
...102💛...
Aelin berjalan keluar dari rumah sakit dengan menangkup wajah nya yang terasa panas.
Belum lagi hati nya yang terasa berbunga - bunga.
Untuk pertama kali nya entah mengapa diri nya merasa sangat senang saat Davin mengecup kening nya.
Belum lagi bibir mungil nya yang terus tersenyum.
Brak...
Aelin masuk ke dalam mobil. Darren memutar kaca spion dasbord untuk bisa melihat Aelin yang kini duduk di kursi belakang.
Dapat Darren lihat wajah putih Aelin memerah.
Darren terlihat bingung dengan ekspresi asing di wajah Aelin.
Apa yang terjadi di dalam saat ia keluar tadi.?
Tapi ia bisa menebak jika hal itu pasti membuat Aelin sangat senang, hingga wajah nya memerah.
"Apa tuan dan Nona sudah sedekat itu ?" Pikir Darren yang langsung menggeleng kan kepala nya cepat.
Saat otak kecil nya mulai melakukan traveling terlarang.
"Nona anda baik- baik saja? Apa anda sakit sampai wajah anda memerah.?" Tanya Darren yang langsung membuat Aelin terhenyak.
"Aku sehat kok.. Tidak sakit.." Sanggah Aelin yang kini benar- benar malu.
Apa wajah nya semerah itu sampai asisten suami nya itu tahu.?
Aelin langsung menutup wajah nya dengan ke dua tangan nya, menyembunyi kan wajah nya yang memerah agar Darren tidak bisa melihat nya.
Rasa nya ia ingin membungkus kepala nya sendiri sekarang.
Darren yang melihat gelagat Aelin yang semakin aneh hanya mengendik kan bahu nya tidak tahu.
Begini lah nasib jomblo yang tidak mengerti apa - apa.
...----------------...
Davin masih menatap ke arah pintu, kini hanya diri nya sendiri berada dalam ruangan serba putih yang dominan dengan bau obat yang menyengat.
Davin menyibak selimut yang menutupi kaki nya , di mana netra nya langsung di sapa dengan kaki kanan nya yang di balut perban dan di pasang gift.
Seperti nya kaki nya patah atau entah lah ia tidak tahu.
Tap..
Tap..
Tap..
Suara derap kaki mendekat membuat Davin mengalih kan pandangan nya, di mana terlihat Dokter wanita dengan wajah berkharisma tengah berjalan ke arah nya.
__ADS_1
"Akhir nya Tuan sadar juga..." Ucap Dokter Nashila dengan senyum ramah nya.
Ia sangat senang melihat Davin yang akhir nya sadar setelah selama dua hari ini tidak sadar kan diri.
Davin hanya tersenyum sebagai respon.
Dokter Nashila sedikit mengerut kan dahi nya, menyadari jika ruangan Davin sepi.
Ia tidak melihat gadis kecil yang mengaku sebagai istri Davin ada di dalam ruangan ini.
Padahal selama dua hari gadis itu terus menunggu Davin dan tak ingin bergerak menjauh sedikit pun. Sehingga meninggal kan kesan aneh saat kehadiran gadis itu tidak ada.
"Anda sedang mencari siapa?" Tanya Davin melihat gelagat sang dokter yang seperti nya sedang mencari seseorang.
"Aku merasa aneh karna tidak melihat gadis kecil yang selalu duduk di samping mu..." Dokter Nashila mulai memeriksa keadaan Davin.
"Gadis itu tidak mau bergerak selama dua hari, bahkan dia tidak beranjak sedikit pun dari sisi mu... Bahkan telapak kaki nya sempat berdarah saat ia datang kemari.. Tapi yah dia sangat keras kepala dan tidak mau mengobati luka di kaki nya..." Jelas Dokter Nashila mencerita kan kejadian dua hari kemarin saat Davin tidak sadar kan diri.
Mendengar cerita dokter Nashila membuat hati Davin meluluh.
Sebesar itu perhatian Aelin pada nya, hingga Aelin terus berada di samping nya.
Ia sungguh tidak menyangka dengan semua yang di lakukan Aelin.
Pantas jika penampilan Aelin terlihat begitu berantakan, karna selama dua hari itu ia sama sekali tidak melakukan apa pun kecuali menunggu nya untuk sadar.
Davin terdiam dengan pikiran- pikiran nya yang mulai berperang.
Dokter Nashila melepas alat oksigen.
Davin langsung menatap tajam pada dokter Nashila.
Di mana aura menekan menguar dari tubuh nya, membuat Dokter Nashila mengerti jika apa yang ia tanya kan bukan lah sesuatu yang bisa ia tanya kan.
"Anda tidak perlu ikut campur dengan urusan saya...." Jawab Davin dengan dingin.
Dokter Nashila hanya mampu menelan saliva nya paksa.
"Oh ya tuan.. Tulang kering kaki anda mengalami keretakan jadi dalam beberapa waktu anda tidak akan bisa berjalan.. Lalu di wajah anda ada luka yang cukup dalam yang mungkin akan membekas...." Cicit Dokter Nashila menjelas kan kondisi Davin yang sebenar nya.
Davin yang mendengar kan kondisi nya hanya diam dengan tenang.
"Bisakah anda memberi kan ku cermin...?" Tangan Davin menengadah.
Dokter Nashila langsung meraih cermin kecil yang ada di atas meja lalu meletak kan nya di tangan Davin.
Davin melihat pantulan wajah nya, di mana pipi kiri nya dan pelipis nya terlihat di perban.
Sungguh kecelakaan itu membuat wajah nya menjadi cacat.
Namun ia sempat heran mengapa Aelin sama sekali tidak mengata kan apa pun tentang wajah nya.
"Lalu Syaila bagaimana dengan dia?"
Dokter Nashila menatap heran pada Davin. Biasa nya Davin akan bertanya tentang Syaila dengan suara penuh kecemasan.
__ADS_1
Tapi kali ini ia mendengar pertanyaan yang begitu datar.
"Nyonya semakin membaik bahkan terkadang jari nya bergerak.. Seperti nya sebentar lagi dia akan segera bangun..." Jelas Dokter Nashila menjelas kan kondisi Syaila yang semakin membaik setiap hari nya.
Bahkan ia yakin jika pasien nya itu akan segera bangun dari koma panjang nya.
Davin terdiam mendengar kabar gembira itu. Ia bersyukur karna sebentar lagi istri nya akan sadar.
Tapi kenapa ia tidak merasa senang?
Bukan kah ini yang ia tunggu sejak lama.?
Lalu kenapa hati nya kini takut. Di mana bayangan wajah Aelin yang tersipu malu kini terbayang di pelupuk mata nya.
Ada rasa takut yang menyusup ketika Aelin sampai tahu jika ia sudah memiliki istri.
Bagaimana respon dan tanggapan Aelin pada nya?.
Entah mengapa ia tidak ingin di tatap dengan kebencian dan kemarahan lagi.
Semakin ke sini, kenapa ia merasa semakin lemah berhadapan dengan Aelin.
Ia merasa separuh diri nya berhasil di tangkap oleh gadis kecil yang awal nya ia guna ka sebagai permainan balas dendam.
Sebenar nya apa yang terjadi pada perasaan nya.?
Di saat dekat Aelin ia merasa melupakan diri nya dan tujuan nya.
Di dekat istri kecil nya ia merasa beban hidup yang selama ini di tanggung nya sirna.
Terasa begitu nyaman dan candu.
Saat bersama Syaila dulu ia tidak merasa kan rasa aneh ini.
Jantung berdebar, lalu kegugupan yang melanda dan kebebasan untuk tersenyum. Ia sama sekali tidak merasa kan hal itu.
Apa diri nya terjebak dalam permainan nya sendiri.?
Lalu rasa apa ini?
...----------------...
...****************...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
__ADS_1
Supaya othor makin semangat😙