Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Saran profesional


__ADS_3

...197...


Aelin memasuki pintu kafe biasa yang menjadi langganannya. Ia tersenyum tanpa semangat saat melihat orang yang akan ia temui sudah duduk manis di pojok kafe, sambil menikmati minuman hangat.


Setelah pulang dari kantor Davin, ia merasa sangat sesak, gelisah, serta penuh curiga. Ada yang mengganjal dalam hatinya. Namun, ia takut untuk mengutarakan apa yang sedang ia pikirkan. Saat pikiran sedang kalut dan buntu, ia hanya ingat sang sahabat. Satu-satunya perempuan yang menjadi tempat berkeluh-kesah dan yang selalu mengerti kondisi mental serta hatinya.


"Maaf, aku datang terlambat, Li!" seru Aelin, lalu duduk di depan Lia.


"Tidak papa, aku juga baru datang 5 menit yang lalu. Kamu baik-baik saja kan?" Lia menelisik sang sahabat dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan memindai penuh khawatir. Apalagi saat melihat wajah Aelin yang semakin pucat dan sedikit kusut. Jika ia gambarkan, sahabat cantiknya sangat mirip dengan vampir berjalan.


"Aku benar-benar tidak mengerti, Li. Hari ini aku melihat Davin berpelukan dengan Livia."


"Hah?" Mulut Lia membulat sempurna. Ia sangat kaget mendengar penuturan Aelin.


"Mereka bilang itu hanya kesalahan. Livia bilang kalau itu pelukan wajar yang dilakukan oleh saudara, apalagi itu Davin---"


"Terus Davin bilang apa?" Lia memotong ucapan Aelin dengan cepat. Dimana ekspresi wajahnya terlihat sangat serius. Tidak sekalipun, matanya berkedip dan teralihkan dari sang sahabat.


"Davin pikir, itu adalah aku. Jadi, dia memanggil Livia dengan panggilan sayang." Aelin menuntaskan cerita singkatnya dengan kepala tertunduk dalam. Ingin sekali ia mempercayai semua alasan yang diberikan oleh kedua orang itu. Namun, apalah daya hati dan pikirannya terus bertentangan dan mengatakan semua yang ia lihat tidak sesederhana itu.


Wajah serius Lia berubah menjadi masam dengan gurat kekesalan. Bibirnya tersenyum miring dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada. Tentu saja, ia tidak akan tertipu kalau ia yang berada di posisi Aelin, gadis polos yang tidak tahu apa-apa tentang dunia percintaan yang memiliki sisi menyakitkan. Tidak mendapatkan respon, Aelin mengangkat wajahnya menatap ke arah Lia yang terlihat kesal.


"Kenapa, kok diam?" tanya Aelin dengan nada ragu-ragu.


"Apa yang sekarang kamu pikirin menurutku 100% bener Ae," jawab Lia dengan nafas yang menggebu-ngebu.

__ADS_1


"Maksud kamu?"


"Fix, suami kamu selingkuh."


"Jangan asal bicara, Li!" sentak Ailen marah, bahkan sampai berdiri dari duduknya.


"Aku ngak asal bicara kok. Insting seorang istri tidak akan pernah salah. Laki-laki yang selingkuh itu selalu punya trik dan seribu alasan untuk membuat kamu yakin kalau kamu adalah satu-satunya wanita dalam hidupnya. Aku yakin, akhir-akhir ini Davin sering romantis sama kamu kan?"


Aelin terdiam seribu bahasa, dimana bayangan indah dengan momen yang begitu romantis yang ia lewati bersama Davin berputar kembali. Apa yang dikatakan oleh Lia memang benar adanya. Akhir-akhir ini Davin sangat romantis meskipun terkadang terlihat tertekan. Seperti sang suami sedang menyembunyikan sesuatu.


Tidak mungkin, Davin tidak akan pernah tega menyakitiku seburuk itu. Dia sangat mencintaku. Batin Aelin dengan air mata yang merembes menembus pertahan tanpa diinginkan. Tubuh Aelin ambruk kembali di kursi dengan dada yang begitu sesak. Membayangkan kalau Davin berselingkuh membuat seluruh otot dalam tubuhnya terasa melebur hingga tidak bisa menopang bobot tubuhnya.


Lia menatap sendu sang sahabat yang lansung hancur hanya karena mendengar dugaan. Memang kenyataan selalu pahit dan menyakitkan. Akan tetapi, ia tidak sebodoh itu untuk tidak bisa menebak apa yang sedang terjadi. Derita Aelin sudah sangat banyak meskipun begitu ia berharap apa yang ia katakan tadi adalah salah. Ia meraih kedua tangan Aelin, menggenggamnya dengan sangat erat. Menyalurkan rasa hangat untuk memberikan kekuatan jika Aelin tidak sendiri.


"Hiks ... itu tidak mungkin, hiks ...," tangis Aelin semakin mengencang.


"Aku ti--tidak bisa membayangkan hal itu, hiks ...," ucap Aelin terbata-bata dengan rasa sakit di hatinya yang begitu terasa menyesakkan. Ia merasa dadanya sedang dihancurkan oleh ledakan besar yang membuat semuanya luluh lanta.


"Berhenti menangis, Ae. Ini masih dugaan bukan sungguhan. Tenanglah, kamu tidak boleh stres karena hal itu akan mempengaruhi kandunganmu. Aku tidak ingin keponakanku sampai kenapa-kenapa. Kamu hanya perlu mencari tahu apa Davin benar-benar selingkuh atau tidak karena hal itu bisa menghilangkan keraguanmu dan membuat semuanya berjalan dengan baik. Kalau sampai, Davin menduakanmu. Aku sendiri yang akan menyeret pria itu keluar dari hidupmu, Ae." Air mata Lia ikut terjun bebas, melihat kesedihan Aelin. Sahabatnya terlihat sangat kesakitan dan begitu menderita. Ia tidak ingin sesuatu yang menyakitkan kembali terjadi pada Aelin. Ia hanya ingin hidup sahabatnya itu selalu bahagia. Ia bersumpah kalau sampai benar Davin berselingkuh ia akan membuat pria itu menyesal sudah menyakiti sahabatnya. Kedua tangan lentiknya mengepal dengan sangat keras, menggambarkan amarah yang sedang berkobar di dalam dada.


Aelin menarik nafas dalam-dalam, meraup oksigen sebanyak mungkin untuk dialirkan pada dua paru-parunya. Apa yang dikatakan Lia memang benar. Ia tidak boleh lemah hanya karena sebuah dugaan. Ia menyentuh perutnya yang masih rata, dimana sebuah kehidupan sedang tumbuh. Ia tidak boleh terlalu frustasi hingga membahayakan calon bayinya. Aelin menyeka sisa air mata yang ada di wajah. Berusaha untuk tetap tegar walaupun ia sedang hancur.


"Kamu benar, Li. Aku tidak bisa rapuh dan lemah. Ada nyawa yang harus aku jaga. Kamu tahu, aku tidak mengerti tentang hal ini. Bagaimana bisa aku mencari tahu kalau Davin memang berselinkuh atau tidak? Apa aku tanyakan hal ini lansung pada Davin?" tanya Aelin


"Tentu saja tidak, Ae. Davin tidak akan mengaku." Lia memberikan jawaban.

__ADS_1


"Lalu aku harus apa?"


"Dekati musuhmu, dan terus awasi dia. Setiap gerak-gerik dan obrolanya kamu harus tahu. Aku yakin, bangkai yang ditutupi akan selalu mengeluarkan bau busuk."


"Maksudmu, aku harus mendekati Livia?"


"Tentu saja, bertemanlah dengan musuhmu karena itu adalah strategi terbaik untuk mengungkap kebenaran."


...----------------...


...****************...


Hehe, up lagi nih. setelah hiatus beberapa bulan. Maaf ya semuanya. Soalnya aku lagi sibuk dan ada tiga karya yang belum selesai. Tapi, aku akan usahakan cerita ini tuntas.


Jangan lupa


like


komentar


gift


vote


tips

__ADS_1


🥰🥰🥰🥰🥰🥰


__ADS_2