Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 123


__ADS_3

Kabar tentang kesembuhan Lancelot sudah sampai di telinga tuan Bisseling, Dandruff dan beberapa staf kantor yang sedang mengikuti meting. Tuan Bisseling tak kuasa menahan tangis bahagia ketika mendapati kabar dari nyonya Bisseling.


"Metting kita tunda sampai besok saya harus ke rumah sakit." ucap tuan Bisseling, tergesa-gesa menutup metting hari ini" Dand, temani aku." pinta tuan Bisseling.


"Baik Tuan."


Tuan Bisseling dengan di temani oleh Dandruff mereka meninggalkan kantor, dengan kecepatan sedang sebuah mobil tesla yang membawa tuan Bisseling dan Dandruff meluncur menuju rumah sakit tempat Lancelot di rawat. Hanya butuh tiga puluh menit tuan Bisseling sudah berada di koridor rumah sakit, depan kamar Lancelot, di sana nyonya Bisseling dan Hanifah masih duduk di koridor dengan di temani para bodyguardnya.


"Ma," sapa tuan Bisseling langsung duduk di samping Nyonya Bisseling "Bagaimana keadaan Lanc?" tanya tuan Bisseling.


"Lanc, sudah sadar Pa, dokter Guan sekarang sedang memeriksanya, anak kita benar-benar sudah bangun Pa." ucap nyonya Bisseling girang.


"Papa bahagia sekali, Ma akirnya anak kita bisa bangun," Tuan Bisseling tidak kalah bahagia.


Mereka berada di luar kamar, menanti dokter Khong Guan keluar dari kamar Lancelot. Keluarga Bisseling menanti dengan tidak sabar ingin segera tahu keadaan Lancelot yang sebenarnya. Setelah hampir dua jam dokter Kong Guan melakukan pemeriksaan terhadap Lancelot, akhirnya dokter Khong Guan keluar dengan di ikuti oleh dua susternya.


"Bagaimana Dok?" tuan Bisseling segera menghampiri dokter Kong Guan yang baru keluar dari kamar Lancelot.

__ADS_1


"Tuan dan nyonya, mari ikut ke ruangan saya." perintah dokter Khong Guan pada tuan dan nyonya Bisseling.


"Baik, Dok," sahut tuan Bisseling.


Dokter Kong Guan melangkah pergi meninggalkan keluarga Bisseling dengan di-ikuti oleh dua suster, tuan dan nyonya Bisseling juga mengikuti langkah dokter Khong Guan, mereja bersama-sama menuju ruangan dokter Khong Guan.


"Silakan duduk Tuan, Nyonya." dokter Khong Guan mempersilakan tuan dan nyonya Bisseling untuk duduk.


"Terima kasih Dok." sahut tuan dan nyonya Bisseling.


"Sus tolong ambilkan berkas tuan Lancelot." perintah dokter Kong Guan.


"Bagaimana dengan anak kami Dok?" nyonya Bisseling sudah tidak sabar ingj mendengar penjelasan dari dokter Khong Guan.


"Begini Tuan, Nyonya, tuan Lanc memang sudah sadar, sekarang langkah selanjutnya kita harus melakukan terapi dan fisioterapi, karena saat ini data ingat tuan Lanc, belum bisa pulih seratus persen, dan saya minta bantuan dari keluarga untuk memberi dukungan moril pada tuan Lancelot," terang dokter Khong Guan.


"Dok, lakukan yang terbaik, kami akan mengikuti saran dari dokter." ucap tuan Bisseling.

__ADS_1


"Seperti yang suster katakan tadi, pertama yang di sebut oleh tuan Lanc, adalah nona Han dan nona An l, maka saya sarankan nona Han dan nona An, agar lebih inten dalam berinteraksi dengan tuan Lanc." jelas dokter Kong Guan.


"Baik, Dok, akan kami bicarakan dengan Han, kapan terapi akan di mulai?" tanya tuan Bisseling.


"Melihat kondisi tuan Lancelot, besok kita sudah mulai bisa melakukan terapi, kami akan mengatur jadwal terapi untuk tuan Lanc, sebentar biar saya cek jadwal saya." dokter Kong Guan melihat layar komputer yang ada di depannya, serta mengecek berkas Lancelot, untuk menentukan jadwal terapi Lancelot. "Begini Tuan, Nyonya, besok pagi jam sepuluh tuan Lancelot, sudah mulai bisa terapi, bagaimana ?apakah nona An dan nona Hani, bisa menemaninya?" tanya dokter Kong Guan untuk memastikan.


"Kalau Han saya rasa bisa, namun jika An, karena harus sekolah jadi An, tidak bisa ikut serta untuk mendampingi Lanc," sahut nyonya Bisseling.


"Tidak, mengapa asal salah satu dari mereka ada yang datang, jika nona tidak bisa hadir maka nyonya bisa ikut serta," jelas dokter Kong Guan.


"Baik Dok, jadi besok Lanc, sudah bisa menjalani terapi?" nyonya Bisseling memastikan lagi.


"Iya nyonya, dan ini jadwal sementara dalam satu minggu ini." dokter Khong Guan menyodorkan kertas yang beusi jadwal terapi Lancelot.


"Terima kasih Dok." tuan Bisseling menerima kertas tersebut, lalu membaca dan menyimpannya.


"Kalau begitu kami pamit dulu Dok." nyonya Bisseling dan tuan Bisseling meninggalkan ruangan dokter Khong Guan.

__ADS_1


Tuan dan nyonya Bisseling denbsboersaan bahagia menuju koridor rumah sakit tempat Hanifah menanti.


__ADS_2