Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 78


__ADS_3

Hanifah mau tidak mau menuruti kemauan Lancelot, Lancelot tetap teguh pada pendiriannya untuk mengajak nona An dan Hanifah tidur dalam satu kamar dengan Lancelot. Lancelot membawa nona An di atas ranjang Lancelot yang super jumbo, ya ranjang milik Lancelot memang sangat besar di pakai bertiga pun masih luas. Setelah bermain beberapa saat nona An mulai rewel itu artinya nona An sudah ngantuk berat dan ingin segera tidur.


"Han, An sudah ngantuk." lapor Lancelot.


"Ya, Tuan." sahut Hanifah.


"Tidurlah, aku mau keluar menemui orang tuaku, ingat jangan keluar dari kamar ini tunggu aku kembali, dan kamu Han, tidurlah di sini kamu tetap pada aktifitasmu yaitu menjaga dan merawat anakku, tunggu aku kembali." pesan Lancelot, lalu pergi meninggalkan Hanifah dan nona An di dalam kamarnya yang sangat luas.


"Baik Tuan," sahut Hanifah tanpa debat"Ya Allah hidup macam apa ini." keluh Hanifah dalam hati.


Hanifah segera melakukan aktifitasnya seperti biasa, merawat dan menjaga nona An. Lancelot sengaja pergi meninggalkan Hanifah dan nona An, agar Hanifah tetap leluasa dalam menjalankan tugasnya.


Lancelot duduk di gazebo taman samping rumah keluarga Bisseling, sambil mengerjakan pekerjaannya. Tuan dan nyonya Bisseling begitu melihat Lancelot sedang duduk di gazebo segera menghampirinya.


"Rasanya seperti baru kemarin kita selalu menghabiskan waktu kita bersantai di sini." ucap tuan Bisseling yang kedatangannya tidak di sadari oleh Lancelot.


"Pa, Ma," sapa Lancelot menoleh ke arah asal suara.


"An, sudah tidur?" tanya nyonya Bisseling.


"Mungkin, sebab tadi saat aku pergi baru mau tidur," jawab Lancelot.


"Kalau ada An pasti akan lebih menyenangkan." ucap nyonya Bisseling.

__ADS_1


"Kenapa kamu biarkan Hanifah dan An tidur di kamarmu?" tanya tuan Bisseling.


"Aku mengijinkan anakku lebih dekat denganku, dan tidak mungkin aku mengajak An, saja papa-kan tahu An tidak bisa lepas dari Hani." sahut Lancelot.


"Papa tahu usia kamu tidak muda lagi, bahkan sudah sepantasnya memiliki keluarga dengan anak berusia sepuluh tahun, jangan pernah mempermainankan wanita." pesan tuan Bisseling.


"Lanc, tahu papa takut Lanc, akan mencoreng nama baik keluarga, pape dan mama percaya sama Lanc, berada di dalam satu kamar dengan Hani, bukan berarti Lanc, bisa Berbuat kurang ajar Hani, bukan wanita sembarangan."


"Bagus kalau kamu sekarang sadar siapa wanita pengasuh An," nyonya Bisseling yang bersuara.


"Titip mereka bedua." ucap Lancelot lagi.


"Kamu tenang saja, Lanc apa kamu tidak ingin bertemu dengan ibunya An?" tanya tuan Bisseling.


"An, suatu saat pasti bertumbuh lalu Hani di sini hanya sebatas terikat kontrak kerja, bila waktunya tiba Hani pasti akan kembali ke negaranya dan orang tuanya juga pasti menginginkan anaknya membangun rumah tangga kembali." jelas tusn Bisseling.


"Papa dan mama jangan khawatir Lanc, sudah pikirkan hal itu." sahut Lancelot santsu.


"Hampir sepuluh tahun kamu tidak lagi menginap di sini, kali ini tiba-tiba kamu ingin tidur dan menginap di sini, apa karena Hani atau An?" tanya nyonya Bisseling penasaran.


"Dua-duanya, sebab aku ingin kalian bisa lebih dekat jika aku berada di luar negeri dalam waktu agak lama, dan kalian bisa membantuku dan An untuk mengikat Hani, agar Hani bisa tetap bersama kami, semakin lama Lanc sadar rasanya lanc, tidak tega jika memisahkan An dari Hani, An pasti yang terluka." jelas Lancelot.


"Jika itu yang kamu inginkan lakukan kami pasti mendukungmu, jadilah laki-laki yang bertanggung jawab, kamu harus mencintai Hani, namun jika kamu tidak mencintai Hani, lepaskan dia, jangan mengikat wanita tanpa cinta." nasehat tuan Bisseling.

__ADS_1


"Ya, Lanc paham hal itu."


"Dan jangan karena wanita kamu kehilangan kendali." pesan tuan Bisseling lagi.


"Mama setuju dengan pendapat papamu," tambah nyonya Bisseling.


"Terima kasih, papa dan mama tetap mendukung dan menyayangiku, aku merasa seperti bocah lima tahun." ucap Lancelot.


"Seorang anak itu akan selaku terlihat kecil di mata orang tuanya." jelas Nyonya Bisseling.


Nyonya Bisseling, Tuan Bisseling dan Lancelot menghabiskan siangnya berada di gazebo taman, mereka bersendau gurau, bercerita masa-masa kebersamaan mereka dan tidak luput tentang pembahasan pekerjaan mereka. Hanifah tidak bisa tidur dia tetap berada di dalam kamar tanpa melakukan apapun, Hanifah merasa tidak nyaman berada di dalam kamar Lancelot sendirian, dia ingin mengemas kopernya namun tidak tahu harus di taruh di mana. Dari jendela Hanifah memandang ke arah keluar untuk menetralkan pikirannya yang di buat kesal oleh Lancelot, dari jendela Hanifah baru sadar jika rumah milik keluaegs Bisseling berada di dataran tinggi" Mungkin seperti ini-kah berada sangar emas" batin Hanifah . Setelah dua jam nona An bangun dari tidurnya Hanifah segera menghampiri nona An, nona An tidak segera bangun dia masih rebahan di atas ranjang dan berguling-guling malas, Hanifah mengikuti nona An mereka berdua tertawa, Hanifah tidak henti-hentinya menggoda nona An, hingga nona tertawa cekikikan.


"Anak papa sudah bangun kelihatannya bahagia sekali." ucap Lancelot yang baru masuk kamarnya.


"Tuan," sapa Hanifah datar.


Lancelot setelah menaruh gadgednya di atad meja, Lancelot menyusul Hanifah dan An di atas kasur, Lancelot berbaring di sebelah nona An sambil menggelitik dan memeluk nona An. Hanifah merasa tidak nyaman dengan hadirnya Lancelot dalan satu ranjang, di saat Hanifah ingin beranjak pergi dengan cekatan tangan Lancelot mencekal tangan Hanifah.


"Tetap di sini Han, aku tidak ingin merusak kebahgiaan An, tolong jaga An selama aku tidak bisa menjaganya, An nyawaku aku titipkan nyawaku padamu, jangan pergi tanpa seijinku semua ini demi kebaikan kita semua, kamu harus terbiasa dengan keadaan ini, sekarang dan selamanya." oceh Lancelot.


Hanifah diam mendengarkan penuturan dari Lancelot, Hanifah berusaha mencerna ucapan Lancelot.


"Kamu tenang saja Han aku tidak akan mengganggumu kamar ini merupakan bagian dari An dan tentunya juga kamu kamu bebas menggunakan kamar ini, jujur saja ini pertama kalinya aku mengijinkan wanita menempati kamarku, namun kalau bukan karena An, putriku tentu siapapun tidak akan ku-biarkan untuk menempati kamar ini, selama aku tidak ada di negara ini dan selama aku tidak bisa menjaga kalian tetaplah tinggal di sini di rumah ini bersama dengan orang tuaku, aku takut anak buah A ling mengganggu kalian." jelas Lancelot panjang lebar.

__ADS_1


Hanifah tetap diam dan mendengarkan semua ucapan dari Lancelot, ingin rasanya Hanifah bertanya akan maksud dari ucapan Lancelot, namun lidah Hanifah terlanjur kelu seperti ada suatu hal yang membuat lidahnya kaku dan mulutnya terkunci.


__ADS_2