Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Salah duga


__ADS_3

...67...


"Akhir nya makanan nya sampai...!" Suara bariton Davin yang baru keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang berbeda.


Aelin langsung memutar tubuh nya ke arah Davin.


Glek..


Aelin menalan saliva nya dengan susah payah, saat melihat penampilan Davin yang sangat berbeda.


Sungguh faktor umur sama sekali tidak meluntur kan ketampanan Davin.


Malah Davin terlihat sepertu pria berusia matang dengan tubuh seksi yang di baluti dengan kaos dan jeans.


Rambut acak- acakan yang basah, di padu kan dengan wajah tampan dan gagah.


Sungguh membuat mata Aelin di manja kan dengan penampilan Davin yang benar- benar sangat tampan.


Bahkan lebih tampan dari mantan tunangan nya Arjun sang idola sekolah.


Davin menyugar rambut basah nya, sehingga percikan air keluar dari rambut tebal nya yang terlihat acak - acakan.


Tatapan lurus Aelin yang sedang menatap nya dengan penuh minat, membuat kepercayaan diri Davin semakin membesar, yang entah hal itu muncul dari mana.


Davin berjalan mendekat ke arah Aelin. Dengan mengulum senyum di bibir nya.


Namun seperti nya Aelin masih tenggelam dengan pesona Davin, bahkan ia tidak menyadari jika Davin sudah berdiri di hadapan nya.


Davin semakin mendekat kan wajah nya pada wajah Aelin yang masih menatap nya tanpa berkedip.


Deg...


Deg...


Deg...


Jantung Aelin semakin berdetak dengan kencang, saat merasa kan hembusan nafas Davin kini menerpa wajah nya.


Aelin bahkan bisa melihat begitu jelas, wajah tampan Davin tanpa cela bahkan nyaris sempurna.


"Ap dia akan mencuri cium lagi?" Batin Aelin dengan pikiran yang sudah menerawang melewati batas.


Davin semakin mendekat kan wajah nya, bahkan Aelin bisa menghirup aroma sabun yang menguar dari tubuh Davin karna saking dekat nya dengan Davin.


Sungguh saat ini ia ingin mendorong tubuh Davin, namun entah mengapa tubuh nya berubah menjadi patung batu yang tak bisa bergerak sedikit pun.


Seperti diri nya terkena mantra sihir yang mengutuk nya menjadi batu.


Davin menggigit bibir bawah nya, dengan tatapan memangsa yang di tuju kan ke arah bibir merah ranum Aelin.


Glek.


Lagi- lagi Aelin menelan saliva nya paksa saat melihat tatapan Davin yang melihat ke arah bibir nya.

__ADS_1


Jantung nya semakin terpompa dengan cepat, di mana pikiran nya sudah melayang melewati batas terlarang.


Aelin langsung memejam kan mata nya pasrah saat wajah Davin bergerak semakin mendekat.


"Dia pasti mencium ku..." Batin Aelin dengan meremas baju nya sendiri.


"Apa kau sedang memikir kan sesuatu sayang? Atau kau mengira jika aku akan mencium mu? Sehingga kau menutup mata mu..." Bisik Davin tepat di telinga Aelin, lalu langsung menarik kereta makanan dan menjauh dari Aelin.


Kreettt...


Aelin langsung membuka mata nya dengan lebar.


Sungguh ia sangat malu dengan apa yang di pikir kan nya.


Bagaimana bisa ia memikir kan sesuatu di luar batas?.


Berpikir jika Davin akan mencium nya?


Astaga pikiran bodoh macam apa itu.


Ringgis Aelin dengan rasa malu yang kini menindih seluruh tubuh nya.


Davin terkekeh kecil lalu duduk di pinggir ranjang.


Menatap Aelin yang lagi- lagi berhasil ia goda dan jahili.


Aelin segera mengontrol mimik wajah nya. Menampil kan wajah datar dan ketus seperti biasa nya.


Seolah apa yang terjadi barusan, bukan apa- apa.


Membelakangi Davin dan menghadap ke arah cermin, di mana ia bisa melihat pantulan diri nya yang sedikit lebih kurus dari terakhir kali nya.


Mungkin karna stress dan ia juga tidak makan dengan teratur membuat berat badan nya hilang drastis.


"Benar kah? Kau tahu banyak sekali wanita yang mengantri untuk berada di dekat ku... Aku pikir apa yang kamu kata kan bohong..." Balas Davin dengan menyendok beberapa makanan ke dalam sebuah piring.


"Hah.. Tapi sayang wanita itu bukan aku.. Ternyata om adalah tipe pria yang sangat narsis.. " Olok Aelin dengan kekehan kecut.


"Ha.. Ha... kau menyebut ku narsis?.. Tentu saja karna aku adalah pria tampan.. Lagi pula sebentar lagi aku yakin kau juga akan menyukai ku..."


"Ohh ya.. Jika tidak ?"


"Itu pasti akan terjadi..." Davin menduduk kan diri nya di samping Aelin.


Mendekat kan wajah nya tepat di samping telinga Aelin yang di tutupi oleh surai hitam wanita kecil itu.


"Karna kau adalah istri ku..." Bisik Davin dengan hembusan nafas yang lagi- lagi membuat tubuh Aelin meremang.


"Istri mainan balas dendam ku.. Setelah kau menyerah kan hati mu pada ku.. Saat itu juga aku akan mematah kan nya..." Lanjut Davin dalam hati.


Hati Aelin sedikit menghangat saat mendengar kata istri yang Davin ucap kan.


Kata sebelum nya yang bagi diri nya adalah kata tersial, kini mulai terdengar indah di telinga Aelin.

__ADS_1


Aelin menoleh ke arah Davin, di mana di tangan Davin sudah ada sepiring makanan yang di sodor kan pada nya.


Davin memicing kan alis nya, seolah mengata kan jika Aelin harus memakan nya.


Bukan kah sikap Davin terlalu manis untuk Aelin.?


Memperlakukan nya dengan begitu baik dan lembut, bahkan sedikit demi sedikit Davin berhasil meruntuh kan benteng kebencian Aelin.


Salah kah Aelin mulai luluh dengan sikap Davin yang begitu perhatian pada nya?


Tanpa Aelin sadari semua itu hanya kebohongan dan jebakan Davin untuk menghancur kan nya sekali lagi.


"Makan lah... Dan aku akan mengering kan rambut mu... Kau ini seperti anak kecil, setelah mandi membiar kan rambut nya tetap basah.. Jika seperti ini bisa- bisa kau masuk angin dan sakit..." Tukas Davin dengan omelan ala suami yang begitu mengkhawatir kan istri nya.


"Tidak perlu... Aku tidak selemah itu..." Tolak Aelin dengan menyuap kan makanan yang di berikan Davin kepada nya.


"Oh ya... Aku masih ingat saat aku membawa mu pulang dengan kondisi hampir menjadi mayat, karna kedinginan..." Ledek Davin yang langsung mengambil hairdrayer, lalu mengering kan rambut panjang Aelin yang terasa lembut di tangan nya.


Aroma wangi bunga lavender menyeruak rongga hidung Davin


Ia menyukai wangi rambut Aelin yang begitu soft.


"Diam dan nikmati saja makanan mu gadis kecil..." Lanjut Davin sebagai sebuah perintah supaya Aelin menutup mulut nya dan tidak membantah lagi.


Aelin hanya hisa mencebik kan bibir nya, saat mendengar Davin yang meledek nya terus sejak tadi.


Tapi ya sudah lah, ia lebih baik makan dan membiar kan Davin melakukan apa yang ia ingin kan.


Toh lagi pula tidak rugi jika Davin mengering kan rambut nya.


...----------------...


...****************...


hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...


Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...


yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚


Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit


Budayakan beberapa hal yang di atas.

__ADS_1


Supaya othor makin semangat😙


__ADS_2