Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Nyonya Syaila memburuk


__ADS_3

...76😻...


Waktu bergerak dengan cepat, di sebuah pemakaman terlihat perkempulan beberapa orang yang cukup ramai, tengah mengantar seorang manusia menuju ke liang lahat yang tak lain adalah peristirahatan terakhir untuk manusia yang hidup di bumi.


Dari kejauhan, Davin merangkul tubuh Aelin yang terlihat begitu lemah dengan uraian air mata, yang lagi- lagi tumpah tanpa di undang.


Di mana mereka memakai pakaian duka berwarna hitam.


Air mata Aelin terus luruh, saat melihat tubuh kaku sang ayah mulai di masuk kan ke dalam liang kubur yang dingin.


Ini adalah terakhir kali nya ia bisa melihat sang ayah, dan setelah itu hanya ada kenangan yang tersimpan dalam hati Aelin.


Sosok pria yang menjadi cinta pertama nya, yang menjadi saksi tumbuh kembang nya, yang menjadi perisai sekaligus pelipur lara dalam hidup nya. Kini tak lagi bersama nya.


Ia pergi tanpa mengata kan apa pun pada Aelin, tanpa berpamitan pada nya, dan hanya meninggal kan pesan untuk membuka hati dan mulai menerima suami nya.


Tanah mulai bergerak , di mana tubuh Mr. Arkelin terus di timbun hingga membentuk gundukan tanah.


Di mana kini batu nisan di tancap kan begitu kuat pada gundukan tanah makam tersebut, sekaligus juga menjadi akhir dari proses pemakaman.


Davin mengusap lengan Aelin, menenang kan istri nya yang terus menangis, bahkan kini tubuh Aelin bergetar, di iringi suara isak yang di tahan namun tetap mengeluar kan suara.


Dan di sisi yang berlawanan, Antonio mengikuti proses pemakaman sang majikan dengan khidmat, berharap jika seluruh amal perbuatan Mr. Arkelin di terima di sisi sang pencipta.


Semua nya terasa begitu cepat, baru kemarin rasa nya ia berjumpa dengan Mr. Arkelin.


Berbagi tawa, menghandle semua urusan pekerjaan bersama, hingga ia pun menjadi saksi dan juga turut serta menjadi penyebab alasan meninggal nya Mr. Arkelin.


Hati nya menyesal, seharus nya ia tidak melakukan hal busuk itu, dengan membakar kilang minyak yang di kelola oleh Mr. Arkelin. Mungkin Mr. Arkelin masih bisa berdiri dan berkumpul bersama dengan Aelin.


Namun ia begitu ceroboh, dengan menuruti perkataan Davin , hanya karna pria iblis itu mengancam akan mengadukan keberadaan nya pada sang ayah, membuat diri nya tidak bisa berpikir dengan jernih, sehingga ia menuruti rencana busuk Davin dan menjadi andil di dalam nya.


Hanya karna kisah kebencian, Davin membabat habis sumber kebahagian Aelin.


Antonio melirik ke arah Aelin yang sedang menangis dengan Davin yang memeluk nya.


Hati nya lagi- lagi memanas, namun ia tidak ingin ceroboh lagi.


Ia akan mengambil langkah yang tepat, untuk membukti kan jika Aelin tidak bersalah dan segera membebas kan nya dari belengu Davin.


Ia tidak sanggup lagi jika harus melihat Aelin sekali lagi hancur.


Untuk menggapai semua itu, ia harus rela kembali dan menerima tuntutan sang ayah untuk menjadi penerus ketua bandar narkoba.


"Ssstttt tenang lah Aelin... Ikhlas kan papy mu... Jika kau terus menangis, papy mu tidak akan bisa pergi dengan tenang..." Ucap Davin dengan suara rendah sambil mengusap lembut lengan Aelin.


Apa yang di kata kan Davin benar.


Sampai kapan ia akan terus menangis seperti ini?

__ADS_1


Menangisi kepergian sang ayah yang tak mungkin kembali lagi.


Aelin mengusap air mata nya, menahan setiap lelehan bening yang selalu ingin tumpah.


Namun ia harus kuat, hidup nya masih berjalan dan ia tidak boleh menyerah dengan apa yang terjadi.


Lagi pula kini ada Davin, suami nya yang selalu ada di samping nya.


Ia yakin perlahan tapi pasti ia akan bisa membuka hati untuk Davin.


Melupakan semua yang terjadi di masa lalu, dan mulai merajut kehidupan baru nya, dengan menerima jika ia adalah istri seorang Davin Arselion.


Drrrttt....


Drrrttt.


Drrrtt...


Ponsel Davin tiba- tiba bergetar, membuat Davin mengeluar kan benda persegi yang di sebut ponsel itu dari dalam saku celana nya.


Di mana di layar nya, tertera nama Darren.


Davin mematikan ponsel nya lalu memasuk kan benda persegi itu kembali dalam saku celana nya.


Saat ini ia benar- benar tidak ingin di ganggu. Ia hanya ingin menemani Aelin hingga proses pemakaman sang mertua selesai.


"Loh.. Om kok ngak ankat telpon nya.?" Tanya Aelin saat melihat Davin mematikan panggilan yang masuk ke dalam ponsel nya.


Drrrtt ..


Drrrtt


Drrrrttt...


Lagi- lagi ponsel Davin bergetar membuat Davin berdecak kesal karna terus di telpon oleh Darren.


"Angkat aja om.. Siapa tahu penting..." Sergap Aelin saat melihat Davin hendak menutup panggilan tersebut.


"Baik lah.... Tidak apa jika aku tinggal sebentar?"


Aelin hanya mengangguk sebagai jawaban permintaan izin dari Davin.


Lihat, bukan kah Davin begitu manis?


Hanya untuk menjawab telpon saja, ia meminta izin pada Aelin.


Davin segera menjauh dari kerumunan pemakaman, dan berhenti di tempat yang cukup sepi.


Aelin hanya mampu melihat punggung Davin yang menjauh, sementara setengah hati nya sedikit tidak rela melihat kepergian Davin.

__ADS_1


"Ada apa Darren?" Tanya Davin saat icon hijau gagang telpon itu di geser oleh Davin.


"Tuan, cepat lah datang ke villa kondisi Nyonya Syaila memburuk...." Lapor Darren dengan suara panik. Di mana ke dua mata Davin langsung melebar dengan sempurna mendengar kabar buruk yang rasa nya langsung mencabut nyawa nya.


Tubuh Davin melemas, di mana ke dua kaki nya terasa melebur dan tak bisa menyokong bobot tubuh nya.


Sehingga tubuh Davin linglung , namun tangan nya segera menahan berat tubuh nya pada pohon besar yang ada di samping nya.


"Aku akan segera ke sana...!" Lirih Davin, lalu memutus kan panggilan tersebut secara sepihak.


Davin mengumpul kan tenaga nya yang sempat hilang, karna mendengar kabar Syaila yang memburuk.


Lalu mulai melangkah kan ke dua kaki nya untuk segera menuju mobil, meninggal kan proses pemakaman sang mertua yang belum usai dan juga meninggal kan Aelin.


Rasa takut akan kehilangan mulai menyerang Davin , di mana kini Davin mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi.


Ia tidak peduli dengan apa pun, di mana ia harus segera sampai di villa.


Ia berharap Syaila baik- baik saja, dan tidak meninggal kan nya.


Ia sudah menyewa dokter terbaik, ia sudah berjuang mati- matian. Jangan sampai semua yang ia lakukan berakhir dengan kepergian Syaila.


"Ku mohon jangan tinggal kan aku..." Gumam Davin dengan dua buliran bening jatuh merosot begitu saja di pipi nya.


Hati nya benar- benar di remas dengan kuat, seolah gergaji besi sedang memotong - motong bagian tubuh nya yang lunak itu.


Rasa nya sangat sakit.


...----------------...


...****************...


hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...


Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...


yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚


Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit

__ADS_1


Budayakan beberapa hal yang di atas.


Supaya othor makin semangat😙


__ADS_2