Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Jangan mengacuhkanku


__ADS_3

...178...


Aelin memandang ke arah Davin yang hanya diam sejak tadi. Kini mereka sedang berada di mobil. Sejak ia masuk ke dalam mobil, Davin bersikap sangat dingin bahkan terkesan mengacuhkan dirinya.


Aelin yakin jika Davin masih kesal karna ia memberikan ijin untuk Livia tetap tinggal di rumah mereka. Ia tahu, Davin bukan tipe orang yang mudah menerima orang asing di sekitarnya. Namun, Livia tetap saudara Davin. Bukankah sangat kejam seorang kakak sepupu tidak membiarkan adiknya untuk menumpang sementara waktu?


Aelin menyenderkan kepalanya di bahu Davin, lalu meraih tangan Davin dan menggengamnya dengan erat. Davin melirik sekilas pada Aelin, lalu memilih membuang muka keluar jendela.


"Kenapa kamu marah?" cicit Aelin menarik tangan Davin dan mengecup punggung tangan pria yang sangat ia cintai.


Namun, Davin memilih diam membisu. Ia hanya tidak ingin semuanya semakin rumit dengan Syaila yang tinggal di rumahnya. Syaila terus saja mendesak dirinya untuk segera menghancurkan Aelin. Akan tetapi, saat ingin melakukan sesuatu ia merasa takut dan tidak bisa. Seakan alam bawah sadarnya langsung menariknya untuk tidak melakukan apapun yang akan melukai Aelin.


"Dav, ayolah jangan mendiamkanku seperti ini. Jika kamu terus diam mana bisa aku menjawab soal. Aku belum mendapatkan asupan gizi dari suaramu yang menawan itu," ujar Aelin dengan kalimat menggoda. Ia yakin jurus andalannya pasti akan berhasil.


Davin menghembuskan nafasnya perlahan. Sudut bibirnya tertarik ke atas mendengar godaan Aelin yang selaku berhasil menggelitik geli perutnya.


Davin mengusap kepala Aelin penuh sayang, lalu mengecup dalam puncak kepala wanita yang dicintainya. Aelin segera mendongak dengan wajah ceria. Lihat, jurus andalannya langsung bekerja.


"Aku hanya tidak ingin kamu merasa tidak nyaman dengan kehadiran Livia," seru Davin dengan tatapan sendu.


"Tidak, malah aku merasa senang jika ada Livia. Setidaknya aku tidak kesepian sendirian di rumahmu yang besar itu," kekeh Aelin memperlihatkan deretan giginya.


Merasa sangat gemas, Davin mencium pipi putih Aelin dengan gemas. Bahkan menekan bibirnya hingga Aelin tergelak.


"Aku sangat mencintaimu," ujar Davin tulus.


"Aku juga sangat, sangat lebih mencintaimu," balas Aelin dengan mencubit gemas ke dua pipi Davin, lalu segera melompat keluar dari mobil, sebelum Davin menerkam dirinya.


Brak!


Pintu mobil di tutup dengan keras di depan wajah Davin. Ia cukup tersentak kaget, Davin tersenyum dengan wajah merona melihat Aelin yang sudah kabur berlari masuk ke dalam sekolah.


"Anda seperti anak remaja yang baru saja jatuh cinta Tuan!" seru Darren dengan menahan bibirnya yang ingin tertawa saat ini karena melihat ekspresi wajah Davin yang merah merona, seperti kepiting rebus.

__ADS_1


Dalam hitungan detik, wajah Davin berubah menjadi dingin dan datar. Ia menatap ke arah jok depan dimana Darren sedang mengemudi.


Merasakan aura membunuh dari arah belakang. Darren memilih untuk segera melajukan mobilnya meninggalkan sekolah Aelin. Sementara bulu kuduk di lehernya sudah meremang dengan sempurna.


"Bagaimana dengan projek kita Darren? Apa pihak kita memenangkan tender dari Pradipta Group?" tanya Davin dengan ekspresi dingin terkesan tegas.


Darren melirik ke arah kaca spion depan, dimana dari kaca berbentuk persegi panjang itu ia bisa melihat wajah serius Davin.


Dia seperti bunglon, berubah begitu cepat. Batin Darren.


"Keputusan dari Pradipta Group akan di umumkan siang ini Tuan. Untuk itu Anda harus menghadiri pertemuan siang ini," jelas Darren.


"Kau yang akan hadir mewakili aku Darren. Aku tidak bisa karna siang ini aku akan menjemput Aelin pulang sekolah."


"Maaf Tuan, tapi kali ini Anda harus hadir dalam pertemuan tersebut. Jika Tuan tidak hadir, Pradipta Group pasti mengira pihak kita tidak menghargai undangannya. Tuan tahu pasti bukan, jika Pradipta Group lebih mengutamakan relasi dari pada apapun."


Davin mengeram dengan rahang yang mengeras. Akan tetapi apa yang dikatakan oleh Darren memang benar. Apalagi projek ini penting untuk perusahaannya.


"Baiklah," putus Davin. Ia akan menelpon Aelin nanti untuk mengatakan jika ia tidak bisa menjemput Aelin.


...----------------...


"Ye ... Ae kita lulus!!!" teriak Lia dengan histeris bahkan akibat teriakannya banyak mata menatap mereka aneh.


Aelin segera menarik ke dua tangan Lia yang terangkat ke atas. Sahabatnya ini selalu saja bersikap seperti gadis yang tidak memiliki rasa malu sedikitpun.


"Lia jangan berteriak, lihat semua orang menatap ke arah kita," tegur Aelin. Namun, bukan Lia namanya jika ia menurut dengan teguran Aelin.


Lia bahkan semakin menggila dengan berjoget. Meliukkan tubuhnya ke kiri dan kanan. Aelin menepuk keningnya keras karna merasa malu dengan perbuatan Lia.


"Idih, joget kok kek cacing kepanasan!" seru suara bass yang terdengar begitu pedas, siapa lagi jika bukan Boy kekasih Lia.


Wajah Lia langsung memberengut, ia menghentikan jogetannya dan menatap nyalang pada kekasih laknatnya yang malah mengatai jogetan aduhainya seperti cacing kepanasan.

__ADS_1


"Ngiri bilang Bos," sinis Lia dengan jutek.


"Ha ... Ha ... Ngiri sama kamu? Ngimpi." Boy menoyor kepala Lia sambil tertawa tepinggkal-pingkal. Wajah Lia sangat lucu saat sedang marah di mata Boy. Namun, tidak di mata orang lain.


"Ihh, nyebelin banget sih. Awas kamu siang ini ngak dapet jatah," ancam Lia yang langsung membuat tawa Boy lenyap seketika.


"Jangan donk, masak aku harus kelaparan. Jangan ambil jatah aku siang ini ya sayang. Aku ngak mau mati kelaparan karna tidak di beri makanan." Wajah Boy seketika memelas. Ancaman Lia benar-benar sangat mengerikan. Bagaimana bisa seorang kekasih membuat kekasihnya kelaparan dengan tidak memberi jatah makan. Yah, sejak saat ia dan Lia berpacaran. Lia selalu rutin mengantar makan siang untuk dirinya. Sehingga ia mulai terbiasa dan tidak bisa memakan makanan yang lain selain makanan dari Lia. Ia juga tidak tahu kenapa itu bisa terjadi.


Aelin tersenyum simpul melihat perdebatan sepasang kekasih di hadapannya. Setidaknya Boy berhasil membuat Lia berhenti berjoget seperti orang gila.


"Aku pulang dulu, kalian lanjutkan saja pertengkaran kalian yang tidak berfaedah itu!" seru Aelin berpamitan, yang langsung berlari meninggalkan Boy dan Lia.


"Ae!" teriak Lia memanggil Aelin yang sudah berlari jauh meninggalkan dirinya.


"Huhhh anak itu, mentang-mentang sudah punya suami selalu meninggalkan aku," dumel Lia dengan bibir dimanyunkan ke depan.


"Kita pulang?" ujar Boy dengan memasang wajah jelek.


"Emmm" dehem Lia, lalu mereka berjalan menuju motor Boy yang terparkir di parkiran.


Aelin berhenti di pinggir jalan. Ia menoleh ke samping kiri dan kanan. Namun, ia tidak melihat keberadaan mobil Davin. Seharusnya Davin sudah datang untuk menjemputnya.


...----------------...


...****************...


Haduh Lia si cewek bar-bar


Jangan lupa


Like


Komen

__ADS_1


Gift


Vote


__ADS_2