Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 53


__ADS_3

"Oe oe oe," tangisan nona An membangunkan Hanifah.


"Astaqfirullah hal'adzim, ternyata sudah pagi." Hanifah terkejud mendengar suara tangisan nona An, apalagi waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi itu artinya Hanifah benar-benar kesiangan hingga melewatkan subuhnya " Astaqfirullah hal'adzim." ucap Hanifah dengan hati berdegub kencang, pasalnya selama bekerja Hanifah belum pernah bangun kesiangan sampai sesiang ini.


Hanifah segera menenangkan nona An, takut tangisannya terdengar sampai luar, Hanifah segera mengecek pampers setelah mengganti pampers bnona An Hanifah segera memberi ASI pada nona An. Selesai memberi ASI Hanifah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu berniat untuk mengqodho subuhnya.


"Pantesan tubuhku terasa pegal, ternyata tamuku datang," ucapnya ngomong sendiri.


Hanifah segera bergegas untuk keluar dari kamar mandinya untuk mencari pembalut, sungguh maas tidak ada persediaan pembalut di dalam kamarnya yang ada hanya pempers nona An" Nasib, jika bepergian tidak paking sendiri, bagaimana ini." Hanifah bingung dengan sendirinya mau minta tolong pada majiaknnya tidak berani karena waktu masih terlalu pagi" Untung baru flak merah tapi sebentar lagi pasti sudah deras, bagaimana ini, haduh masa mau pakai pampers-nya nona An," Hanifah benar-benar bingung, beruntung nona An tidak rewel.


Hanifah tidak berani duduk karena takut akan tembus, apalagi Hanifah jika pada hari pertama pasti keluar darah banyak. Hanifah berusaha beraktifas seperti biasa namun mau duduk Hanifah tidak berani, hingga beberapa jam Hanifah menghabiskan waktu di kamar hanya berdua dengan nona An, hingga ada suara ketukan dari luar.


"Han, buka pintunya!" seru Lancelot dari luar kamar Hanifah.


"Ya tuan." sahut Hanifah langsung menuju pintu" Selamat pagi Tuan," sapa Hanifah begitu pintu terbuka dan melihat Lancelot sudah memakai pakaian santai.


"Pagi, Han, nona An, bagaimana, dan kamu sendiri bagaimana pulas tidurnya?" tanya Lancelot langsung mesuk menghampiri nona An yang sedang bermain di lantai bawah beralaskan karpet bulu sangat mewah.


"Kami semua bisa tidur dengan nyenyak tuan," sahut Hanifah "Tuan, nyonya besar sudah bangun apa belum?" tanya Hanifah.


"Mama, kemungkinan belum bangun, sebab mama belum menelponku, biasanya jika sudah bangun pasti menelponki jika kita sedang bepergian, kenapa kelihatannya ada yang kamu sembunyikan?" tanya Lancelot penasaran, karena wajah Hanifah menunjukkan kecemasan.


"Kira-kira nyonya besar jam berapa bangun ya?" tanya Hanifah lagi.


"Gak tahu, mungkin tengah hari baru bangun," jawab Lancelot sambil bermain dengan nona An sedangakan Hanifah tetap berdiri tidak ikut duduk.


"Tuan, ehm... ehm... sekitar sini apa ada supermarket, dan apa boleh beli menggunakan uang dolar Hongkong," ucap Hanifah ragu tentu dengan ekpresi wajah sedikit sedikit bingung, cemas.


"Han, apa ada masalah, kamu mau beli apa? nanti aku belikan." ucap Lancelot santai.


"Biar saya sendiri saja yang beli tuan," ucap Hanifah ragu.

__ADS_1


Lancelot mengerurkan dahinya dia tidak paham dengan ekpresi Hanifah yang kelihatan tidak tenang.


"Han, kenapa kamu kelihatan tidak tema begitu, ada masalah apa?" tanya Lancelot semakin penasaran.


Hanifah tidak menjawab dia hanya menggelengkan kepala, Hanifah benar-benar ragu ingin jujur.


"Kalau kamu memang mau penting dengan mama biar kau bangunkan mama," ucap Lancelot "Atau kamu tidak kerasan tinggal di sini?" tanya Lancelot penuh selidik.


"Saya kerasan tuan, tidak apa tunggu nyonya besar bangun saja." jawab Hanifah dengan perasaan benar-benar tidak nyaman takut darahnya semakin banyak dan otomatis akan tembus.


"Kita turun untuk sarapan, atau aku panggilkan saja kita makan di sini saja." Lancelot memberi pilihan.


"Ehm... bagaimana ya," Hanifah ragu mau jawab apa.


"Bagaimana, aku ikuti saja kami bagaimana nyamannya, kelihatan sekali kalau kamu tidak nyaman," ucap Lancelot semakin penasaran.


Hanifah semakin tidak nyaman karana darahnya sudah mualia keluar banyak "Begini, tuan ehm... ehm.... " Hanifah masih ragu untuk mengatakan, dan akhirnya dia malah lari ke kamar mandi, tentunya sebelum ke kamar mandi Hanifah mengambil celana ganti dan stocking.


"Han, apa kamu ada masalah?" tanya Lancelot sambil mengetuk pintu kamar mandi.


"Tidak, tuan, sebentar lagi saya keluar," sahut Hanifah dari dalam kamar mandi, sedang di kamar mandi Hanifah masih berpikir bagaimana caranya agar darahnya tidak sampai tembus, Hanifah memandangi seluruh isi kamar mandi dan membuka semua laci yang ada di kamarandi siapa tahu ada persediaan pembalut " Bagaimana ini?" Hanifah berdjam sejenak hingga Hanifah melihat tisu toilet " Yah tisu, walau harus sering ganti asal tidak sampai tembus nanti siang setelah nyonya besar bangun baru minta bantuan nyonya besar untuk membeli pembalut." ucap Hanifah senang.


"Han!" teriak Lancelot lagi dari luar karena sudah setengah jam Hanifah belum keluar dari kamar mandi.


"Ya, Tuan saya keluar sekarang." sahut Hanifah dan membuka kamar mandi.


"Apa kamu sakit Han?" tanya Lancelot cemas.


"Tidak tuan." jawab Hanifah berusaha tenang, walau sedikit kurang nyaman karena menggunakan tisu sebagai pembalut sementara.


"Aku sudah pesan makanan, sebentar lagi nyampai, jadi kita makan di sini saja, aku lihat kamu kurang enak badan, jika kamu sakit buat aku panggilkan dokter." ucap Lancelot.

__ADS_1


"Tidak usah tuan, saya tidak apa-apa." sahut Hanifah.


Benar yang dikatakan oleh Lancelot tidak sampai lima belas menit mereka duduk suara bel dari luar sedang di pencet.


"Tuan, nyonya, makanan pesanannya datang." suara pelayan dari luar kamar.


"Baik." sahut Lancelot, Lancelot segera menuju ke pintu dan membuka puntuk mempersilakan sang pelayan hotel untuk menaruh makanannya di dalsm kamarnya.


"Saya pemisi Tuan, Nyonya, selamat menikmati liburan, semoga nyaman dengan pelayanan kami." ucap pelayan sebelum meninggalkan kamar Hanifah.


"Terima kasih." sahut Lancelot dan Hanifah secara bersamaan apalagi sang pelayan hotel menggunakan bahas inggris otomatis Hanifah juga bisa paham.


"Han, segera lah sarapan." perintah Lancelot, soal makanan Hanifah Lancelot benar-benar ketat.


"Tuan, makan saja dulu saya mau menyuapi nona An, dulu." sahut Hanifah sudah mulai memakaikan apron pada nona An.


"Biar aku suapi putriku, cukup kaku siapkan setelah itu kamu makan dulu, aku tidak ingin ibu dari anakku sakit karena telat makan," ucap Lancelot " Anak papa hari ini jangan rewel ya, papa akan menemanimu beberapa hari ini, dan sekarang papa suapi ya, biar mama Hani sarapan, nutut sama papa ya sayang." Lancelot berusaha merayu nona An, agar nona An mau di suapi pasalnya selama satu tahun ini Lancelot belum pernah sekalipun menyuapi putrinya dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya.


Hanifah mematuhi perintah Lancelot, Hanifah menyiapkan menu makan untuk nona An.


"Ma ma ma ma." oceh nona An girang yang sudul di kursi kusus balita.


"Pa pa pa, sayang." Lancelot mengajari nona An untuk memanggil papa.


"Mama ma ma mama." nona An tetap pada kata katanya yaitu mama.


Hanifah hanya mendengarkan saja sambil senyum-senyum sendiri melihat perdebatan anak dan bapaknya sambil menyiapkan menu untuk makan nona An.


"Ayolah sayang, panggil PA PA PA." Lancelot menekankan kata papa pelan pelan.


"Ma ma ma ma." nona tetap pada pendiriannya tidak mau memanggil papa.

__ADS_1


Lancelot benar-benar sedikit frustrasi melihat dan mendengar sendiri anaknya tidak mau memanggil papa.


__ADS_2