
Sesampainya di kamar dan sudah selesai ganti baju nona An, mencari Lancelot, akhirnya Hanifah kembali keluar dari kamarnya, Hanifah segera menuju kamar Lancelot yang besebelahan dengan kamarnya. Di dalam kamar Lancelot ada Dandruff dan juga Ang, mereka bertiga terlibat obrolan ringan.
"Pa pa pa pa!" seru nona An, menghampiri Lancelot yang sedang bersandar di ranjang.
"Tuan." sapa Hanifah sopan.
"Masuk saja Han, tidak apa-apa." sahut Lancelot dan yang lainya.
"Anak, papa kenapa sayang?" tanya Lancelot lembut.
"Tidul di sini." Nona An sudah naik diatas ranjang dekat Lancelot.
"Anak papa mau tidur sini?" tanya Lancelot.
Nona An langsung mengangguk.
"Lalu bagaimana dengan mama?" tanya Lancelot.
"Belsama," sahut nona An, tanpa dosa.
"Sayang, lihatlah ranjang papa tidak cukup untuk kita bertiga," tolak Lancelot halus.
"Pindah." jawab nona An singkat.
Nona An langsung menarik tangga Lancelot, agar Lancelot turun.
"Sayang papa lagi sakit jangan di tarik begitu ya." rayu Hanifah lembut.
"Mama mau papa." rajuk nona An.
"Baiklah, sakarang tuan Putri sama mama masuk kamar ya biar om antar papa pindah ke kamar tuan Putri bagaimana?" ucap Ang tanpa meminta persetujuan dari siapapun.
"Ang?" ucap Lancelot tidak percaya.
"Tuan." ucap Hanifah tidak percaya.
"Lakukan demi anak, sudah lama An tidak bersama dengan papanya." Ang memberi penjelasan pada keduanya.
"Baiklah." Lancelot mengikuti usulan Ang.
Dandruff dan Ang membantu Lancelot untuk pindah ke kamar sebelah dengan menggunakan kursi Rosa, sedangkan Hanifah menggadeng tangan nona An. Lancelot dengan bantuan Ang dan Dandruff kini sudah berada di ranjang besarnya, ranjang Lancelot berukuran sangat besar sekali, nona An segera naik ke atas ranjang menyusul Lancelot.
__ADS_1
"Lanc, kami tinggal dulu Han, tolong jaga papanya An, ada apa-apa segera hubungi kami, kami ada di bawah." pesan Ang, sebelum meninggalkan Lancelot.
"Terima kasih." sahut Lancelot.
"Baik Tuan." sahut Hanifah.
Lancelot sudah berbaring di ranjang paling ujung sedang nona An berada di tengah dan sebelahnya Hanifah sambil memeluk nona An. Sebenarnya Hanifah merasa tidak nyaman berada dalam aria ranjang dengan Lancelot, nona a tidak sampai lima belas menit dia sudah memejamkan matanya tertidur dengan lelapnya. Setelah nona An terlelap dalam mimpinya Hanifah berusaha untuk turun dari ranjang.
"Han," panggil Lancelot menahan Hanifah until turun.
"Ya, tuan ada yang bisa saya bantu." sahut Hanifah lirih.
"Apa kamu bersedia menjadi mamanya An, sungguhan?" tanya Lancelot langsung tanpa basa basi.
"Apa saya harus menikah dengan tuan?" Hanifah balik tanya.
"Tentu," jawab Lancelot enteng.
"Maaf, tuan kita bukan satu keyakinan, dan saya tidak bisa menikah dengan ornag yang tidak seiman." jawab Hanifah jujur.
"Aku suka kejujuranmu Han, terima kasih kamu sudah menepati janjimu padaku selama ini, aku suka lantunan doa-doamu setiap hari, semenjak aku bangun aku tidak lagi mendengar merdunya lantunan doamu, sebenarnya sudah dua bulan ini aku merindukan suaranu Han." Lancelot sangat jujur dengan perasaannya.
Hanifah diam terpaku mendengar kejujuran yang keluar dari mulut Lancelot.
"Ya, apakah aku pernah memintamu dalam mimpimu, dan aku sudah sangat bahagia sekali bisa mendengar kejujuranmu walau hanya dalam mimpi." terang Lancelot.
"Bukankah mimpi hanta bunga tidur Tuan?" tanya Hanifah.
"Jika menurutmu hanya bunga tidur kenapa kamu memenuhi semua janjimu padaku?" tanya Lancelot.
"Karena saya tidak tega melihat nona An, jika tanpa papa." jawab Hanifah tetap tenang.
"Aku tahu kamu sangat mencintai anakku dengan tulus dan iklas, jika kamu tidak keberatan teteplah berbaring di sini, biarkan An, damai dalam mimpinya di tengah cinta kita." ucap Lancelot.
"Tuan, saya." Hanifah tidak bisa berkata apa-apa lagi otaknya masih belum bisa mencerna tentang semua ucapan Lancelot barusan.
"Aku mau istirahat, aku capek, aku tidak akan menganggumu kasur ini terlalu besar untuk kita bertiga, jika kamu takut denganku, takut aku mencelakaimu lihatlah sekarang jalan saja aku tidak mampu, bagaimana aku bisa mencelakaimu, bukankah ini juga bukan untuk yang pertama kali kita sekamar maupun seranjang, jika Aku mau sudah dari dulu aku menidurimu Han." ucap Lancelot tanpa tedeng aleng -aleng.
"Terserah apa kata anda Tuan, ini juga kamar Tuan, kasur Tuan, saya tidak ada hak untuk melarang Tuan tidur di sini." ucap Hanifah kesal.
"Dulu memang milikku Han, tapi tidak untuk sekarang, kasur dan kamar ini sekarang milik kita bertiga, karena sekarang kita bertiga yang menempatinya." jelas Lancelot sambil berbaring.
__ADS_1
"Asal Tuan bahagia," pungkas Hanifah "Sejam lagi tuan minum obat, jika tuan mau tidur, tidurlah agar Tuan bisa lebih cepat sehat." nasehat Hanifah.
"Ya, akupun ingin segera normal sroeri dulu agar aku bisa segera bulan madu denganmu di kota batu." jawan Lancelot enteng.
"Jadi benar tuan pernah datang kerumah orang tua saya?" tanya Hanifah penasaran.
"Ya, benar kebetulan dulu aku tertarik untuk membuat proyek villa di kota batu." jujur Lancelot.
"Tuan, untuk uang yang tuan berikan kepada orang tua saya, saya bekuk membayarnya, dulu saya pernah bilang tuan dan nyonya besar agar memotong gaji saya untuk membayar hutang namun beliau tidak mau, saya bilang ke tian Dandruff dan jawabannya tetap sama, dia tidak mau karena bukan urusannya, mereja bilang harus menunggu Tuan, bangun dulu." jelas Hanifah.
"Sudah, lunas kaku tidak punya hutang." jawan Lancelot enteng.
"Tapi tuan, saya benar-benar belum membayarnya." Hanifah tetap kekeh pada pendiriannya.
"Kamu sudah membayarnya dengan doa-doamu, selama ini, aku capek Han, aku mau tidur mataku sudah tidak kuat, bangunkan aku jika waktunya minum obat." pesan Lancelot yang sudah berkali-kali menguap.
"Silakan istirahat, Tuan."
"Jangan pergi dari kamar ini." ucap Lancelot.
Hanifah diam berbaring di sebelah nona An, Lancelot sudah terlelap dalam mimpinya. Hanifah walau sangat capek namun tidak bisa tidur, karena tidak bisa tidur Hanifah membuka aplikasi dan membaca novel. Hanifah orang yang lebih suka diam, namun kadang juga bisa bertingkah konyol dan cerewet.
Dandruff dan Ang, menemui nyonya dan tuan Bisseling yang masih bersantai di taman.
"Tuan, nyonya," sapa Dandruff dan Ang.
"Kalian kesini lalu Lanc, sama siapa?" tanya nyonya Bisseling cemas.
"Sekarang Lanc, tidur bersama anak dan mamanya." jawab Ang.
"Maksud kalian Hani dan An." jawab nyonya Bisseling penasaran.
"Siapa lagi nyonya kalau bukan mereka," Sekarang ganti Lancelot yang menyahutnya.
"Bagaimana bisa?" nyonya Bisseling semakin penasaran.
"Kejadiannya persis waktu di rumah sakit tadi nyonya, tuan." jelas Dandruff.
"Anak itu, memang cerdas, An benar-benar tidak mau berpisah dengan Hani." celetuk tuan Bisseling.
"Saya rasa juga begitu Tuan, bahagia sekali jika Lancelot mau menikah." ucap Ang.
__ADS_1
Mereka melanjutkan ngobrol sampai petang, karena mereka memang sudah merencanakan untuk makan malam di kediaman di keluarga Bisseling, untuk merayakan kembalinya Lancelot.