
...20😇...
Perusahaan utama Gc Group, tepat nya di ruangan yang cukup luas dengan meja dan kursi yang berada di tengah- tengah ruangan.
Beberapa lemari berisi berkas- berkas dan buku- buku referensi berjejer dengan rapi pada setiap rak lemari kayu jati dengan pahatan yang begitu indah.
Sebuah sofa berwarna abu soft terletak di depan meja kerja dengan sebuah meja kaca yang ikut menambah kan kesan mewah.
Davin sedang memperhati kan sebuah berkas dengan cermat.
Tidak ada sosok Darren yang selalu berada di sisi pria itu.
Pria yang umur nya lebih muda dari Davin yang sangat ia percayai tidak menunjukkan batang hidung nya dalam ruangan dengan udara sejuk karna AC.
Davin sesekali menggerakkan tangan nya, membentuk pola aneh di atas kertas yang biasa di sebut dengan tanda tangan. Hingga akhir nya pekerjaan yang sudah sangat lama ia tekuni itu terhenti, karna deringan ponsel di samping tangan nya.
Tringg...
Tringgg...
Tring...
Davin melirik benda pipih di samping tangan nya, dengan ekor mata yang sama sekali tidak berminat, apa lagi saat melihat jika yang menelpon adalah sepupu cerewet nya.
Davin meraih ponsel nya, lalu menjawab nada sambung telpon tersebut.
"Ada apa?" Tanya Davin dengan suara tidak suka.
"Ck... Hai bro,,, bisa kah suara mu tidak sejelek itu...? Kau tahu telinga ku sangat sakit mendengar suara sumbang mu seperti gendang sobek... Ha . Ha..." Sahut Antonio dengan guyonan mengejek nya di iringi dengan tawa yang terdengar seperti peluit kereta api di telinga Davin.
Kenapa bisa keluarga Arselion dengan martabat dan aturan ketat kehidupan, bisa mempunyai seorang keturunan dengan sikap bar- bar dan tak bisa di atur seperti Antonio. Batin Davin dengan memutar bola mata nya jenggah.
"Kamu ingin apa Antoni? Jika kamu menelpon untuk menyuarakan bibir tikus mu itu maka aku akan segera menutup panggilan ini..."
"Ck.. Om kenapa kamu begitu sinis, hati- hati lo om entar cepet tua... Keriput terus jelek deh..." Ujar Antonio yang semakin senang untuk menggoda sepupu tertua nya.
"Dengar, umur boleh menua tapi wajah ku tetap tampan. Bahkan aku lebih tampan dari mu..." Balas Davin yang mulai sedikit kesal dengan ejekan kurang ajar Antonio.
Wajah dan tubuh nya yang begitu sempurna terasa terzholimi dengan perkataan sumbang Antonio.
"Hmmm Terus puji saja diri mu... Lagi pula jika kamu tidak memuji diri mu kau akan di puji siapa pria tua..."
"Seperti nya, kamu sudah cukup bersenang- senang di luar sana. Seperti nya aku harus memberi tahu paman Gorld di mana keberadaan putra nya..."
Antonio langsung bungkam, saat mendengar perkataan Davin.
Ia segera menduduk kan tubuh nya, yang tadi nya bersender dengan nyaman di kursi nya.
Perkataan Davin sudah seperti kutukan , jika sepupu nya itu membawa nama ayah nya.
__ADS_1
Bukan apa- apa, tapi ia sudah sangat muak dengan sikap ayah nya yang selalu menuntut diri nya untuk menjalan kan bisnis legal nya.
Setiap hari , bahkan setiap detik ayah nya yang menjadi bandar narkoba itu selalu meminta diri nya untuk mengganti kan diri nya yang sudah cukup tua.
Dengan alasan, ayah nya ingin menghabis kan sisa hidup nya untuk bersenang- senang dengan ibu nya.
Alasan macam apa itu?
Tapi bisnis yang di kelola ayah nya adalah bisnis yang ilegal, bahkan negara sudah memberi kan izin nya.
Pemerintah negri ini juga tahu, jika diri nya berani memutus atau menghancur kan bisnis pak tua Gorld maka kepala nya akan di gantung di tiang bendera.
"Tutup mulut mu pak tua... Jangan coba - coba mengancam ku.. Baik lah karna aku bermurah hati.. Aku hanya ingin mengata kan jika perintah mu sudah ku lakukan... Kilang minyak di kota B sudah terbakar... Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran bodoh mu itu, atau jangan- jangan otak mu sudah kusut karna faktor umur, sehingga membakar kilang sendiri..." Dengus Antonio dengan raut wajah penasaran.
Davin tersenyum dengan smirk khas nya, smirk yang terlihat misterius namun juga menyeram kan.
Ternyata sepupu bar- bar nya itu sudah berhasil melakukan permintaan nya.
Meski pun Antonio bertingkah seperti anak kecil, tapi diri nya juga dapat di andal kan. Pikir Davin kini memutar kursi kerja nya.
Menikmati bau penderitaan yang akan segera terjadi.
"Ck... Kamu tidak akan mengerti, karna otak mu terlalu bodoh untuk memahami semua nya... Nikmati saja penyamaran mu..." Decak Davin dengan jari telunjuk yang di ketuk- ketuk di atas meja.
"Terserah pada mu pak tua...."
Antonio menutup panggilan, dengan menghela nafas tidak peduli.
Selama penyamaran nya aman dia tidak peduli dengan apa pun.
Antonio melirik kembali pada layar ponsel nya yang masih menyala.
Sudut bibir nya terangkat, hingga menciptakan lengkungan pelangi yang begitu manis di wajah nya.
"Aku bertahan karna mu, tapi maaf kita tidak bisa bertemu untuk beberapa hari, karna papi mu dan aku harus pergi ke kota B.. Tapi tenang lah aku akan membawa oleh- oleh untuk mu peri cantik..." Gumam Antonio sambil mengusap layar ponsel nya.
...----------------...
Aelin mengerjap kan ke dua mata nya, matahari sudah semakin meninggi hingga cahaya nya yang begitu menyilau kan menembus tirai putih tipis yang terpasang di jendela besar, pembatas antara kamar nya dan juga taman.
Aelin menggeliat, merenggang kan otot - otot nya yang kini terasa lebih baik.
Begitu pula dengan ke dua mata nya yang sudah kembali segar karna mendapat kan jackpot untuk tidur.
Aelin memangku wajah nya dengan tangan nya.
Seperti nya hidup nya harus ia mulai, ia pikir setelah tidur, ia akan terbangun di kamar nya yang penuh dengan boneka.
Tapi ternyata itu tidak terjadi, ia tetap berada di dalam kamar neraka ini.
__ADS_1
Seperti nya ia memang harus beradaptasi dengan kehidupan baru nya.
Percuma meratapi apa yang sudah terjadi. Meski ia menangis hingga seluruh rumah banjir karna air mata nya, semua nya tidak akan pernah kembali seperti semula.
Tok..
Tok..
Tok..
Suara pintu di ketuk, membuat Aelin mengalih kan pandangan nya pada pintu kamar.
Ia merapat kan selimut untuk membelit tubuh nya yang saat ini tengah menggunakan baju kurang bahan yang bernama lingeria.
Ke dua kaki putih mulus nan jenjang nya menapak lantai dan melangkah mendekat ke arah pintu.
Tidak tinggal diam, tangan Aelin yang meraih sebuah vas yang berada di atas meja.
Ia hanya ingin waspada , jika yang sedang mengetuk pintu adalah Davin.
Maka ia akan langsung memukul kepala pria itu dengan vas yang di bawa nya.
Ia tidak ingin Davin mengambil kesempatan seperti malam naas itu.
Klek..
...----------------...
...****************...
Hayyyo... yang baca jangan lupa koment donk... Karya othor yang satu ini belum ada yang ngomenin😭 jadi sedih kan othor😭
yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚
Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙
__ADS_1