
...23😇...
Kini posisi Aelin dan Maya sang pelayan bertukar posisi.
Di mana Maya kini berjalan di depan untuk menggiring langkah Aelin, sedang kan di belakang nya Aelin dengan pasrah mengikuti pelayan pribadi nya yang hanya beberapa jam baru diri nya kenal.
Maya dan Aelin sampai di depan lift. Benda berbentuk kubus yang akan mengantar mereka menaiki lantai selanjut nya.
"Apa di rumah ini tidak ada tangga? sehingga kita harus menaiki lift?" Tanya Aelin polos yang tentu saja sedikit menggelitik perut Maya untuk terkekeh.
"Jika ada lift tentu saja ada tangga nona... Hanya saja tuan Davin memasang nya untuk mempercepat waktu untuk sampai di lantai dua..." Sahut Maya dengan tangan memencet tombol lift menuju lantai dua.
Aelin mengangguk - angguk kan kepala nya mengerti.
Memang sangat berlebihan dunia orang kaya, selalu memfasilitasi diri dengan sesuatu yang membuat penyakit malas semakin bersarang.
Padahal fakta nya menaiki tangga bisa membuat tubuh bugar dan sehat.
Ting...
Pintu lift terbuka lebar, Maya menyingkir sedikit memberi kan ruang untuk Aelin lebih dulu masuk ke dalam benda kubus itu.
Aelin menghela nafas nya, ia sudah di perlakukan layak nya seorang anak kecil. Bahkan diri nya merasa bosan dengan aktifitas yang lebih banyak tidak membuat tubuh nya bergerak.
Pintu lift tertutup dengan perlahan, benda kubus besi itu pun mulai bergerak ke atas.
Tidak ada pembicaraan atau suara di antara Aelin dan Maya. Hanya terdengar suara mesin dari lift yang bergerak.
Ting..
Tidak butuh waktu lama, lift berhenti dan pintu kubus itu terbuka secara perlahan.
Lagi- lagi Maya menyingkir kan tubuh nya, untuk memberi kan ruang agar Aelin keluar lebih dulu.
Aelin dengan perut yang sudah sangat keroncongan pun tidak mempedulikan sikap Maya yang sedikit membuat nya jengah.
Aelin dan Maya berjalan melewati lorong panjang, dengan beberapa ruang dan juga kamar.
Kamar di rumah ini ternyata cukup banyak, bahkan desain nya sudah sangat mirip dengan hotel berbintang lima.
Mulai dengan lampu gantung indah yang berjejer di atas kepala Aelin,
Lalu vas- vas bunga mahal dengan barang mahal , bahkan barang antik pun bisa di temui di sini.
Satu yang sedikit menarik perhatian Aelin , yaitu ruang terbuka dengan dinding kaca di mana di sudut ruangan di letak kan sebuah piano.
Aelin mengerjap beberapa kali, karna kagum melihat desain ruangan itu.
Kaki nya terus melangkah mengikuti langkah Maya.
__ADS_1
Menuju ke meja makan saja membutuh kan waktu sepuluh menit dari kamar nya.
Bayang kan saja sepanjang apa lorong yang ia lewati.
Jika saja orang yang melewati nya adalah orang yang tidak makan selama tiga hari. Maka sudah di pasti kan sebelum mencapai meja makan ia sudah menjadi mayat yang siap di kubur.
"Kita sudah sampai....!!" Seru Maya yang langsung menghambur kan rasa kagum Aelin pada rumah besar, yang lebih mungkin di kata kan sebagai istana.
"Akhir nya sampai juga..." Gumam Aelin yang langsung berlari kecil menuju meja makan.
"Apa kamu tidak memiliki tata krama saat akan duduk di meja makan...!!" Celetuk suara sinis, yang langsung membuat sorot mata Aelin tersapu hingga ke ujung meja makan, yang ternyata sangat panjang.
Di ujung meja makan di depan nya, Aelin menatap seorang wanita paruh baya, berumuran sekitar lima puluh tahun sedang menatap nya tajam.
Tangan Aelin yang tadi nya ingin menarik kursi, terhenti karna suara yang cukup membuat orang merasa tercekik.
"Siapa dia?" Batin Aelin dengan menajam kan netra nya, menelisik perempuan itu yang terlihat begitu glamor.
"Nona.. Dia adalah Nyonya Tissa, ibu dari Tuan Davin..." Papar Maya, yang bisa menebak wajah bertanya- tanya Aelin.
"Jadi dia mertua ku? " Lirih Aelin, yang sedikit merasa risih dengan tatapan Nyonya Tissa yang seperti sedang menelanjangi tubuh nya.
"Kemari...!!" Suara lembut namun tegas itu kembali terdengar.
Aelin menatap Maya, yang hanya di respon dengan anggukan oleh Maya.
Semakin dekat dengan wanita paruh baya itu, atmosfer di sekeliling Aelin terasa semakin berat.
Aura mengintimidasi dari Nyonya Tissa sangat bisa di rasakan Aelin.
Bahkan Aelin melihat jelmaan iblis wanita bukan seorang perempuan berkelas.
"Malam..." Cicit Aelin dengan senyum yang terkesan di paksa kan.
"Jika ingin memberi salam, kau juga harus membungkuk kan tubuh mu... Kamu seperti nya hanya gadis kecil tidak tahu etika saat berhadapan dengan seorang nyonya besar... Aku sampai bingung kenapa bisa Davin menikahi gadis kecil seperti mu..." Sarkas Nyonya Tissa dengan ketus yang tentu saja langsung menohok hati Aelin yang lembut.
"Kita baru saja bertemu tante,, tapi tante sudah mendoktrin saya seperti itu..." Balas Aelin dengan mengutamakan rasa hormat nya pada orang yanh lebih tua.
Ia tidak ingin mulut julid mertua nya kembali mengata kan jika diri nya tidak tahu tata krama.
Aelin membungkuk kan tubuh nya dengan anggun, sebagai tanda hormat pada ibu mertua kuno di depan nya.
Jaman sudah di era digital tapi pemikiran semua orang di dalam rumah ini , sudah seperti pemikiran jaman kerajaan.
Di mana jika bertemu dengan orang yang kasta nya lebih tinggi, maka harus membungkuk kan tubuh sebagai tanda hormat.
Sangat gila dan kuno.
"Hanya dengan penampilan mu pun aku bisa menilai wanita seperti apa diri mu..." Ujar Nyonya Tissa yang seperti nya ingin menjatuh kan mental gadis kecil lugu di hadapan nya.
__ADS_1
Aelin mengontrol emosi nya, ia tidak pernah menyangka jika akan satu rumah dengan mertua seperti singa.
Hanya untuk makan saja, ia harus di beri kan ceramah bon cabe dengan level tertinggi.
"Seperti nya tante lupa, jika kita harus menghormati waktu dan makanan... Kita tidak boleh terlalu banyak bicara di hadapan makanan... Bukan kah begitu..?" Aelin mengalih kan pembicaraan yang sedikit mengoyak hati nya.
Sekarang perut nya sudah berteriak ingin makan.
Meladeni mulut pedas mertua nya tidak lah penting, anggap saja sebagai nyanyian cicak yang terus berdecak karna lapar.
Tanpa menunggu jawaban dari Nyonya Tissa, Aelin menarik kursi di samping perempuan glamor itu.
Mata Aelin terlihat berbinar, dengan makanan yang tersaji pada meja makan super panjang ini.
Mereka hanya makan berdua, tapi hidangan nya benar- benar sangat banyak.
Orang kaya memang tahu bagaimana cara menghabis kan uang mereka.
Nyonya Tissa mencebik kan bibir nya melihat sikap jalanan Aelin.
Ia memang hanga ibu palsu yang di sewa Davin sebagai mertua Aelin.
Di mana diri nya bertugas sebagai ibu mertua kejam dan selalu menyiksa menantu nya.
Di mana mulai malam ini, ia akan menjalan kan tugas nya untuk menyiksa gadis kecil di samping nya , yang sedang melahap makanan nya.
...----------------...
...****************...
Hayyyo... yang baca jangan lupa koment donk... Karya othor yang satu ini belum ada yang ngomenin😭 jadi sedih kan othor😭
yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚
Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙
__ADS_1