Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Sedikit perdebatan


__ADS_3

...195...


Davin, Aelin, dan Syaila kini tengah duduk di sofa. Aelin duduk di samping Davin. Sementara itu, Syaila berada di sisi yang berlawanan, di mana sebuah meja kaca berbentuk persegi panjang menjadi sekat antara ketiganya.


Aelin menatap ke arah Davin, lalu Livia secara bergantian. Sedangkan tangannya mengetuk-ngetuk paha sendiri. Ia masih ragu dan sedikit tidak percaya dengan alasan kedua orang yang baru saja kepergok tengah saling berpelukan. Namun, Aelin tidak bisa lagi berdebat karena percuma saja, keduanya akan terus membantah dan menyanggah dengan memberikan alasan yang sangat masuk akal.


Aelin menghela nafasnya. Mengontrol pikirannya agar tidak stress supaya tidak memengaruhi cabang bayi dalam kandungannya.


"Dav, kau belum makan siang. Maaf makanan yang kubawa menjadi sia-sia," ucap Aelin memecah keheningan yang terjadi, sembari melirik ke arah OB yang sedang membersihkan sisa-sisa makan siang yang ia jatuhkan begitu saja di lantai.


"Tidak papa," jawab Davin singkat sambil memijit pangkal hidungnya. Walaupun, masalah sudah selesai tapi tetap saja Davin memikirkan sesuatu yang bisa terjadi besok, atau hari-hari berikutnya. Kebenaran yang ia sembunyikan dari Aelin, semakin terlihat jelas di mata istri kecilnya itu.


"Jangan khawatir, bagaimana jika kita makan siang di luar? Kamu mungkin mengatakan tidak papa tapi aku yakin perut suamiku kelaparan." Aelin menyunggingkan senyumnya paksa, yang tentu saja di balas oleh senyum hambar dari Davin.


"Kenapa repot-repot makan siang di luar? Aku sudah membawakan makan siang untuk Davin. Jadi, Davin bisa makan siang di sini," sela Syaila dengan tersenyum kecut, yang langsung mendapat tatapan tidak suka dari Davin.


Syaila segera meraih paperbag yang ia bawa. Lalu, meletakkannya di depan Aelin dan Davin. Bisa Davin liat jika Aelin tidak menyukai hal itu. Itu terlihat dari cara Aelin menatap paperbag makanan yang diberikan oleh Syaila.


"Tidak perlu Liv, aku akan makan siang di luar dengan Aelin," tolak Davin spontan, seolah sedang melihat harimau betina sedang marah.


Kau sangat menyebalkan Davin. Kamu selalu memperlakukan diriku seperti orang asing, padahal aku ini istrimu. Kau terus saja mempermalukanku di depan wanita yang sudah menghancurkan hidupku. Batin Syaila dengan rahang yang mengetat, di mana gigi-giginya saling bergesekan menahan amarah.


"Menurutku, apa yang dikatakan oleh Livia memang benar. Kenapa repot-repot makan siang di luar jika makanannya sudah ada," ujar Aelin dengan nada ramah, seolah-olah tidak terjadi apapun sebelumnya.


Aelin meraih paperbag yang ada di depannya. Lalu, mulai mengeluarkan makanan dan menatanya dengan rapi.

__ADS_1


"Oh, hanya dua porsi saja. Sepertinya, kau sudah merencakan untuk makan siang dengan suamiku," celetuk Aelin menekankan kata suami. Alasannya agar wanita yang ada di depannya tahu jika Davin hanyalah miliknya.


"Yah, memang sebenarnya aku merencakan makan siang dengan Davin. Seandainya aku tahu kau akan kemari, pasti aku akan memesan tiga porsi," jelas Syaila memaksakan senyumnya.


"Silahkan, sayang. Makanlah, agar kau bisa bekerja dengan baik." Aelin meletakkan makanan di depan Davin. Tidak ingin menolak ataupun membuat keributan lagi, Davin memilih untuk makan.


"Ternyata kamu begitu sangat mengenal Davin ya, Liv," kini Aelin menyodorkan satu porsi makanan di depan Syaila, di mana tatapan Aelin begitu tajam dan mengintimidasi.


"Tentu saja, Kakak Ipar. Aku tumbuh bersama dengan Davin. Jadi, aku sangat mengenal Davin mulai dari makanan kesukaannya, lalu hobi, warna kesukaan, nomer sepatu, bahkan aku tahu apa yang tidak disukai oleh Davin," balas Syaila dengan sedikit nada sinis, tetapi terkesan lembut.


"Ohhh, aku tidak menduga hal itu. Kau mengenalnya sangat baik seperti seorang istri mengenal suaminya."


"Uhuk ... Uhuk ...." Davin langsung terbatuk-batuk karena tersedak mendengar perkataan Aelin. Makanan yang ia makan terasa menyumbat tenggorakannya.


Melihat Davin tersedak, Aelin dan Syaila spontan mengambilkan air minum dan menyodorkannya pada Davin.


Begitu pula dengan Aelin yang terpaku sembari menatap Syaila dengan tatapan tidak suka. Ternyata selain tahu semua tentang suaminya, wanita ini juga terlihat sangat khawatir dengan Davin. Tidak mungkin jika tidak ada sesuatu di antara mereka, pikir Aelin.


Davin perlahan meraih minuman yang disodorkan oleh Aelin. Lalu meneguk minuman tersebut. Sedangkan Syaila menarik kembali minuman yang ia sodorkan pada Davin. Lagi-lagi ia harus menelan pil kekecewaan karena Davin lebih memilih Aelin. Sampai kapan, dirinya terus berada di posisi seperti ini. Semakin ke sini, Davin memperlakukan ia layaknya sampah yang tidak berguna.


Aelin mengalihkan pandangannya pada Davin. Ia menepuk-nepuk punggung suaminya dengan lembut dan pelan.


"Kalau kamu makan, berhati-hatilah karena makanan juga bisa membunuh jika masuk ke tempat yang salah," ucap Aelin memperingatkan Davin.


"Tapi, di sini aku menemukan sesuatu yang menarik," lanjut Aelin dengan tersenyum kecut.

__ADS_1


Syaila dan Davin menatap ke arah Aelin. Seolah-olah bertanya-tanya apa maksud perkataan wanita cantik itu.


"Hal yang menarik?" tanya Davin dengan wajah yang berubah tegang, yang langsung diangguki oleh Aelin.


"Hal menariknya adalah ternyata Livia sangat perhatian dan sigap padamu, Dav. Jangan katakan jika hal ini adalah hal yang biasa karena kau tahu Livia jika istri Davin ada di sini. Jadi, aku yang akan mengurus suamiku," kecam Aelin dengan menekan nada bicaranya.


"Ehh, ayolah Ae. Kenapa kau mempermasalahkan hal kecil seperti ini. Sepertinya kau sudah terbakar api cemburu sehingga apapun yang aku lakukan selalu terlihat salah di matamu. Yah, aku tahu aku salah karena memeluk Davin. Namun, jika kau terus seperti ini. Terus mencurigai suamimu, aku rasa Davin tidak salah mencari wanita lain yang lebih mempercayai dirinya," balas Syaila kesal. Ia segera beranjak dari duduknya dan tanpa pamit meninggalkan dua orang yang sudah membuat moodnya rusak.


"Ae, sampai kapan kau terus mencurigaiku seperti ini? Aku lelah Ae!" seru Davin dengan frustasi. Masalahnya kali ini benar-benar sangat berat. Masalah menyerangnya dari segala sisi. Mulai perusahaan, lalu Antonio yang berusaha merebut Aelin, dan Syaila yang terus sana membuat rusuh.


"Baiklah, maafkan aku Dav. Menurutku sikapku sebagai istri sangat wajar, ketika melihat suaminya dipeluk oleh wanita lain," balas Aelin membela pendapatnya sendiri.


Davin menghirup udara dalam, meraup oksigen sebanyak-banyaknya untuk dialirkan ke dalam paru-paru. Lalu meraih wajah Aelin dan menangkup wajah Aelin yang sedikit terlihat pucat.


"Dengarkan aku Ae." Davin menarik wajah Aelin lebih dekat pada wajahnya. Di mana tatapan antara keduanya kini beradu satu sama lain.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa like


koment


givt

__ADS_1


vote


__ADS_2