanpa sepengetahuan Hanifah, dia sudah memesan makan malam romantis, di deck kapal pesiar yang paling atas.



(di kapal tersebut biasanya setiap akir pekan selalu ada pesta, lokasinya di Kennedy Town HK, foto di ambil dari lantai 25, Merton apartment, kira-kira seperti ini kapalnya).


Lancelot memperlakukan Hanifah bak seorang Putri, Lancelot meminta Hanifah untuk memakai gamis batik yang begitu indah, Lancelot memesan langsung secara khusus dari desainer terkenal di Indonesia. Satu set gamis batik khas jawa timur menjadi pilihan Lancelot, tanpa Hanifah tahu ternyata Lancelot sudah memesan baju teesebut sebelum Hanifah, menerima lamarannya.


"Kita kemana pa? kira-kira An, sudah makan apa belum ya pa?" tanya Hanifah sambil memakai make up tipis di wajahnya.


"An, sudah makan mama juga sudah ngirim foto dan video, lihat saja di nomor mama, An kecapek an dia sudah tidur." jelas Lancelot.


"Jam segini An, tidur takutnya tengah malam malah kebangun, nanti malam kalau An, kebangun bagaimana Pa?" tanya Hanifah.


"Kalau memang An, mencari kita ya kita pulang, toh jarak rumah dan tempat ini tidak jauh hanya butuh setengah jam tidak sampai," jawab Lancelot santai.

__ADS_1


"Benar ya pa." tegas Hanifah.


"Iya, namaku sayang." ucao Lancelot "Ayo sudah siap apa belum keburu malam?" tanya Lancelot.


"Tinggal pakai kerudung saja, lima menit selesai." jawab Hanifah sambil memakai kerudung.


Hanifah memakai kerudung sangat cepat karena, tidak sampai lima menit Hanifah sudah siap dan sangat cantik, Lancelot semakin terpukau melihat kecantikan Hanifah yang semakin hari semakin cantik. Lancelot setelah memuji Hanifah, Lancelot segera membawa Hanifah untuk menuju deck kapal paling atas, suasana sangat sepi hanya suara deburan ombak dan suara hembusan angin malam semilir begitu lembut, bintang bertaburan sedang ak bulan menunjukkan senyum terindahnya.


"Pa?" tanya Hanifah yang begitu terpukau dengan desain romantis yang di pilih oleh Lancelot.


Meja dengan dua kursi berhadapan, lantainya bertaburan lilin elektrik, sedangkan di atas meja ada sepasang gelas berisi jus strawberry dan peralatan makan yang di tata begitu indah, serta setangkai mawar putih. Hanifah sangat senang dengan mawar putih, untuk jus strawberry gak mungkin Lancelot memakai anggur merah karena mereja berdua juga tidak mengkonsunsi alkohol. Di atas kapal hanya mereka berdua saja, tidak ada musik seprti biasa karena Lancelot menginginkan suasana yang begitu tenang dan tentunya tidak ingin terganggu keromantisan mereka.


"Mama suka?" tanya Lancelot begitu menarik kursi untuk Hanifah.


"Terima kasih pa, mama suka sekali." sahut Hanifah dengan mata berbinar-binar.

__ADS_1


"Ma, temani papa sampai akhir hayat, ijinkan papa untuk menjadi imam untuk mama dan anak-anak kita nanti, ingatkan jika papa melakukan kesalahan, tarik kembali ke jalan yang benar jika papa salah ambil jalan." Lancelot jongkok di hadapan Hanifah sambil memberikan sekuntum bunga mawar putih untuk Hanifah.


"Inshaallah, Pa kita satu keluarga satu tujuan, kita harus saling mengisi kekurangan kita masing-masing, dan ingat pa kita ini keluarga tempat untuk berbagi suka maupun duka kita jalani bersama-sama, bawa mama dan anak-anak untuk menuju surganya Allah," jawab Hanifah lembut sambil menerima bunga dari Lancelot.


"Terima kasih Ma, papa akan berusaha lebih keras agar papa bisa menjadi prmimpin kekuarga yang Sholeh," ucap Lancelot lagi.


Hanifah maupun Lancelot sama-sama menitikan air mata haru, setelah keduanya mengungkapkan perasaan masing-masing, keduanya menikmati menu makam malam yang baru datang. Hanifah maupun Lancelot menyantap makanannya penuh kasih mereka berdua saling menyuapi satu sama lain, setelah selesai makan malam mereka berdua menikmati indahnya malam di atas kapal pesiar. Mereka berdiri di pinggir kapal, sedangkan Lancelot tidak sedetikpun melepaskan pelukannya pada Hanifah.


"Ma, sudah jam sebelas ayo kita turun udara juga sudah semakin dingin, tidak baik untuk kesehatan." ucap Lancelot.


"Baiklah pa, kita turun dari tadi sampai lupa belum tanya tentang An," sahut Hanifah.


"Ayo." ajak Lancelot.


Lancelot menggandeng tangan Hanifah, Lancelot sangat menyayangi Hanifah, tanpa sepengetahuan mereka ada sepasang mata yang telah mengintai mereka, namun karena Lancelot menggunakan penjagaan yang sangat ketat sehingga orang tersebut tidak mendapatkan kesempatan untuk mengacaukan makam malam romantis Hanifah dan Lancelot.

__ADS_1


"Sialan, bedebah kamu semakin menperketat penjagaanmu Lanc, tunggu saja sebentar lagi kamu pasti bertekuk lutut padaku." geram A ling yang sudah menyamar menjadi pelayan kapal pesiar tersebut.


__ADS_2