Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Jadilah istri yang baik!


__ADS_3

...157๐Ÿ’š...


"Kak, kamu baik-baik saja?" Davin menyentuh bahu Syaila yang terdiam melamun, entah sedang memikirkan apa? Namun, yang dapat Antonio lihat ada sebercak kemarahan yang terlihat di wajah cantik Syaila.


Lamunan akan ingatan beberapa bulan lalu, langsung buyar saat Antonio menyentuh bahunya. Sejujurnya saat ia melihat Antonio berpakaian rapi seperti seorang presdir, hati Syaila terasa panas. Ia iri, karna akhirnya apa yang di inginkannya malah dimiliki oleh saudaranya.


Antonio segera turun dari mobil dan berjalan memutar menuju pintu samping, ia membukakan pintu untuk Syaila.


Dengan memasang senyum keterpaksaan, Syaila turun dari mobil dan mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Dan semua pemandangan yang dirinya lihat masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah sama sekali.


"Ayo!" ajak Antonio yang berjalan lebih dulu, sedangkan Syaila mengekor di belakang Antonio.


Di teras belakang, Tuan Alexander tengah bermain dengan kucing peliharaannya yang baru saja ia beli beberapa hari yang lalu. Senyum di wajahnya yang mulai mengkerut merekah bak bunga yang baru mekar.


Ia terus mengelus kepala kucing kesayangannya, yang terus mengeong keenakan dengan elusan tangan sang majikan.


"Pa!" panggil Antonio sembari memutar ke dua bola matanya keatas melihat ayahnya yang begitu asik bermain dengan kucing, seperti anak kecil. Batin Antonio.


"Ekhmmm ada apa kamu pulang lagi? udah ketemu jodoh si Max?" tanya Tuan Alexander tanpa melihat ke arah Antonio, dan masih asik dengan kucing jantannya yang di beri nama Max.


Antonio menggelengkan kepalanya pelan, sungguh ayahnya memang sangat menyebalkan. Bagaimana bisa ia di suruh mencari betina untuk kucing gemuk itu? Sementara dirinya saja belum mendapatkan cintanya. Ia tidak akan pernah menuruti permintaan Tuan Alexander, karna sebelum ia menikah maka kucing ayahnya juga akan menjadi jomblo.


"Tidak, Antonio tidak membawa betina untuk Max."


"Meong..." Suara Max mengeram dan menatap ke arah Antonio dengan tajam, seolah mengerti percakapan dua manusia di hadapannya.


Antonio mencebikkan bibirnya, melihat kegarangan Max yang langsung mengeong dengan keras.Sedangkan Tuan Alexander hanya terkekeh ringan.

__ADS_1


"Kucing gendut, berani sekali dia menatapku galak seperti itu. Ingat aku tidak akan pernah membawa betina untuk mu. Dari pada mengurusi jodohmu lebih baik aku mengejar cintaku," umpat Antonio dalam hati dengan melempar tatapan kesal pada kucing gemuk yang malah menatapnya malas, seolah-olah mengejek dirinya.


"Lain kali kamu jangan pulang, kalau tidak membawa betina untuk Max. Kasian Max dia ingin punya keluarga sendiri. Dari pada menunggumu memberikan ku cucu, yang mungkin tidak akan terjadi. Lebih baik aku mendapat cucu kucing dari Max. Ya kan Max?"


"Meongg..." Max mengeong seolah menjawab pertanyaan dari sang tuan, dan hal itu mampu membuat Tuan Alexander tertawa riang.


"Aku membawa orang lain untuk menemui pa," ucap Antonio melihat sekilas ke arah Syaila yang ada di sampingnya.


"Siapa?" Tuan Alexander mendongak, dan seketika wajahnya berubah menjadi haru. Saat melihat seorang wanita tengah menatapnya datar. Wanita yang tak lain adalah putrinya, yang sudah selama tiga bulan ini tertidur sangat panjang.


Buliran bening menetes, meluncur dengan bebas di pipi Tuan Alexander, ia benar-benar sangat senang dan bahagia melihat putrinya akhirnya bisa sehat seperti sedia kala.


Perlahan, Tuan Alexander bangkit dan mendekat pada Syaila, menelisik setiap wajah Syaila yang selalu cantik di matanya.


"Syaila," lirih Tuan Alexander yang langsung memeluk tubuh Syaila dengan erat. Menumpahkan segala kerinduan dan kebahagiannya. Meski terakhir kali mereka berdebat hebat namun, Syaila tetap menjadi putrinya. Hubungan putri dan ayah jauh lebih kental dari pada darah.


Antonio yang melihat hal itu tersenyum, tanpa ia sadari saudarinya sama sekali tidak merasa senang di peluk oleh sang ayah, berbeda dengan reaksi Tuan Alexander yang begitu bahagia dan merasa bersyukur.


"Aku membawa sesuatu yang lebih penting dari betina untuk Max bukan pa?" cicit Antonio duduk di kursi sebelahnya.


Tuan Alexander mengurai pelukannya, lalu tersenyum pada putra nakalnya.


"Kali ini aku setuju padamu, Syaila duduklah nak. Papa sangat senang akhirnya kamu bisa bangun dari koma. Papa sudah kehabisan akal untuk mencari dokter yang baik yang bisa menyembuhkanmu. Tapi sepertinya Davin menemukan dokter yang bisa membuat keajaiban. Dia sangat mencintaimu." Tuan Alexander menuntun tangan Syaila untuk duduk kursi. Syaila hanya tersenyum kecut menanggapi hal tersebut.


"Pa, kak! Aku akan segera kembali, aku ingin mandi dulu." Antonio beranjak dari duduknya, dan meninggalkan ayah dan putri tersebut hanya berdua saja.


Tuan Alexander dan Syaila terdiam sejenak, tidak ada dari keduanya yang ingin memulai percakapan. Apalagi Syaila yang masih kesal dengan ayahnya.

__ADS_1


"Apa tidak ada lagi yang sakit di tubuhmu Syai?" tanya Tuan Alexander memecah keheningan di antara mereka.


"Aku baik-baik saja," jawab Syaila seperlunya.


Tuan Alexander mengulum senyum nya.


"Aku sangat senang sekali bisa melihatmu Syai. Tuhan mendengarkan doa pendosa ini. Papa benar-benar putus asa saat mendengar semua dokter menyerah untuk menangani keadaanmu."


"Seharusnya Papa senang, karna putri menjijikkan sepertiku hampir menemui maut," sinis Syaila dengan senyum sumbang.


Senyum di bibir Tuan Alexander luntur seketika, ternyata Syaila masih mengingat hari itu. Ia benar-benar tidak mengerti, dari mana peragai keras kepala Syaila diturunkan. Bahkan mendiang istrinya begitu lembut dan penurut.


"Syai, papa minta maaf sudah mengatakan semua itu. Papa yakin, sekarang kamu tidak akan lagi melakukan hal itu, jadilah istri yang baik untuk Davin," ucap Tuan Alexander meminta maaf dengan segenap hatinya.


"Papa tenang saja, aku akan mematuhi semua yang papa katakan, jika aku membantah sama saja aku mencari mati. Tapi aku berpikir apa seperti ini cara seorang ayah menyayangi putrinya? Tapi aku bersyukur, papa masih mau menutup mulut pada Davin. Setidaknya Papa sedikit berguna untukku."


Tuan Alexander menggigit keras bibir bawahnya, perkataan Syaila benar-benar menghujam dalam ke jantungnya.


Kata-kata Syaila begitu menyakitkan, tapi ia berusaha menahan kepedihan di dalam hatinya.


Keheninganpun kembali terjadi, Tuan Alexander dan Syaila tidak berniat sama sekali untuk kembali berbicara.


Di satu sisi, Tuan Alexander sangat kecewa dan sakit hati pada Syaila. Sementara Syaila masih sangat kesal dan marah pada ayahnya. Pikirannya masih tetap menganggap jika ayahnya tidak adil padanya. Dan dirinya tidak akan bisa menerima hal itu sampai kapanpun.


...----------------...


...****************...

__ADS_1


Oke gansss... Jangan lupa koment ya, kasi sport donk untuk author kalian yang cantik ini๐Ÿ˜† aish maaf kepedean ya๐Ÿคฃ


__ADS_2