
...189...
Pagi datang begitu cepat. Aelin sudah berada di dapur dan bergelut dengan wajan dan spatula seperti biasanya. Menyiapkan sarapan untuk Davin, sebelum pria itu pergi ke kantor.
"Wahh, Nona Anda terlihat sangat cantik pagi ini. Wajahmu terlihat bersinar," ujar salah seorang pelayan sambil meletakkan piring kotor di wastafel.
Aelin tersenyum lebar, mendengar pujian dari pelayan tersebut.
"Apa sebelum-belumnya aku tidak terlihat cantik?" goda Aelin, yang langsung membuat wajah pelayan itu berubah pias karena berpikir apa yang ia katakan barusan salah.
"Maa--maaf Nona, aku tidak bermaksud mengatakan hal seperti itu. Anda selalu cantik setiap harinya," jawab pelayan tersebut dengan gagap, bahkan keringat dingin mulai keluar dari pelipisnya.
Aelin menahan tawanya, melihat ketakutan pelayan tersebut. Padahal ia hanya iseng mengatakan hal itu.
"Jangan di bawa serius, aku hanya bercanda."Aelin tertawa ringan, lalu menyajikan sarapan yang dibuatnya di atas meja.
Pelayan tersebut mengelus dadanya. Untuk sejenak ia merasa sedang di terkam binatang buas.
"Bisakah, kau membuatkan susu?" ujar Aelin.
"Tentu Nona," jawab pelayan tersebut.
"Baiklah, aku akan melihat Tuan apa dia sudah siap. Setelah selesai kau letakkan saja di sini!" Aelin menunjuk ke arah meja makan, yang langsung di angguki oleh pelayan tersebut.
.
Davin yang baru selesai mandi dan hanya menggunakan handuk sepinggang terlihat sedang memakai kemeja yang sudah di siapkan oleh Aelin di atas ranjang.
Sepasang tangan lentik, tiba-tiba melingkar dengan sempurna di dada bidang Davin.
Davin yang merasakan sentuhan tiba-tiba, cukup tersentak dan kaget. Namun, sedetik kemudian ia tersenyum dan malah mengeratkan tangan yang sedang memeluknya.
"Jangan menggodaku Ae, aku bisa terlambat berangkat ke kantor," tutur Davin memejamkan ke dua matanya, saat ke dua tangan itu meraba lembut dada bidangnya.
"Aku bukan Aelin, tapi Syaila."
Davin langsung melepas pelukan tersebut, dan menjauh dari Syaila yang terlihat begitu kecewa. Davin melirik ke arah pintu yang terbuka dan segera berlari menutup dan mengunci pintu. Ia tidak ingin mengambil resiko jika Aelin melihat apa yang dilakukan oleh Syaila.
"Syai, aku sudah pernah mengatakan padamu untuk tidak masuk ke kamarku dan Aelin. Kenapa kamu malah masuk?" Davin menatap Syaila dengan melotot.
"Dav, please jangan menjaga jarak dariku. Aku ini istrimu aku juga berhak atas dirimu," timpal Syaila yang tidak terima dengan semua perlakuan Davin terhadap dirinya, yang semakin hari semakin mengabaikan dirinya.
"Aku tahu Syai, tapi aku tidak ingin Aelin sampai tahu tentang hubungan kita. Hubungan kita harus tetap di sembunyikan sampai kapanpun."
"Dav, kamu begitu egois. Aku sudah membiarkanmu terus bertahan dengan Aelin, tapi kau? kau malah membuangku begitu saja. Ini tidak adil Dav, kamu harus memperlakukan aku sama dengan Aelin. Aku butuh keadilan."
Tok!
Tok!
__ADS_1
Tok!
"Sayang, kenapa kau mengunci pintunya?" panggil Aelin dari luar sembari mengetuk pintu.
Seketika Davin menjadi ketakutan dan panik. Keringat dingin mulai berbentuk di pelipisnya. Ia segera mendorong tubuh Syaila masuk ke dalam lemari. Ia tidak mau sampai Aelin melihat Syaila yang berada di kamar mereka.
"Dav hentikan, kamu mau membunuhku dengan memasukkanku ke dalam lemari," protes Syaila memberontak.
"Aelin tidak boleh melihatmu Syai, jadi aku minta bersembunyilah di sini dan tutup mulutmu." Davin mendorong tubuh Syaila dengan kasar hingga kepala wanita itu terbentur.
"Sialan kau, kau memperlakukan aku seperti wanita simpananmu Dav. Seharusnya Aelin yang kamu perlakukan seperti ini bukan aku," geram Aelin dengan kebencian dan kemarahan yang semakin besar.
Davin menghela nafas panjang, mengontrol mimik wajahnya sebelum ia membuka pintu. Ia melirik sekali lagi ke arah lemari, memastikan jika Syaila tidak akan berulah.
Krieet!
Pintu kamar terbuka, Aelin masuk begitu saja dengan tatapan sedikit kesal.
"Kau selalu saja begini Dav, aku memintamu untuk bersiap dengan cepat, tapi lihat bahkan sekarang kamu belum mengenakan baju." omel Aelin yang sedikit kesal dengan Davin.
"Aku baru selesai mandi Ae, aku lama karena harus memakai make-up untuk menutupi luka di wajahku," ujar Davin memberikan alasan.
"Aku sudah katakan padamu kan, lebih baik kamu jalani operasi plastik sayang, untuk menghilangkan bekas luka itu. Aku tahu kamu sibuk, dan tidak memiliki waktu untuk itu. Baiklah, biar aku yang mencari dokter terbaik dan mengatur jadwal operasi mu." Aelin segera membantu Davin untuk mengenakan pakaiannya. Ia tidak bisa membayangkan ketika anaknya lahir, pasti setiap pagi ia akan kerepotan karena mengurus dua bayi sekaligus.
"Terserah padamu, tapi kenapa kamu senyum-senyum seperti itu?" Davin memicingkan alisnya, dimana kini Aelin tengah mengancingkan kancing kemeja yang ia kenakan.
"Apa aku butuh alasan untuk tersenyum?" Aelin memasangkan dasi pada leher Davin.
"Baiklah jika begitu aku akan memasang wajah cemberut," Aelin mengembungkan ke dua pipinya dan memanyunkan bibirnya ke depan. Sehingga terlihat seperti ikan buntal yang lucu di mata Davin.
"Jika kamu cemberut aku semakin tergoda," bisik Davin tepat di telinga Aelin. Hembusan nafas Davin di daun telinga Aelin membuat tubuh Aelin meremang.
Berbeda dengan keadaan seseorang yang ada di dalam lemari. Syaila menggigit keras baju Davin yang tergantung. Darahnya benar-benar mendidih mendengar percakapan romantis antara Aelin dan Davin. Hatinya terasa sakit dan ia tidak terima.
Syaila mengepalkan ke dua tanganya. Ingin rasanya ia keluar dari lemari ini dan menjambak rambut Aelin. Bahkan jika perlu ia akan mencakar wajah Aelin sehingga Davin berhenti mencintai wanita itu.
Namun, ia tidak berdaya. Jika ia sampai melakukan hal itu, bukannya Aelin yang di usir melainkan dirinya yang akan langsung di ceraikan oleh Davin.
Aelin menautkan ke dua alisnya. Dasi yang ia pakaikan untuk Davin terlihat kurang cocok dengan kemeja yang dikenakan oleh suaminya.
"Aku akan mengambil dasi yang lain. Dasi ini tidak cocok dengan kemeja yang kau kenakan," ujar Aelin mendorong tubuh Davin sehingga pelukan Davin di pinggangnya terlepas.
Aelin segera berjalan ke arah lemari. Seketika Davin gelagapan saat Aelin hendak membuka pintu lemari. Ia menyembunyikan Syaila di sana. Apa yang akan di pikirkan Aelin ketika melihat Syaila ada di dalam lemari.
Davin bergerak dengan cepat, mencekal pergelangan tangan Aelin yang hampir menyentuh gagang lemari. Aelin menatap Davin dengan bingung saat melihat wajah Davin yang gelagapan dan ketakutan.
"Dasi itu sangat cocok untukku, aku pikir tidak perlu menggantinya," ucap Davin dengan suara tercekat.
"Tidak Dav, dasi ini tidak cocok dengan warna kemejamu," bantah Aelin.
__ADS_1
"Tidak Ae, aku akan memakai yang ini saja," kekeh Davin dengan nada memaksa. Ia melirik sekilas pada lemari di depannya, berharap jika Aelin menurut dan tidak membuka lemari.
Aelin merasa sedikit curiga dengan sikap aneh Davin. Seperti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Davin di dalam lemari, sehingga pria itu tidak mengizinkan dirinya untuk membuka lemari.
"Baiklah, kamu boleh memakai dasi ini, tapi aku akan mengambil bajuku di dalam lemari," pancing Aelin dengan tatapan menyelidik. Aelin memberikan dasi tersebut kepada Davin.
Davin terdiam seribu bahasa di tempat. Alasan apa lagi yang harus ia katakan untuk mencegah Aelin membuka lemari. Aelin menarik gagang lemari. Namun, Davin segera menindih pintu lemari tersebut menggunakan tubuhnya. Sehingga kini ia tepat berada di depan Aelin.
"Biar, aku yang mengambilkan baju untukmu," ujar Davin dengan memaksakan senyumnya.
Tingkah Davin semakin mencurigakan di mata Aelin, membuat Aelin merasakan jika ada sesuatu di dalam lemari. Sehingga Davin tidak mengizinkan dirinya untuk membuka lemari tersebut, tapi apa?
Aelin menatap Davin dengan lekat, menerawang jauh ke dalam dua bola mata Davin yang terlihat membesar. Bisa Aelin rasakan kegugupan serta rasa takut pada pria di depannya itu.
"Apa ada sesuatu yang tidak boleh aku ketahui di dalam lemari?" selidik Aelin dengan wajah serius.
Astaga, apa yang harus aku katakan. Sepertinya Aelin semakin curiga padaku. Batin Davin berusaha memutar otak kecilnya untuk mendapatkan jawaban yang tepat. Ia belum siap jika Aelin mengetahui semuanya. Dirinya pasti akan kehilangan wanita yang sangat ia cintai.
"Apa yang aku sembunyikan darimu Ae? tidak ada," jawab Davin dengan melontarkan pertanyaan.
"Jika tidak ada, lalu kenapa kamu bertingkat aneh seperti ini? Kamu tidak membiarkanku membuka lemari."
"Kau mencurigaiku?" Davin mengatur mimik wajahnya kecewa. Berharap jika jurus andalannya kali ini berhasil membuat Aelin berhenti curiga.
"Bisakah kau tidak menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan Davin? Sekarang aku semakin yakin jika ada sesuatu yang kau sembunyikan. Menyingkirlah aku ingin tahu apa yang ada di dalam lemari." Nada bicara Aelin sedikit meninggi. Ia mencoba mendorong tubuh Davin untuk menyingkir dari lemari tersebut. Namun, Davin malah mempertahankan posisinya.
"Stop Ae, aku tidak habis pikir kenapa kamu selalu curiga dan menganggap diriku menyembunyikan sesuatu darimu. Percayalah, aku tidak menyembunyikan apapun!" seru Davin mendorong tubuh Aelin menjauh dari lemari.
"Bagaimana aku tidak curiga padamu, jika kau bertingkah seperti ini. Jika di dalam tidak ada apa-apa kenapa kamu harus takut? Biarkan aku membuka lemari dan melihat apa yang ada di dalam. Setelah itu semuanya akan selesai," kekeh Aelin mendorong tubuh Davin dengan kuat. Akan tetapi, tenaganya tidak sekuat itu.
Tidak ingin menyerah, dimana rasa penasaran Aelin semakin tinggi. Aelin memilih untuk mencubit pinggang Davin dengan keras.
"Aaauuu!!" ringgis Davin kesakitan. Aelin langsung memanfaatkan situasi Davin yang lengah, dengan mendorong tubuh Davin hingga terjenggal tiga langkah.
Davin melebarkan ke dua matanya. Aelin benar-benar berhasil membuat ia menyingkir dari pintu lemari. Tamat sudah riwayatnya, semuanya pasti akan terungkap. Ia tidak bisa lagi mencegah Aelin karena wanita itu sudah membuka pintu lemari.
Davin memukul udara kosong, pasrah dengan apa yang akan terjadi.
Aelin menatap lurus ke dalam lemari, dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di artikan.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
koment
__ADS_1
gift
vote