
...99💚...
"Ntar pesimpangan depan belok kemana?" Tanya Boy setengah berteriak, agar Lia bisa mendengar pertanyaan nya.
"Lurus aja.. Ngak pake belok cempreng...!" Sarkas Lia dengan teriakan menggelegar, bahkan pengguna lain pun bisa mendengar suara rombeng nya.
"Woii santai ngak usah teriak- teriak..!" Balas Boy yang merasa telinga nya kebas karna teriakan Lia, yang benar- benar menusuk gendang telinga nya. Walau saat ini ia sedang memakai helm.
"Kan lo yang ngomong pake teriak, gue mah ngikut aja.." Timpal Lia membela diri.
"Emang rumah lo searah sama Aelin?" Tanya Boy lagi.
"Iya tapi jauhan rumah Gue... "
Percakapan mereka berakhir, Boy terus fokus ke jalanan.
Sementara Lia menikmati hembusan angin yang menerpa tubuh nya.
Ternyata naik motor sangat menyenang kan, di mana kepala nya bisa memutar ke samping melihat pemandangan dengan leluasa.
Sensasi yang sangat berbeda di banding kan dengan naik mobil yang hanya bisa merasa kan dingin buatan, alias AC.
Boy yang mencuri- curi pandang dari kaca spion tersenyum tipis melihat wajah senang Lia.
"Kesenengan kan lo naik motor.." Batin Boy yang ikut merasa senang, seolah kesenangan Lia menular pada nya.
Akhir nya ke dua nya sampai di sebuah rumah yang berlantai dua, cukup mewah dan besar.
Sang satpam segera membuka gerbang dengan lebar, membiar kan motor Boy masuk ke dalam.
"Akhir nya gue tahu rumah ayang..." Gumam Boy senang.
"Lo kalau mau pdkt sama Aelin, ngacak dulu napa.." Sinis Lia menghancur kan kepercayaan Boy.
"Gue udah ngacak ganteng kok Li.." Balas Boy dengan cengiran kadal.
Lia melepas kan helm nya, kali ini ia tidak kesulitan.
Entah lah mungkin karna beruntung, tali helm nya bisa di buka dengan cepat.
Boy juga langsung membuka helm nya, lalu turun dari motor.
Lia langsung melangkah mendekat ke arah rumah, tanpa niat untuk menunggu Boy.
Dengan cepat Boy berlari untuk mengejar Lia, si gadis menyebal kan di dalam hidup nya. Namun ia harus bersabar karna hanya gadis ini yang bisa menjadi jembatan diri nya untuk mendekati Aelin.
Lia memencet bel rumah Aelin, ia merasa suasana sedikit berbeda.
Rumah teman nya itu terlihat sepi, namun ia menghapus pikiran nya itu karna melihat mobil ayah Aelin ada di bagasi.
Ting.. Tong..
Ting.. Tong...
Daun pintu di hadapan mereka pun terbuka, menampil kan wanita paruh baya yang Lia tahu sebagai asisten rumah tangga di rumah ini.
__ADS_1
Sang Asisten menyungging kan senyum ramah, melihat siapa yang datang berkunjung.
"Non Lia.. Silah kan masuk..." Ujar nya ramah lalu mempersilah kan Lia dan Boy untuk masuk.
Lia mengangguk lalu menarik tangan Boy.
Boy yang cukup tersentak saat tangan nya di sentuh oleh Lia, cukup membuat denyut nadi nya berhenti bekerja.
Hal itu membuat Boy menatap lekat pergelangan tangan nya yang di pegang oleh Lia.
Telapak tangan gadis menyebal kan ini benar- benar halus saat menyentuh kulit nya.
Merasa ada yang janggal, Lia memutar kepala nya ke arah Boy yang masih menatap nanar tangan nya yang di gandeng.
Hal itu sontak membuat Lia tersadar dan lansung melepas genggaman nya.
"Sorry ngak sengaja... " Sinis Lia menutupi kecanggungan nya lalu duduk di sofa.
Bagaimana bisa ia memegang tangan Boy, rasa nya geli saat kesadaran nya kembali.
Boy hanya menghela nafas nya, ia mengontrol sesuatu gelenyar yang aneh yang sedang ia rasa kan.
"Santai aja.. Untung tangan lo halus, jadi ngak buat lengan gue sakit.." Beo Boy mengalih kan suasana canggung antara diri nya dan Lia.
"Ya jelas lah kan tangan gue perawatan..." Sombong Lia dengan wajah jutek nya.
"Oh ya bi, panggilin Aelin donk..!" Ucap Lia melempar perintah pada sang asisten rumah tangga yang sejak tadi hanya diam.
"Iya bi udah kangen nih sama Aelin.. " Tambah Boy yang langsung membuat bibir Lia mencebik.
"Maaf non Lia dan Den.. Tapi Nona Aelin tidak ada di rumah..." Jawab Asisten rumah tangga dengan wajah datar nya.
Aelin tidak ada di rumah , lalu di mana sahabat nya itu ?
"Apa Aelin pergi ke luar negri bersama om Arkelin?" Tanya Lia dengan nada mendesak.
"Sebenar nya Nona Aelin sudah pindah dari rumah ini... Sementara Tuan besar sudah meninggal kemarin dan di makam kan tadi pagi..."
Ceter...
Blar....
Petir dengan jutaan volt rasa nya langsung menyambar tubuh Lia detik ini.
Rasa nya ia di hangus kan hidup - hidup.
Apa yang ia dengar tidak salah bukan?
Papy Aelin meninggal?
Lalu kenapa sahabat nya itu tidak memberi tahu diri nya.
Kenapa Aelin menyembunyi kan dan menanggung musibah besar ini sendiri.?
Lia cukup kecewa dengan Aelin, rasa nya ia ingin menampar Aelin detik ini juga.
__ADS_1
Namun hati nya terasa teremas kuat, rasa kecewa yang di rasa kan untuk Aelin jauh lebih kecil dari kecewa atas diri nya yang tidak tahu apa- apa tentang sahabat nya itu.
Sahabat macam apa diri nya?
Tidak berada di samping Aelin, ketika sahabat nya itu mengalami musibah sebesar ini.
Tubuh Lia melemas, di mana buliran bening merosot jatuh di pipi nya.
Boy yang melihat hal itu cukup terkejut, karna gadis menyebal kan dengan mulut pedas seperti Lia masih bisa menangis.
"Lalu Aelin pindah ke mana?" Kini Boy yang melempar kan pertanyaan nya.
Ia juga cemas, mendengar informasi terbaru soal Aelin.
"Nona Aelin ikut bersama suami nya.."
"Hah?"
Bibir Boy langsung menganga mendengar jawaban mainstream asisten rumah tangga Aelin.
Telinga nya tidak budeg atau tuli bukan?
Suami?
Begitu pula dengan Lia yang juga tak kalah kaget nya.
Semua nya begitu membingung kan.
Lalu kabar suami Aelin, Lia tidak bisa mencerna hal itu.
"Maksud bibi Apa? Suami apa? " Cecar Lia kini bangkit dari duduk nya. Di mana wajah nya sudah sangat syok.
"Iya beberapa hari yang lalu Nona Aelin sudah menikah.. Jadi nona tinggal bersama suami nya..." Jelas asisten rumah tangga sambil menunduk kan kepala nya.
Belum sempat usai keterkejutan Lia, kini lagi- lagi ia di gampar dengan dengan kabar yang sangat mengejut kan. Bahkan otak kecil nya tidak mempercayai semua itu.
Tungkai nya terasa lemas, di mana rasa nya ia sudah tidak bisa menahan bobot tubuh nya. Membuat tubuh nya ambruk.
Boy yang melihat tubuh Lia linglung, langsung menangkap tubuh itu dan menarik nya dalam pelukan nya.
"Bagaimana mungkin..?" Gumam Lia yang masih tidak percaya, di mana kepala nya kini menyandar di dada Boy, yang juga sama syok nya dengan gadis yang ada di dalam pelukan nya.
...----------------...
...****************...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
__ADS_1
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙