Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Kabar baik


__ADS_3

...180...


Di sebuah ruangan dimana kini terdapat pertemuan penting antara para pembisnis yang akan menunggu keputusan dari projek Pradipta Group.


Para pria dan juga wanita mengenakan setalan formal dengan wajah seriusnya tengah menatap ke layar monitor di depan mereka. Dimana seorang pria muda. sekretaris dari Pradipta Group sedang menjelaskan sebuah projek.


Terlihat di kursi paling ujung, Davin dengan wajah datar dan dingin sedang mendengarkan dengan seksama penjelasan pria muda di hadapannya. Hingga fokusnya teralihkan dengan layar ponselnya yang menyala.


Sebelum Davin masuk untuk meeting, ia menyetel ponselnya pada mode diam. Sehingga metting yang sedang berlangsung tidak terganggu.


Davin mengerutkan dahinya dalam, saat melihat nama kontak yang menelpon adalah Darren. Ia meminta Darren untuk menjemput Aelin pulang sekolah. Sehingga kini ia ditemani oleh sekretaris kantor untuk meeting kali ini.


Davin menggeser icon telpon hijau, lalu mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.


"Hallo!" seru Davin dengan suara rendah.


"Tuan, Nona tidak ada di sekolah."


"Apa?"


Brak!


Tanpa sadar Davin menggebrak meja dengan kuat, sehingga seluruh mata kini menatap ke arah Davin. Tatapan tidak suka dilayangkan oleh pria paruh baya, melihat ulah Davin yang mengacaukan meeting penting di kantornya.


"Bagaimana bisa Darren?" sarkas Davin dengan rahang mengetat sempurna.


"Saya juga tidak tahu Tuan, tapi saya akan segera menemukan Nona."


"Dasar tidak becus," umpat Davin hendak melemparkan ponselnya. Namun, tanganya mengambang di udara saat melihat semua orang yang ada di ruangan ini menatapnya tajam.


"Apa begini cara bersikap Tuan Davin Arselion?" ketus suara bass yang berasal dari Tuan Pradipta.


"Aku minta maaf!" seru Davin dengan mengontrol amarah, kecemasan, dan kekhawatiran yang kini ia rasakan. Ia harus segera pergi dari ruangan ini dan mencari Aelin. Ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada wanita itu.


"Seharusnya kamu tidak mencampur-adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan Tuan Davin. Aku sangat kecewa melihat ulahmu kali ini," sarkas Tuan Pradipta.


"Atitudmu sungguh buruk Tuan Arselion yang terhormat," cibir salah satu klien.


Ke dua tangan Davin mengepal dengan kuat, bahkan buku-buku tangannya memutih dengan sempurna. Ia menatap seluruh rival bisnisnya dengan tatapan tajam seakan siap membelah tubuh mereka.

__ADS_1


"Persetan dengan kalian semua, aku tidak membutuhkan projek kecil seperti ini," sentak Davin yang langsung keluar dari ruang meeting. Sang sekretaris yang melihat kemarahan Davin mencoba menghentikan sang atasan. Namun, bagi Davin saat ini dia harus menemukan Aelin dan memastikan wanitanya baik-baik saja.


...----------------...


Aelin telentang di atas brangkar IGD. Seorang dokter wanita tengah mengobati luka-luka di tubuh Aelin. Mulai dari ke dua lutut, lalu siku tangan, serta telapak tangan Aelin.


Aelin mengedarkan pandangannya yang entah mengapa menjadi buram. Kepalanya terasa begitu pening, serta rasa bergejolak dari perutnya.


"Uwekk," Aelin muntah saat rasa mual di perutnya tidak bisa ia tahan.


"Uwekk," muntah Aelin terus berlanjut namun yang keluar hanya cairan saja.


"Nona, Anda baik-baik saja?" tanya sang dokter yang langsung menekan bahu Aelin untuk tetap berbaring. Aelin menggelengkan kepalanya sebagai jawaban jika ia tidak baik-baik saja.


"Sus, tolong ambilkan obat pereda mual!" titah sang dokter pada seorang suster wanita, yang langsung melenggang keluar dari kamar IGD.


Sang dokter memeriksa ulang kondisi kesehatan tubuh Aelin. Memastikan jika tidak ada luka dalam di tubuh sang pasien.


Suster yang di perintahkan mengambil obat pereda mual kembali ke dalam ruangan. Lalu memberikan suntikan pada sang dokter. Aelin terus saja mual tanpa henti sampai dokter menyuntikkan obat pereda mual pada Aelin.


Sang dokter memeriksa bagian perut Aelin. Wajahnya terlihat begitu serius, sehingga membuat Aelin merasa ada yang tidak beres dengan dirinya.


"Dok, apa kondisi saya baik-baik saja?" tanya Aelin dengan takut.


Wajah sang dokter langsung sumringah saat mendapatkan gelengan kepala dari Aelin. Itu artinya apa yang ia duga memang terjadi.


"Nona, Anda harus segera memeriksakan kandungan Anda pada dokter kandungan. Sepertinya ada malaikat kecil yang sedang tumbuh di rahim Anda."


Deg!


Sebutir cairan bening lolos begitu saja dari sudut mata Aelin. Tubuhnya membeku mendengar perkataan dokter di depannya. Bibirnya bungkam dengan lidah yang merasa kelu.


Rasanya ada jutaan kembang api yang kini meletus dengan indah di hati Aelin. Jantungnya berdegup dengan sangat cepat, dimana rasa bahagia, kaget, serta haru bercampur menjadi satu.


Aku hamil. Batin Aelin meraba perutnya yang masih sangat rata.


Senyum lebar memperlihatkan deretan gigi-gigi putih Aelin. Ia tidak percaya, jika Tuhan mengabulkan doa dan keinginannya. Ia akan segera menjadi seorang ibu, dan Davin akan menjadi seorang ayah.


"Dok, Kau tidak salah kan? Aku benar-benar hamil?" Ulang Aelin dengan suara tercekat.

__ADS_1


"Iya Nona, Anda senang hamil. Sepertinya usia kandungan Anda sekitar dua minggu," timpal sang dokter yang turut senang dengan kehamilan Aelin.


"Hiks ... hiks, terimakasih Tuhan. Aku akan menjadi seorang ibu," lirih Aelin dengan penuh kebahagian. Ia tidak sabar ingin segera memberi tahu Davin dengan kabar kehamilannya.


"Selamat Nona atas kehamilan Anda!"


"Terimakasih Dokter." Aelin menghapus sisa-sisa air matanya.


"Saya akan mengabari suami Nona tentang kabar baik ini," ujar sang dokter yang mengira jika Darren yang sedang menunggu di luar ruangan adalah suami pasiennya.


Aelin langsung mencekal pergelangan tangan sang dokter, sehingga sang dokter berbalik menatap Aelin.


"Dokter dia bukan suamiku. Dia adalah kakakku, bisakah jangan memberi tahu dia tentang kehamilanku. Aku ingin suamiku yang pertama kali mengetahui kabar baik ini," pinta Aelin dengan senyum bahagia yang tak pernah luntur dari bibirnya.


"Baiklah Nona seperti keinginan Anda. Anda harus menjaga kandungan Anda karna kehamilan Anda masih sangat muda." Sang Dokter berjalan menuju meja kerjanya, sementara Aelin mengekor di belakang.


"Saya sarankan, Anda segera mengunjungi dokter kandungan untuk mengetahui perkembangan janin Anda." Tambah sang dokter dengan menulis resep vitamin serta obat untuk Aelin, lalu menyerahkannya pada wanita di hadapanya.


"Terimakasih sekali lagi dok," ucap Aelin dengan tulus. Lalu berjalan keluar dari ruangan.


Terlihat Antonio yang sedang duduk langsung menatap ke arah Aelin. Antonio segera menghampiri Aelin untuk memastikan jika kondisi wanita yang dicintainya baik-baik saja.


"Tidak ada luka yang serius kan Ae? Apa tubuhmu masih sakit? Apa perlu kita pergi ke rumah sakit besar untuk melakukan CT Scan?" cecar Antonio dengan wajah cemas.


"Tidak Kak, itu tidak perlu. Aku baik-bak saja, hanya luka ringan." Aelin tertawa lucu dengan kecemasan Antonio yang ia rasa berlebihan.


"Syukurlah," hembus Antonio dengan lega. Ia segera memapah tubuh Aelin pergi meninggalkan IGD.


...----------------...


...****************...


Cie Aelin hamil🥰🥰


Jangan lupa


like


komentar

__ADS_1


gift


vite


__ADS_2