
...77😻...
Antonio sempat melihat gerak- gerik Davin yang mencuriga kan.
Di mana tubuh Davin hampir jatuh, saat ia menerima telpon dari seseorang.
Sebelum Davin berlari meninggal kan pemakaman.
Proses pemakaman akhir nya selesai, satu persatu semua orang yang hadir mulai melangkah kan kaki mereka pulang.
Namun tidak dengan Aelin yang masih berdiri tanpa bergeming sedikit pun dari tempat nya.
Sungguh kaki nya tak mampu untuk beranjak, di mana hati nya tidak ingin meninggal kan tempat yang menjadi peristirahatan terakhir sang ayah.
Kaki nya terasa begitu berat untuk pergi dan kembali pulang.
Aelin menatap lekat pada batu nisan sang ayah, di mana langit senja sudah mulai bersinar menanda kan jika malam akan segera tiba.
Namun Aelin masih tetap berdiri di tempat nya, tak ingin beranjak atau pun pergi.
Sekelebat kenangan- kenangan manis yang ia lewati bersama sang ayah, kini tinggal menjadi kenangan.
Tidak bisa di ulangi lagi.
Aelin merasa sangat bersyukur karna di lahir kan dari orang tua yang sangat hebat, meski kini jalan takdir nya sak selurus jalan tol.
Aelin mengedar kan pandangan nya pada makam di sebelah makam ayah nya, yang tak lain adalah makam sang momy. Yang lebih dulu meninggal kan nya saat usia nya masih sangat kecil.
Dan kini ia sudah tidak memiliki malaikat tanpa sayap itu lagi, di mana ke dua nya lebih dulu terpanggil oleh sang pencipta.
"Papy.. sampai kan salam Aelin buat Mamy, kata kan pada Mamy jika Aelin sangat merindukan dia.. Papy pasti sangat bahagia karna bisa bertemu dengan mamy, papy tidak akan merindukan mamy lagi.. Karna kini pasti kalian sudah bersama... Aelin sangat merindukan kalian..." Cicit Aelin dengan suara yang samakin parau, dengan air mata yang lagi- lagi mengalir tanpa di undang.
Bibir Aelin bergetar, mencoba menahan isak tangis nya, yang rasa nya ingin meledak.
Ucapan Davin kembali teringat di kepala nya, jika ia tidak boleh menangis karna jika tidak sang papy tidak akan pergi dengan tenang.
Srak...
Sebuah jaket mendarat di bahu Aelin, membuat Aelin tersentak dengan seseorang yang memakai kan jaket di tubuh nya.
"Om.." Ujar Aelin karna mengira jika orang tersebut adalah Davin.
Namun ternyata dugaan nya salah.
"Dia tidak ada di sini... Hanya ada aku..." Ucap Antonio dengan senyum kecut, karna Aelin mengira jika diri nya adalah Davin.
__ADS_1
"Maaf kak.. Aku pikir kau om Davin.." Sahut Aelin meminta maaf, lalu mengedar kan pandangan nya ke seluruh penjuru makam, untuk mencari keberadaan Davin.
Namun sayang, netra Aelin tidak menemukan keberadaan suami nya itu, bahkan bayangan nya pun tidak terlihat di mana- mana.
"Sudah aku kata kan tuan Davin tidak ada di sini... Mungkin ia sudah pulang..." Seru Antonio yang melihat Aelin sedang mencari keberadaan Davin, yang jujur membuat hati nya mendidih.
"Om Davin tidak mungkin pulang kak.. Mungkin dia ada di sekitar sini.." Sanggah Aelin yang tidak setuju dengan perkataan Antonio.
"Jika begitu di mana dia?" Tanya Antonio dengan menatap lekat pada ke dua mata Aelin yang sembab, karna terus menangis sejak kemarin.
"Dia tadi menerima telpon dari seseorang... Mungkin om Davin pergi untuk mengurus pekerjaan nya... " Ujar Aelin mengata kan apa yang sedang ia pikir kan pada Antonio.
"Apa kau percaya begitu saja dengan tuan Davin.?" Kini nada bicara Antonio berubah kesal, karna ia tidak menyangka jika Aelin membela pria iblis itu.
Ingin rasa nya ia memberi tahu semua nya pada Aelin, namun saat ini ia tidak memiliki bukti apa pun untuk menunjuk kan sifat busuk Davin yang terus menerus berganti topeng di hadapan gadis malang seperti Aelin.
"Dia adalah suami ku.. Dan aku percaya pada nya..." Jawab Aelin, yang membuat Antonio tidak percaya dengan apa yang telinga dengar.
"Hah.. Kau baru bertemu dengan pria itu Aelin, bahkan umur kalian sangat berbeda jauh.. Bagaimana bisa kau sepercaya itu pada nya.?"
"Aku sudah berjanji pada papy, jika aku akan menerima om Davin sebagai suami ku, dan mulai membuka hati untuk mencintai nya...."
Antonio terhenyak dengan jawaban Aelin, di mana amarah nya membumbung dengan tinggi.
"Kau jangan pernah melakukan hal itu...!" Sentak Antonio dengan marah.
Namun kali ini, Antonio membentak nya dengan wajah marah.
Lalu, kenapa Antonio melarang nya untuk memulai hidup nya dengan menerima Davin.?
Antonio menghela nafas panjang, setelah sadar jika apa yang di kata kan pada Aelin bukan lah hal yang benar.
Apa lagi ia membuat Aelin kaget dengan sikap nya yang kebablasan.
"Maaf kakak hanya masih sedih dengan kepergian papy..." Cicit Antonio membuat alasan.
Aelin menghembus kan nafas nya lega, lalu menepis pikiran- pikiran negatif yang sempat terbentuk karna ucapan Antonio.
"Lebih baik sekarang kita pulang... Kakak akan mengantar mu..." Seru Antonio lagi, sebelum Aelin mencecar nya dengan pertanyaan terkait sikap nya kali ini.
Ia sangat bodoh, karna hampir keceplosan dan kebablasan, karna terlalu terbawa emosi.
Ia harus diam hingga waktu nya tiba. Di mana ia akan mengata kan semua nya kepada Aelin. Dan segera membawa Aelin pergi menjauh dari pria iblis seperti Davin.
Aelin hanyamengangguk, lalu berjalan beriringan bersama Antonio.
__ADS_1
Antonio meraih tangan Aelin , yang terasa dingin seperti es, menggenggam nya dengan erat. Menyalur kan kehangatan pada tangan yang sudah melalui banyak penderitaan.
"Aelin...!" Panggil Antonio memecah kebisuan di antara mereka.
"Iya kak..." Jawab Aelin dengan menyungging kan senyum yang terkesan di paksa kan.
"Peri kakak ini masih punya hutang lo..." Seru Antonio dengan wajah sumringah, dan ceria.
Berharap kecerian yang ia buat tertular pada Aelin , dan gadis malas yang sedang di gandeng nya tersenyum meski hanya sesaat saja.
"Hutang apa?" Kening Aelin berkerut penasaran.
"Kamu masih berhutang penjelasan pada kakak... Berani sekali kamu melangkahi kakak untuk menikah...." Antonio mencubit gemas pipi gembul Aelin, membuat gadis itu meringgis kesakitan karna ulah nya.
"Hahhhh... Kak Antoni, jangan di cubit pipi Aelin.. Sakit...!" Protes Aelin dengan bibir yang di manyun kan ke depan.
"Ha... Ha... Habis nya pipi mu enak buat di cubit.."
"Hmmmm kak Antoni.. Ngak pernah berubah dari dulu selalu doyan cubit pipi Aelin... Untuk hutang Aelin itu, lebih baik kita bahas di rumah aja ya kak..."
"Baik lah... awas saja jika kau berbohong... Nanti hidung mu yang panjang ini semakin panjang lo..." Antonio mencubit hidung Aelin , yang semakin membuat Aelin mendesah kesal.
Karna wajah nya terus di aniaya oleh Antonio.
...----------------...
...****************...
hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...
Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...
yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚
Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
__ADS_1
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙