
...35🕊...
Aelin terus melirik ke sana dan kemari, sembari sekilas melihat arloji di tangan nya yang terus berdetik menghitung waktu.
Ciiittt...
Namun tiba- tiba sebuah mobil mewah limison yang sangat familiar bagi Aelin berhenti tepat di depan nya.
"Untuk apa dia mengejar ku?.. Hhh aku tidak akan sudi naik... Lebih baik aku berjalan kaki, dari pada menaiki mobil kotor mu..." Gumam Aelin, yang langsung melangkah kan kaki nya. Saat melihat mobil mewah yang tentu saja pemilik nya adalah Davin.
Mobil yang sama yang meninggal kan nya di tepi jalan dengan memakai gaun pengantin, yang begitu sangat merepot kan.
Namun hanya beberapa langkah, suara Darren menghenti kan Aelin.
"Nona... Aelin...!" Panggil Darren yang langsung turun dari mobil dan berlari mengejar Aelin.
Aelin memicing kan mata nya, melihat hanya Darren yang keluar dari mobil hitam itu.
"Nona... Biar kan saya mengantar anda ke sekolah...." Seru Darren yang sebelum nya sudah membungkuk kan badan nya memberi salam penghormatan pada Aelin.
Sedang kan Aelin, masih menelisik mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari nya.
Mencari keberadaan pria yang beberapa jam lalu, yang menjadi lawan nya bertengkar di hadapan sang ibu mertua julid.
Namun seperti nya apa yang di pikir kan Aelin salah, kali ini mobil mewah itu terlihat kosong. Tidak ada tanda- tanda keberadaan Davin sedikit pun.
"Kamu tidak perlu mengantar ku, aku bisa sendiri..." Ketus Aelin yang langsung berbalik dan kembali melangkah.
Dengan cepat, Darren menghadang Aelin dengan merentang kan ke dua tangan nya.
"Saya mohon nona, ikut lah saya akan mengantar nona..." Ucap Darren lagi membujuk Aelin yang saat ini mood nya berada di tingkat labil, karna baru saja terkena semprotan mulut beracun Mrs. Tissa.
"Aku kan sudah bilang... Aku tidak mau...!!" Tolak Aelin kini dengan nada bicara tinggi.
"Nona jangan membuat pekerjaan saya menjadi sulit.."
"Aku bilang aku tidak mau, apa perlu aku harus mengulangi nya hingga seratus kali?...!"
"Anda tidak berhak menolak Nona... Jika anda tidak ikut, saya akan sangat terpaksa menyeret anda untuk masuk ke dalam mobil..."
Aelin terdiam mendengar ancaman Darren yang terdengar tidak main- main.
Bahkan wajah datar asisten Davin ini sedikit menunjukkan taring nya, yang mampu membuat Aelin sedikit takut, saat melihat tatapan tajam tak terbantah kan yang di layang kan Darren.
Ternyata Darren juga cukup mengerikan jika kesal. Batin Aelin.
Demi apa pun ia sungguh tidak ingin di antar oleh Darren.
Apa lagi dengan mobil mewah, yang pasti nya akan menyita banyak perhatian murid- murid lain nya.
Dulu ia pergi ke sekolah hanya menggunakan mobil biasa- biasa saja.
__ADS_1
Tapi sekarang ia harus pergi dengan mobil mewah Davin, yang di mata nya seperti sebuah kutukan.
Tapi percuma diri nya menolak , karna Darren tidak akan membiar kan diri nya lolos.
Ia yakin, jika apa yang di kata kan Darren tidak lah main- main.
Jika ia menolak, maka Darren pasti akan menyeret nya dengan paksa untuk masuk ke dalam mobil.
Dilema apa lagi ini?
Ia baru saja keluar dari rumah neraka itu, tapi ia juga harus masuk ke dalam lubang serigala.
"Percuma aku menolak, pria ini pasti akan memaksa ku... Toh juga tidak ada Davin kan... Maka aku bisa aman..." Batin Aelin menenang kan diri nya, menyingkir kan pikiran- pikiran negatif, sebelum ia mengangguk dengan singkat. Sebagai tanda jika ia menurut.
"Pilihan yang tepat nona...." Cicit Darren dengan seringgai kemenangan di wajah nya.
"Silah kan..." Seru Darren lagi, sambil merentang kan tangan nya.
Aelin berjalan dengan pasrah, di ekori oleh Darren.
Dengan sigap Darren membuka pintu penumpang untuk Aelin lalu menutup nya, Ia berlari memutar dan masuk dalam kursi kemudi.
Aelin menatap nanar pemandangan yang mulai berlalu, karna kini mobil tersebut telah melaju di tengah- tengah para pengendara lain nya.
Tidak ada percakapan antara Darren dan Aelin yang ada hanya suara mesin yang menderu.
Mobil tersebut terus melaju, bahkan kini tinggal beberapa kilometer lagi, Aelin akan sampai di sekolah nya.
Sekolah yang selama satu tahun ini menjadi tempat diri nya menuntut ilmu, sekolah favorit dengan fasilitas yang benar- benar memadai di era jaman modern seperti ini.
Pikiran nya melayang, dengan rasa takut dan minder yang kini bersarang.
Ia takut karna kini ia kembali bersekolah dengan status yang sudah berbeda.
Kemarin ia adalah seorang gadis remaja dengan segudang kebahagian.
Namun kini ia adalah seorang wanita menikah yang penuh dengan derita.
Apa diri nya sanggup menghadapi semua orang ?
Sementara kini ia harus menyembunyi kan jika status nya sudah berubah menjadi wanita yang sudah menikah.
Apa ia akan berhasil menyimpan rahasia besar ini?
Rahasia besar yang tak bukan adalah sebuah aib yang pasti akan menghancur kan diri nya, jika orang lain sampai tahu.
Mungkin bagi para wanita, pernikahan adalah sebuah berkah dalam hidup mereka.
Tapi tidak untuk nya. Bagi nya pernikahan nya kini adalah sebuah aib yang jangan sampai orang tahu, apa lagi para teman atau pun murid di sekolah ini.
Ia tidak akan mampu menghadapi semua hinaan itu, setelah ia hancur berkeping- keping karna ketidak percayaan sang ayah.
__ADS_1
"Nona....!" Panggil Darren yang langsung menyadar kan Aelin dari lamunan nya.
Aelin sedikit kaget dengan suara bariton Darren.
"Kita sudah sampai..." Lanjut Darren lagi, yang kini berhasil membuat Aelin menelan saliva nya paksa.
Glek...
Aelin melempar pandangan nya ke kanan, dan ternyata benar mereka telah sampai di depan sekolah elit, di mana diri nya sekolah.
Aelin meremas kuat rok seragam nya, rasa nya mental nya tidak sanggup untuk menatap semua orang.
Status nya yang kini berbeda benar- benar sudah membuat hidup nya hancur. Dan semua itu karna pria tua dan brengsek.
"Apa aku sanggup?" Batin Aelin bertanya pada diri nya sendiri.
Jujur bahkan kini ia tidak mempernyai diri nya sendiri.
Bayang- bayang penghinaan, dan perundungan seketika berkelebat di dalam otak Aelin.
Sangat mendominasi bahkan membuat keberanian nya menghilang begitu saja.
Apa ia masih sanggup untuk terus bersekolah dengan rahasia memalukan ini.?
Atau ia harus memutar balik dan memutus kan untuk berhenti sekolah?
Tapi di dalam lubuk hati nya yang terdalam, ia ingin melanjut kan pendidikan nya. Menjadi orang hebat yang akan menjadi senjata untuk membebas kan diri dari belitan Davin.
Tapi rasa pesimis ini benar- benar membelengu diri nya.
Ia tidak sanggup.
...----------------...
...****************...
Hayyyo... yang baca jangan lupa koment donk...
yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚
Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
__ADS_1
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙