Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Tidak datang


__ADS_3

...203...


Davin terduduk lemas setelah kepergian Syaila. Melihat wanita yang pernah mengisi hidup dan hari-harinya hancur sungguh membuat ia sangat bersalah. Akan tetapi, ia juga tak bisa memberikan harapan pada Syaila karena hatinya kini milik Aelin. Ia menatap kue yang menjadi saksi bisu atas perkataan menyakitkan yang ia ucapkan pada Syaila. Semua ini begitu rumit, tapi ia rasa dirinya juga tak bisa meninggalkan Aelin karena cinta yang ia miliki sangat dalam.


Davin menarik nafas dalam, ia berusaha mengontrol rasa perih, sakit, dan juga bersalah dalam dirinya. Berusaha untuk mengulas senyum indah di bibir. Ia tidak ingin saat Aelin datang dia melihat dirinya bersedih. Ia menatap ruangan indah yang dibuat Aelin sebagai kejutan ulang tahunnya. Istri tercinta sudah berusaha, ia harus menghargai dan menikmati malam ini. Ia menatap arloji yang ada di tangannya. Jam hampir menunjukkan pukul tengah malam. Namun, sampai detik ini Aelin belum terlihat atau datang.


"Tinggal sepuluh menit lagi tepat jam 12, tapi Aelin masih belum datang," gumam Davin berbicara pada dirinya sendiri.


"Dia mempersiapkan semuanya dengan sangat baik. Aku akan menunggu sampai dia datang. Aku yakin, dia pasti sedang membuat kejutan besar untukku. Ae, aku mencintaimu. Cepatlah datang, Sayang," lanjut Davin memilih untuk menunggu Aelin walaupun ia cukup lelah dan sedikit bosan. Namun, kalau itu tentang Aelin maka ia siap menunggu dengan mata terbuka.


...----------------...


Di tempat yang berbeda, tepatnya di kamar hotel. Arjun menatap layar ponselnya lekat. Dimana terlihat wajah cantik Aelin bersanding dengan wajah tampan miliknya. Ia menatap ke arah Aelin yang masih setia tertidur tanpa bangun sedikitpun. Kemudian menatap dirinya yang hanya mengenakan celana tanpa baju.


Sebenarnya, ia ingin menjadikan Aelin sebagai miliknya sejak tadi. Namun, melihat kondisi Aelin yang tidak berdaya membuat ia mengurungkan niatnya. Ia memang mencintai Aelin, tapi dirinya tidak bisa melukai Aelin, wanita yang sangat ia cintai. Perasaan yang ia miliki untuk Aelin itu tulus dan suci. Mana bisa ia menodai perasaannya dengan memperkosa wanita itu.


"Aku tidak bisa menyakiti Aelin, tapi aku juga tidak bisa melanggar kesepakatan dengan Syaila. Aku akan mengirim foto-foto ini untuk dicetak. Aku rasa ini cukup untuk membuat kesalahpahaman antara Davin dan Aelin. Maaf, Ae, tapi kamu tidak pantas bersama dengan Davin. Cintaku untukmu akan membuat kita bahagia," ucap Arjun sambil menatap sendu wajah Aelin. Ia pun menekan tombol kirim, lalu duduk di sofa. Menikmati malam bersama wanita yang ia cintai tanpa menyentuh dia sedikitpun.


...----------------...


Sang raja cahaya mulai naik ke tempat bertugas, mencurahkan semua sinarnya untuk menerangi dunia yang dirundung kegelapan malam. Malam telah berlalu, digantikan pagi yang sangat cerah tanpa awan. Sinar sang surya yang menembus semua lapisan termasuk tirai tipis yang menghiasi ruangan indah. Lampu-lampu yang dipasang kalah bersinar dari sinar matahari yang masuk dari kaca jendela. Lilin-lilin aroma yang dipasang sebagai pemanis suasana romantis kini telah padam karena mencair. Di tengah ruangan Davin masih setia menunggu Aelin dengan mata terbuka tanpa berkedip menatap kue ulang tahunnya sendiri. Pria itu sudah menunggu sangat lama, bahkan hingga pagi menjelang. Namun, wanita yang ia tunggu tak kunjung datang. Dari ambang pintu, terlihat sepasang mata sembab dan sedikit merah menatap lurus ke arah Davin.


"Kamu menunggunya hingga pagi, tapi dia tidak akan datang. Malam sudah berlalu, Dav," lirih Syaila yang lansung masuk dan mendekat ke arah Davin.


"Aelin tidak datang, entah kemana dia pergi," ujar Syaila menyadarkan Davin.


"Dia pasti akan datang dan mengucapkan selamat ulang tahun. Dia sudah mempersiapkan semua ini. Mana mungkin dia tidak datang," bantah Davin walau hatinya merasa kecewa.

__ADS_1


"Waktu ulang tahunmu sudah lewat, Dav. Apalagi yang kamu tunggu. Bangun dan pergilah mandi, aku akan membereskan semua ini."


"Jangan sentuh apapun, Sya. Aelin akan datang."


"Stop, Dav. Aelin, Aelin, selalu Aelin!" teriak Syaila histeris. Ia sudah muak mendengar Davin yang terus menyebut Aelin.


Aelin tidak akan pernah datang karena dia sedang bersama Arjun. Tunggu sebentar lagi, maka kamu akan melihat apa yang aku inginkan. Batin Syaila.


Davin bangkit dari kursi. Ia berjalan hendak keluar dari ruangan itu. Namun, Syaila segera meraih pergelangan tangan Davin.


"Kamu mau kemana?" tanya Syaila menahan amarah.


"Aku akan mencari Aelin dan membawanya kemari untuk merayakan hari ulang tahunku," jawab Davin getir.


"Hentikan, Dav. Aku sudah muak mendengar nama Aelin. Dia memang menyiapkan semua ini untukmu, tapi dia tidak datang. Bahkan, dia tidak menghubungimu. Apa kamu tidak bisa melihat kalau bagi Aelin kamu tidak penting," marah Syaila, ia mendorong meja dengan keras hingga kue ulang tahun untuk Davin jatuh ke lantai dan hancur.


Syaila terdiam melihat apa yang dilakukan Davin. Ia tidak menduga Davin akan memakan makanan yang sudah jatuh ke lantai dan kotor.


"Aelin menyiapkan kue ini untukku. Aku akan memakannya, agar dia tidak kecewa," ucap Davin sambil mengunyah kue itu.


Rahang Syaila mengeras dengan sempurna. Tangannya juga mengepal karena marah melihat betapa cintanya Davin pada Aelin. Syaila mendekat ke arah Davin dan menarik lengan pria itu hingga menjauh dari kue hancur tersebut.


"Tolong buka matamu, jangan menjadi pengemis yang makan dari makanan kotor," sarkas Syaila berusaha mengompori Davin agar membenci Aelin.


"Kenapa dia tidak datang?" tanya Davin dengan wajah sedih hampir menangis. Ia sudah menunggu semalaman tapi Aelin tidak datang.


"Itu karena kamu tidak penting baginya. Lihatlah, aku Dav. Aku yang selalu mencintai dengan tulus. Berhenti mempercayai ucapan Aelin."

__ADS_1


"Tidak, Sya. Cukup, Aelin sangat mencintaiku!" pekik Davin menghempas tangan Syaila yang menyentuh bahunya.


"Permisi," ujar pelayan yang tiba-tiba masuk. Davin dan Syaila menoleh bersamaan.


"Pergilah, aku sedang bicara dengan suamiku!" bentak Syaila mengusir pelayan tersebut.


"Baik, Nyonya. Saya hanya ingin memberikan ini pada, Tuan." Pelayan tersebut memberikan amplop besar pada sang majikan, lalu pergi keluar dari ruangan tersebut.


Davin menatap nanar amplop besar berwarna coklat di tangannya. Ia segera membuka amplop tersebut dan melihat isinya. Sedetik kemudian kedua mata Davin melebar dengan sempurna bersamaan dengan tubuhnya yang terasa lemas.


...----------------...


...****************...


Yey, dobel up. Terus ikuti kisah BDOK oke.. Love you all❤️❤️❤️


Jangan lupa


Like


komentar


gift


vote


tips

__ADS_1


__ADS_2