Anak Dari Rahim Kontrak.

Anak Dari Rahim Kontrak.
Part 27


__ADS_3

"Lalu bagaimana status anak itu jika tidak ada ikatan pernikahan, bagaimanapun membuat akte dan surat-surat lainnya pasti membutuhkan surat nikah?" tanya Hanifah penasaran.


"Di negara ini tanpa adanya pernikahan semua anak bisa memiliki identitas resmi dan diakui oleh negara sah di mata hukum, walau tidak diketahui ibu dan ayahnya sekalipun, jadi pernikahan bagi mereka yang tidak mau terikat itu tidak begitu merisauakan untuk anak muda jaman sekarang, namun alangkah baiknya jika anak terlahir dari keluarga yang utuh." ucap tuan Bisseling.


"Maksudnya bagaimana? maaf saya tetap tidak paham." jujur Hanifah karena bagi Hanifah memiliki anak tanpa tali pernikahan adalah hal tabu dan sangat memalukan.


"Di negara ini, walau hanya status pacaran boleh memiliki anak, dan anaknya juga bisa memiliki akte Sebagaimana anak pada umumnya, dan mereka tinggal serumah dengan sang pacar tanpa adanya tali pernikahan itu hal biasa bahkan sampai melahirkan anak, jadi di dalam akte jika tidak di ketahui siapa ayahnya maka hanya nama ibunya saja, dan untuk kasusnya An, ini hanya ada nama Lancelot saja seabagai orang tua An, tanpa ada nama mama kandung An, sebab perjanjian yang mereka lakukan begitu, tidak boleh mencantumkan nama orang yang telah melahirkan An cucu kami." jelas tuan Bisseling panjang lebar tentu dengan perasaan tidak menentu dengan keputusan Lancelot.


Hanifah mendengar jawaban dari tuan Bisseling benar-benar dibuat terkejut dan sampai tidak bisa menanggapi apa-apa hanya bisa menanggapi dengan ber oh ria saja sambil mencerna penjelasan dari tuan Bisseling, sebab ini pertama kalinya Hanifah mendengar tentang rahim kontrak. Kalau istilah nikah kontrak Hanifah pernah dengar dari beberapa orang namun untuk istilah rahim kontrak benar-benar hal baru bagi Hanifah. Tuan Bisseling dan nyonya Bisseling menjelaskan beberapa hal yang tidak dimengerti Hanifah dan nyatanya Hanifah tetap sulit untuk memahaminya.


Lancelot yang sejak tadi berada di dalam ruang kerjanya dia masih terus terbayang akan peristiwa tadi sore, walau hanya cukup sekilas namun cukup membuat otak Lancelot porak poranda. Lancelot memutar ulang CCTV yang terhubung di kamar Putrinya, dari layar CCTV Lancelot dapat melihat jelas bagaimana Hanifah menyusui anaknya dan juga bagaimana anaknya begitu lahapnya meminum ASI dari Hanifah, dan tentunya dapat terlihat jelas betapa berisinya kedua tempat ASI putrinya.


"Gila." Lancelot langsung frustasi karena otaknya mulai terkontaminasi, lebih dari sepuluh tahun Lancelot saja sekali tidak tertarik dengan wanita padahal pergi ke bar dan melihat wanita cantik dan berdandan sangat seksi, dan vulgar dari penampilsn Hanifah sudah hal biasa namun begitu melihat Hanifah sekilas saja langsung membuat Lancelot frustasi. Untuk menghilangkan betapa frustasinya Lancelot memutar film yang berbau humor yang dibintangi oleh Steven Chow dan Anita mui. Padahal tadi siang Lancelot berencana ingin menghabiskan waktunya dengan Putri tunggalnya, namun semua diurungkan oleh Lancelot sendiri demi menghindari bertemu dengan Hanifah.


Tuan Bisseling merasa ada keganjalan pada putranya maka tuan Bisseling menyusul Lancelot ke ruang kerjanya, memang sungguh miris hidup Lancelot hampir dua puluh tahun tidak mengenal indahnya cinta dari wanita, Lancelot hanya tahu bekerja untuk mengumpulkan materi, apapun yang dilakukan oleh Lancelot bukan tanpa sebab.


"Lanc, boleh papa masuk?" seru papanya, sebab nyonya Bisseling memilih duduk di taman belakang dengan ditemani Hanifah.


"Masuk pa!" sahut Lancelot dari dalam ruangannya.

__ADS_1


"Ada masalah, papa perhatikan tadi kamu seperti ada yang di rahasikan dari kami?" tanya tuan Bisseling penasaran.


"Tidak ada pa, hanya ada sedikit pekerjaan yang bikin stress, tapi sudah beres kok pa." bohong Lancelot.


"Beneran,? papa rasa kamu bohong, ada yang kamu rahasikan, jika kami tidak mau bicara ya sudah, tidak mengapa." tebak tuan Bisseling.


"Pa, ini filmnya lucu sekali." Lancelot malah mengalihkan pembicaraan.


"Aku mau keluar, menenani mamamu, kasihan sendirian tadi ditemani oleh Hanifah duduk di taman dan Hanifah kelihatannya juga sudah sangat lelah." ujar tuan Bisseling.


"Kenapa Hanifah tidak disuruh istirahat saja?, sudah seharian penuh Hanifah jalan-jalan bersama kami." ujar Lancelot langsung khawatir.


"Pa, terima kasih sudah mau menerima putriku." ucap Lancelot sendu.


"Lanc, cukup sekali ini saja, papa itu tidak setuju dengan rahim kontrak ada sebabnya, kasihan anakmu yang tidak memiliki ibu kandung, papa tidak memikirkan kamu mau menikah dengan siapa saja asal berasal dari keluarga yang baik-baik, supaya kamu mendapatkan keturunan yang baik dan anakmu memiliki keluarga yang utuh, apa kamu tahu siapa ibunya An, dan bagai mana perilakunya?" jelas tuan Bisseling pada Lancelot.


"Untuk saat ini, Lanc mau fokus ke perusahaan saja pa, toh usia sudah hampir empat puluh tahun, rasanya kurang pas jika masih memikirkan tentang rumah tangga, dan sekarang aku sudah punya An putriku." jawab Lancelot percaya diri.


"Setiap saat papa berdoa pada Tuhan agar An, punya mama yang penuh kasih sayang, kamu tidak butuh istri tapi An, cucuku pasti membutuhkan mama," jelas tuan Bisseling."Papa mau ke taman nyusul mamamu, dan sekarang juga agak malam, biar Hani cepat istirahat." ucap tuan Bisseling.

__ADS_1


"Kak Nier ini sudah jam sembilan lebih, kok malah belum pulang."


"kakakmu nginep di hotel tadi sudah telpon mama, soalnya di sini gak ada pelayan takut ribet apalagi kakakmu bawa anak-anak ." jelas tuan Bisseling.


"Oh,." jawab Lancelot mengerti.


Tuan Bisseling meninggalkan Lancelot sendirian yang masih menikmati filmnya tadi sambil tertawa-tawa sendiri. Begitu sampai di taman tuan Bisseling menyuruh Hanifah untuk segera istirahat karena sudah larut dan pastinya tuan dan nyonya Bisseling ingin menghabiskan waktunya berdua saja.


"Ada apa dengan Lanc, pa?" tanya nyonya Bisseling.


"Tidak ada apa-apa." jawab tuan Bisseling sambil duduk di samping nyonya Bisseling.


"Sepertinya anak kita sudah ada tanda-tanda dia tertarik dengan seseorang." tuan Bisseling menarik kesimpulan sendiri.


"Apa dengan Lanc?." nyonya Bisseling langsung penasaran.


"Tidak tahu pastinya, namun tadi papa lihat dia sedang menahan sesuatu dan merahasiakan sesuatu." ungkap tuan Bisseling.


Dua orang tua itu kini sedang menikmati masa tuanya bersama di taman di bawah redupnya sinar lampu taman , mereka berdua saling bercerita dan tertawa, tanpa mereka berdu sadari Lancelot melihat aktifitas mereka berdua di balik kaca pembatas antara taman dan ruang tengah, Lancelot begitu mrnghayati di saat tuan Bisseling mengungkapkan kasih sayangnya pada nyonya Bisseling, rasa iri kini menghinggapi relung hati Lancelot, betapa rukun dan mesranya kedua orang tuanya sampai sekarang di kala usia sudah mulai senja.

__ADS_1


__ADS_2