
Pagi-pagi buta di rumah keluarga Hanifah sudah sangat ramai, jam lima pagi kru MUA, yang di sewa oleh Hanifah juga sudah datang, di dapur juga sudah banyak sekali kerabat dan tetangga melakukan aktifitas sesuai tugas masing-masing untuk mendukung kelancaran akad nikah Hanifah pagi ini.
Seorang MUA, dan asitennya dengan lincah menggoyangkan jarinya untuk mengaplikasikan bedak ke wajah Hanifah, Hanifah memilih riasan flowlees, bisik-bisik tetangga juga sudah mulai terdengar, ada beberapa tetangga yang mengomentari calon suami Hanifah, karena Lancelot memiliki anak maka semua mengira jika Hanifah, menikah dengan seorang duda beranak satu.
Nona yang ikut bangun awal dengan Hanifah, dia dengan setia duduk di dekat Hanifah dan menemani Hanifah saat di rias, Hanifah juga memilihkan sepotong baju kebaya warna senada, namun Hanifah memesan khusus dari tukang jahit dekat rumahnya.
"Mama, tantik."celoteh nona An.
"Anaknya pinter sekali mbak, dan faaih sekali memanggil mbak dengan sebutan mama?" tanya perias heran.
"Iya, mbak soalnya dari sejak lahir aku yang merawat."sahut Hanifah jujur.
"Antik dan cantik, seperti anak blasteran," ucap perias.
"Ya memang blasteran America dan Asia mbak, makanya tidak sama kita." sahut Hanifah.
"Pantesan, tapi pinter sekali menggunakan bahasa Indonesia," puji perias.
Perias kembali serius melakukan tugasnya, jam delapan pagi rombongan mempelai laki-laki datang, Lancelot tidak membawa banyak orang, Lancelot hanya membawa kekuarga inti dan teman dekat Ang dan istrinya.
Nyonya Bisseling Garnier dan Ang sangat penasaran dengan make up Hanifah, maka dia langsung menemui Hanifah yang masih dalam proses make up.
__ADS_1
"Oma, tante!" seru nona An begitu melihat kedatangan mereka bertiga.
"Keponakan tante, tante kangen sekali." ucap Garnier memeluk nona An.
Nyonya Bisseling memberi acungan jempol pada Hanifah, dengan sebuah senyuman senang dan bangga.
"Pantas saja kawan ku tergila-gila padamu Han, sangat cantik sekali." nyonya Ang memuji kecantikan Hanifah.
"Terima kasih nyonya." sahut Hanifah sopan.
"Selamat sayang, kakak senang sekali." Garnier memeluk Hanifah, sampai yang perias menghentikan aktifitasnya.
"Terima kasih nyonya." sahut Hanifah masih dengan sebutan nyonya.
"Mbak, untuk pengantin lelakinya suruh masuk mau di rias dan bikin video." pinta perias pada Hanifah.
"Baik, mbak." sahut Hanifah, Hanifah segera bilang ke Garnier untuk memanggilkan Lancelot" Nyonya bisa minta tolong untuk memanggilkan tuan Lanc, soalnya mau di rias dan bikin video."
"Iya Han, bikin videonya gak pas Prewed to Han?" tanya Garnier.
"Tidak nyonya karena kami tidak ada waktu dan memang saya yang tidak mau, enakan bikin video pas seperti ini dan nanti setelah akad nikah saja." jelas Hanifah.
__ADS_1
"Unik, baru kali ini Aku tahu menikah tanpa buat Prewed, Baiklah aku panggilkan dulu Lanc." ucap Garnier, langsung pergi mencari Lancelot.
Nyonya Bisseling dan nyonya Ang kembali ke tempat duduk semula, sedang nona An tetap duduk mendampingi Hanifah.
"Keluarga calon suami mbak itu baik sekali, friendly semua." puji perias.
"Alhamdulillah mbak, rejeki." sahut Hanifah santai.
"Han, ini Lanc." ucap Garnier sambil menggandeng Lancelot.
"Assalamu'alaikum pa, mama tantik." ucap nona An.
"Anak papa hari ini juga sudah cantik sekali, anak papa kangen sama papa tidak." Lancelot menggendong nona An yang sudah cantik dengan kebaya putih mirip milik Hanifah.
"Kangeen sekali tapi aku kangen mama telus." ucap nona An polos.
Lancelot sangat kagum melihat Hanifah yang sudah hampir selesai di rias, dan sudah memakai kebaya lengkap hanya tinggal pemasangan sedikit aksesoris.
"Mbak, calon suaminya asli orang luar bisa bahasa Indonesia gak mbak, soalnya saya gak bisa bahasa asing." jujur perias.
"Bisa kok mbak sedikit-sedikit."sahut Hanifah.
__ADS_1
"Tuan, maaf kami mau memulai untuk merias tuan." ucap perias sopan.
Salah satu perias satunya mulai merias Lancelot, perias mengaplikasikan bedak yang tipis dan natural sekali di sesuakam dengan riasan Hanifah. Hanifah, Lancelot dan nona An memakai pakaian dengan warna senada yaitu warna putih.