
Hari berganti dengan cepatnya, setiap hari Hanifah selalu menemani Lancelot untuk melakukan terapi dan juga fisioterapi, karena nyonya Bisseling harus membantu Tuan Bisseling di kantor maka nyonya Bisseling menemani Lancelot terapi dan fisioterapi hanya sesekali saja. Selama menemani Lancelot Hanifah mendapat bimbingan khusus untuk perawatan lanjutan Lancelot, tentu masih dalam pengawasan dokter Khong Guan. Selama dalam masa pemulihan Lancelot tidak mau di rawat oleh suster, Lancelot memilih Hanifah untuk merawatnya, dengan alasan karena Hanifah sudah lama bekerja padanya dan juga karena Hanifah yang merawat nona An, dengan begitu memudahkan Lancelot untuk bisa lebih dekat dengan nona An, Putri tunggalnya.
Selama Hanifah mendampingi Lancelot terapi dan fisioterapi tidak hanya sekali atau dua kali Hanifah mendapat bentakan dari Lancelot, karena Lancelot belum bisa menerima kenyataan jika dirinya masih belum berdaya, namun Hanifah tetap berusaha sabar dan ikhlas demi nona An.
Dua bulan telah berlalu Lancelot sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah, keadaan Lancelot sudah sangat membaik namun untuk jalan masih belum bisa berjalan dengan sempurna. Setelah menjemput nona An dari sekolahan Hanifah mengajak nona An, untuk ke rumah sakit menjemput Lancelot, untuk keluar dari rumah sakit. Sebenarnya jam dua belas siang Lancelot sudah boleh pulang, namun Lancelot menunggu kedatangan Hanifah dan juga nona An, Tuan dan nyonya Bisseling yang melihat kelakuan Lancelot hanya bisa geleng-geleng kepala.
Jam satu siang Hanifah dan nona An, memasuki rumah sakit dengan di kawal bodyguardnya, Hanifah dengan mengendong nona An, menuju kamar Lancelot. Di dalam kamar Lancelot sudah ada tuan dan nyonya Bisseling serta suster yang bertugas membantu Hanifah untuk terapi Lancelot, jika dulu suster membantu Hanifah untuk merawat nona An, sekarang seorang suster untuk membantu Hanifah dalam merawat Lancelot.
"Tuan, Nyonya selamat siang." sapa Hanifah sopan.
"Han, An sudah datang." sahut nyonya Bisseling.
"Baiklah Kalian sudah datang, entah ." sapa tuan Bisseling
"Papa, Oma, Opa." sapa nona An berlari menuju Lancelot yang sedang duduk di kursi roda.
Lancelot menyambut putrinya sangat senang sekali.
"Anak papa, sudah besar dan cantik." ucap Lancelot "Sini pangku Papa." Lancelot mengangkat nona An dan di pangkuannya.
"Pa Ca... pek." rengek nona An manja pada Lancelot.
"Nona, papa belum sembuh benar, nanti sampai rumah saja ya sama papanya." nasehat Hanifah lembut.
"Kamu gak membiarkan An, bersama ku Han, dia itu anakku An." Lancelot sedikit emosi dan membentak Hanifah.
"Maaf, tuan." sahut Hanifah mengalah.
Nona An langsung turun dari pangkuan Lancelot, langsung memeluk kaki Hanifah.
"An, sini sama Papa sayang." Lancelot merayu nona An.
Nona An, menggeleng tidak mau "Aku mau mama, aku gak mau papa."
__ADS_1
"Lanc, kamu lihat sendiri." timpal nyonya.
"Sayang, papa itu sangat sayang lo sama Putri mama yang cantik ini." Hanifah merayu.
"An, gak suka papa, aku gak suka papa malah mama." teriak nona An.
"An, anak papa baiklah papa minta maaf, papa tidak akan marah ke mama, lihatlah papa minta maaf ke mama ya, Han, maaf." ucap Lancelot langsung menyadari kesalahannya.
"An, gak mau papa." Nona An tetap pada pendiriannya.
"An, papa kan sudah minta maaf ke mama, papa janji papa tidak akan marah ke mama." Lancelot masih merayu nona An yang ngambek.
Tuan dan nyonya Bisseling serta sang suster diam menjadi penonton pertunjukkan Hanifah, nona An, dan Lancelot.
"Sayang, ayo peluk papa, papa tadi tidak marah papa hanya kaget saja, nona An, sayang mamakan? Ayo peluk papa." Hanifah merayu nona An dengan lembut.
Nona An tidak menjawab malah menarik tangan Hanifah dan menarik tangan Lancelot.
"Pa ni cala minta maaf mama." Nona An menyatutukan tangan Hanifah dan Lancelot.
"Baiklah, papa mengalah my princess." ucap Lancelot setelah sadar dari kecanggungannya. "Han, aku minta."
"No no, no Han, Ma ma ma, seperti aku."
"Nona, cara papa sudah benar." bujuk Hanifah.
"No no ma, pa pa salah." Nona An tetap kekeh.
Nyonya Bisseling tuan Bisseling Dandruff menahan tawa melihat tingkah tiga orang itu, Hanifah tetap seperti biasa tanpa ekpresi sedang Lancelot semakin gugup, nona An tetap pada pendiriannya memegangi tanam Lancelot dan Hanifah agar tidak di lepas, Hanifah berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman tangan Lancelot, namun Lancelot dan nona An tidak membiarkan tangan keduanya terlepas.
"Baiklah, sekarang An tolong ajari papa, minta maaf yang baik ke mama." Lancelot berbicara lembut pada nona An.
"Nama maaf." ucap nona An percaya diri.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang An dengerin papa ya, mama papa minta maaf papa janji tidak akan marah ke mama lagi." Lancelot berucap dengan bersungguh-sungguh tentu dengan pandangan penuh kasih.
"Saya sudah memaafkan tuan." jawab Hanifah jujur dan tetap datar.
"Mama, no tuan, pa pa." Nona An dengan cedal menegaskan kata papa.
"Allahu Akbar, pa mama sudah memaafkan." Hanifah berusaha berbicara senormal mungkin.
"Yeahh, hali ini An punya mama dan papa!" Nona An berseru girang sekali.
"Baiklah sudah sangat siang, kita pulang dulu ya An, kasihan papa terlalu lama duduk nanti malah capek." nasehat nyonya Bisseling lembut.
Setelah drama setengah jam di dalam kamar, barulah mereja keluar dari kamar, Lancelot duduk di kursi roda dengan di dorong oleh Dandruff sedangkan nona An, berjalan di depan tangannya di gandeng Hanifah sambil terus bercerita, di usianya yang baru tiga tahun nona An sudah sangat pandai berbicara walau masih cedal.
"Lanc, lain kali hati-hati jika berbicara dengan anakmu, kamu bisa lihat sendiri sekarang betapa kritisnya anakmu." nasehat nyonya Bisseling pada Lancelot.
"Anakmu menuruni kepintaranmu Lanc." tambah tuan Bisseling memuji Hanifah.
"Hani, berhasil mendidik An, tidak salah memilih Hani, untuk di jadikan mamanya An." ucap Lancelot.
Saat keluar dari rumah sakit ternyata ada beberapa wartawan sudah menanti Lancelot untuk keluar dari rumah sakit. Para bodyguardnya dengan sign segera melindungi Hanifah nona An dan lainnya, namun masih ada saja wartwan yang nekat nyeribot dan mewawancarai Hanifah.
"Nona, apa benar anda kekasih tuan muda Lancelot?" tanya wartwan
"Maaf saya hanya pengasuh nona An." jawab Hanifah sopan dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Tuan muda apa benar dengan yang di katakan nona tadi? Apa benar nona tadi hanya pengasuh nona An?" tanya wartwan beda orang.
"Dia, mamanya Anakku, dia calon istriku." Lancelot malah dengan banggaengakui jika Hanifah adalah calon istrinya.
Hanifah tidak bisa berkutik, dia memilih diam, sekarang wartawan itu yang menanyai tuan dan nyonya Bisseling.
"Nyonya dan tuan apa benar dengan apa yang di katakan tuan muda tadi?"
__ADS_1
"Jika anakku sudah mengatakan itu berarti, iya." tuan Bisseling malah memperkuat jawaban Lancelot.
"Tuan nyonya kapan tuan muda Lanc, menikah dan kapan akan di gelar pestanya?" tanya wartwan terus mencari jawaban dari Lancelot, Hanifah, tuan dan nyonya Bisseling, namun Hanifah memilih bungkam.