Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 153


__ADS_3

"Lanc, setuju dengan Dand," ucap Lancelot antusias "Han kita menikah atau belum setelah masa libur sekolah An, usai kamu harus tetap ikut dengan kami, kami akan tetap memboyong kamu ke Hongkong." ucap Lancelot menperjelas.


"Tuan, bukankah kontrak kerja saya sudah habis, bagaimana mungkin saya bisa kembali ke negara Hongkong secara bebas?" tanya Hanifah yang buta akan prusedur di negara Hongkong.


"Dandruff yang akan mengaturnya, kamu tenang saja, yang pasti kamu terima beres begitu saja." jelas Lancelot pada Hanifah.


"Benar Han, apa yang di katakan oleh Lanc, kamu tinggal terima beres semua biar kita yang mengatur, masih ada Dandruff yang bisa kita andalkan, yang penting sekarang An, tidak terpisah dengan namanya." tambah nyonya Bisseling.


"Tuan, nyonya maaf selama saya belum terikat pernikahan resmi secara agama dan negara saya tidak bisa mengikuti tuan dan nyonya kembali ke negara Hongkong, sekali lagi saya mohon maaf." Hanifah menolak ajakan Lancelot dan keluarganya, secara sopan.


"Alasannya?" tanya nyonya Bisseling, namun tidak dengan Lancelot, Lancelot mengerti dengan alasan yang di lontarkan oleh Hanifah.


"Karena saya seorang wanita, tentu saya akan ikut tuan dan nyonya jika saya ada ikatan yang resmi, misal terikat kontrak kerja atau pernikahan secara legal." jelas Hanifah.


"Kalau begitu, besok biar Dandruff mulai urus segala administrasi kalian, dan dalam satu bulan ini semua harus beres kalian berdua harus sudah menikah aku tidak ingin menunda terlalu lama, mama akan segera memesan beberapa keperluan kalian, dan Garnier juga harus segera di kasih tahu kabar gembira ini." pinta nyonya Bisseling.


Tuan dan nyonya Bisseling sangat antusias menyambut pernikahan Lancelot dan Hanifah, bisa melihat dan menggelar pesta pernikahan Lancelot merupakan sebuah impian terbesar tuan dan nyonya Bisseling. Seperti yang teetulis dalam takdir jika jodoh, mati dan rezeki merupakan sebuah misteri, yang tidak bisa di tebak, seperti sekarang Lancelot baru menemukan jodohnya di usia menjelang empat puluh lima tahun.


"Aku menghargai keputusanmu Han, aku juga akan memboyongmu jika kita sudah resmi menikah sah secara agama dan negara, terima kasih kamu sudah menjaga kehormatanmu untuk suamimu." ucap Lancelot bangga dengan sifat Hanifah yang begitu tegas, jika wanita tanpa iman akan mudah menyerahkan tubuhnya secara cuma-cuma namun tidak dengan Hanifah, dua wanita yang bisa menjaga kehormatannya.

__ADS_1


"Terima kasih Tuan, jika Tuan paham dengan alasan saya." ucap Hanifah sopan.


"Han, sampai kapan kamu akan memanggil Lancelot dengan sebutan tuan, apa gak terlalu konyol." protes tuan Bisseling, denngan senyum menggoda.


"Maaf tuan saya sendiri tidak tahu harus memanggil tuan Lanc, bagaimana secara apapun perbedaan usia kami juga sangat jauh." ucap Hanifah, jujur.


"Jangan bilang aku terlalu tua ya Han." protes Lancelot.


Semua yang mendengar ucapan Lancelot langsung tertawa.


"Akirnya kamu sadar juga ya Lanc, jika usia kamu sudah tidak muda, beruntung ada Hanifah, yang mau menikah dengan kamu." goda nyonya Bisseling pada Lancelot.


Perasaan lega mewarnai kedua belah pihak keluarga, perjuangan Lancelot selama ini akhirnya bisa terwujud dengan baik. Hari menjelang sore Lancelot berencana untuk kembali ke villa karena tidak mungkin mereka menginap di rumah orang tua Hanifah, karena vasikitas di rumah orang tua Hanifah tidaklah memadai seprti di villa.


Jam lima sore Lancelot dan yang lain pamit untuk kembali ke villa, namun karena Nona An, tidak mau berpisah dengan Hanifah, akhirnya nona An, tidak mua ikut dengan Lancelot. Nona An tiada hanya menolak untuk kembali ke villa namun nona An, juga melarang Lancelot untuk kembali ke villa.


"Sayang, di rumah mama tidak ada tempat buat papa, kamu kan tahu kasur nya kecil hanya cukup untuk mama dan princes mama, ya kan, besok pagi-pagi sekali papa bakal datang ke sini lagi ya." Hanifah berusaha merayu nona An dengan lembut.


"Dak mau, aku mau papa di sini." rengek nona An.

__ADS_1


"Kalau begitu biar oma dan opa yang kembali ke villa, An dan papa jaga mama jangan sampai mama hilang." pesan nyonya Bisseling pada nona An.


"Lanc, turuti anakmu kamu juga harus belajar hidup di rumah ini," pesan tuan Bisseling.


"Pa, bukannya Lanc, tidak mau menuruti kemauan An, kita ini sekarang berada di kampung, tidak mungkin Lanc, menginap di sini tanpa ada ikatan yang sah," ucap Lancelot.


"Kalau hanya untuk satu malam saja saya kita tidak mengapa tuan, tapi jika lebih lama saya kurang yakin jioa masyarakat sekitar bisa menerima."jelas Setu Pon.


"Lalu, bagaimana solusinya agar anak dan cucuku bisa di terima di sini dengan baik?" tanya tuan Bisseling pada Setu Pon.


"Menikah, itu cara yang baik," jawan Setu Pon.


"Bukankah untuk menikah masih harus menyelesaikan administrasinya?" tanya tuan Bisseling.


"Pa, Ma, sebaiknya kira bahas ini besok saja, malam ini jika Hanifah dan keluarganya mengijinkan aku nginap di sini maka aku akan nginap di sini, namun jika tidak di ijinkan ya aku akan kembali ke villa." putus Lancelot.


"Kalau hanya untuk satu malam, tidak masalah, tapi ya beginilah keadaan keluarga kami." Legi akhirnya bersuara.


"Terima kasih tuan." sahut Lancelot senang bukan kepalang.

__ADS_1


__ADS_2