Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Sepupu


__ADS_3

...174💚...


"Davin!! Davin!!! Keluar kau!!!" teriak Syaila dengan mengeluarkan seluruh suaranya. Ia sudah tidak tahan menerima hinaan dari para pelayan yang tidak tahu diri. Dalam beberapa jam sudah empat manusia rendah yang berani memukul dan melarang ia masuk. Mulai dari Darren yang ingin mematahkan tanganya, lalu dua pengawal yang mengintrogasi dirinya seperti seorang tersangka. Lalu sekarang seorang pelayan dengan posisi sangat rendah berani mengusir Nyonya besar rumah ini.


Davin dan Aelin yang baru saja memejamkan keduanya. Cukup tersentak kaget saat mendengar suara teriakan seseorang yang memanggil nama Davin.


"Siapa yang berteriak malam-malam seperti ini?" tanya Aelin duduk dari tidurnya.


"Biar aku lihat," Davin langsung turun dari ranjang, diikuti oleh Aelin yang mengekor di belakang. Ia juga penasaran siapa yang berani berteriak malam-malam di rumah Arselion.


"Nona, hentikan! Jangan berteriak kau akan mengganggu tidur Tuan dan Nona," ujar sang pelayan menghentikan Syaila yang terus berteriak memanggil nama Davin.


"Davin! cepat keluar, lihat perbuatan pelayanmu ini!" seru Syaila dengan suara oktav tinggi. Ia pastikan akan membuat pelayan di hadapannya itu menyesal karna sudah berani mengusir dirinya.


"Ada apa ini?" Suara tegas Davin, menghentikan keributan antara Syaila dan pelayan. Syaila yang melihat Davin datang segera berlari menghambur memeluk Davin dengan erat.


"Dav, pelayan itu tidak membiarkanku masuk," adu Syaila dengan memasang wajah merajuk.


Aelin yang melihat tubuh suaminya dipeluk oleh wanita lain tentu saja cemburu dan sakit hati. Pikiran aneh di dalam otak kecil Aelin mulai menebar pikiran negatif, tentang perempuan yang menjadi selingkuhan suaminya.


"Kenapa wanita itu memeluk Davin, apa jangan-jangan dia adalah wanita simpanan suamiku?" tanya Aelin dalam hati dengan wajah yang sudah berubah pias.


Davin yang belum dapat mencerna apa yang terjadi, melepaskan pelukan Syaila dari tubuhnya. Ia mengerjit bingung saat melihat penampilan wanita yang berani memeluk dirinya.


Syaila menekuk wajahnya dalam saat Davin mengurai pelukannya. Davin menatap lekat wanita yang kini berdiri di hadapannya. Mulai dari ujung kaki hingga kepala.


Rambut ikal, make-up menor, serta pakaian ketat yang menempel di tubuh wanita itu. Ke dua mata Davin melebar dengan sempurna, saat ia menyadari jika wanita di depannya adalah Syaila namun dengan penampilan yang berbeda.

__ADS_1


"Syaila, penampilannya kenapa seperti itu?" batin Davin masih dengan wajah melongo.


Aelin mendekat ke arah Davin, lalu mengamit lengan kekar Davin. Seolah-olah mengatakan jika Davin adalah miliknya. Davin melirik sekilas pada wajah Aelin yang terlihat masam.


Syaila mengepalkan tangannya, melihat Aelin mengamit lengan Davin dengan mesra. Jika saja Aelin bukan wanita yang menjadi kunci kehancurannya. Sudah di pastikan ia akan membuat wajah Aelin hancur karna cakaran kuku-kukunya yang tajam.


"Maaf Tuan, Nona ini mengaku-ngaku menjadi sepupu Anda. Saya sebenarnya sudah mengusir wanita ini, tapi dia tetap bersikeras untuk masuk." Lapor pelayan tersebut dengan wajah tertunduk.


Mengaku sebagai sepupu? Tapi kenapa Syaila melakukan hal itu? Pikir Davin menatap Syaila penuh tanya. Namun yang ditatap malah membuang muka.


"Iya, dia memang sepupuku. Biarkan dia masuk," putus Davin membenarkan perkataan Syaila. Jujur ia juga takjub dengan penyamaran Syaila yang bahkan satu pelayan pun tidak menduga jika wanita dengan gaya glamor itu adalah Syaila. Nyonya besar yang selalu membuat mereka ketakutan setengah mati.


"Kamu sudah mendengarnya kan? Aku sudah bilang jika aku sepupu Davin, tapi kamu malah sangat lancang dengan mendorongku keluar. Lihat lututku sampai terluka gara-gara pelayan rendahan sepertimu!" marah Syaila melampiaskan emosi yang sejak tadi meledak-ledak dalam dirinya.


"Maafkan saya Nona Livia, saya tidak bermaksud untuk mengusir Anda. Hanya saja, ini baru pertama kalinya ada sepupu Tuan yang datang," ujar pelayan tersebut membela diri. Berharap jika permohonan maafnya diterima oleh Livia. Tubuh pelayan tersebut terlihat bergetar karna takut, bahkan di pelipisnya buliran keringat mulai terbentuk. Hal itu tidak luput dari perhatian Aelin.


"Maaf Nona, hal itu hanyalah kesalah pahaman. Pelayan ini tidak tahu jika kau adalah sepupu suamiku. Jadi aku rasa tidak sepantasnya dia dipecat." Kini Aelin mulai bersuara. Membela pelayan yang sudah berdiri dengan ketakutan dan gemetar. Ia tidak tega melihat pelayan wanita itu direndahkan oleh sepupu suaminya. Mereka sama-sama manusia, lalu kenapa harus mendeskriminasi seseorang. Hanya karna status mereka menjadi pelayan.


Syaila mengetatkan rahangnya, mendengar ucapan Aelin yang malah membela pelayan kurang ajar itu. Ingin rasanya saat ini ia mengusir wanita sok baik itu dari rumahnya.


Akan tetapi ia tidak bisa melakukannya sekarang. Ia harus terus bersandiwara dan menyingkirkan Aelin secara perlahan. Ia harus mendapatkan ponsel wanita itu, dimana terdapat bukti yang bisa menghancurkan dirinya jika Davin sampai tahu.


"Kakak ipar, kau membela pelayan ini? Lihat apa yang sudah dia perbuat padaku." Syaila menunjuk lutut kanannya yang lecet dan berdarah.


"Aku tidak suka dengan pelayan yang kurang ajar pada majikannya," imbuh Syaila dengan menekan setiap perkataannya.


Aura mendominasi dan bermusuhan menguar dari tubuh Syaila. Dimana tatapannya terarah pada Aelin yang sama sekali tidak bisa mengartikan arti tatapan Syaila yang begitu tajam. Seakan-akan Syaila ingin melenyapkan dirinya.

__ADS_1


Namun, Aelin sama sekali tidak gentar dengan tatapan menghunus Syaila. Ia bahkan menatap Syaila dengan datar.


"Dia tidak kurang ajar, dia hanya mencoba melindungi kediaman majikannya," balas Aelin dengan nada sedikit tidak suka.


"Sudahlah, Sya-- eh maksudku Livia jangan diperpanjang. Maafkan saja dia," sela Davin yang hampir salah menyebut nama Syaila. Untung saja pelayan itu menyebut nama samaran Syaila. Jika tidak akan terlihat sangat tidak masuk akal, seorang sepupu tidak tahu nama sepupu sendiri.


Syaila mendengus kesal. Karna ternyata Davin lebih memilih membela pelayan itu dan menuruti perkataan Aelin. Rasanya hatinya ingin meledak saat ini juga karna amarah.


"Ayo Livia, masuk!" ajak Davin dengan menggandeng tangan Aelin dan melangkah masuk kedalam rumah.


Hati Syaila semakin memanas seperti lautan bara api. Melihat Davin menggandeng tangan Aelin di depan matanya.


"Davin apa-apaan sih, dia tahu jika aku istrinya. Dia malah menggandeng tangan wanita lain di depanku," kesal Syaila dengan wajah menahan amarah.


Ketiganya berhenti di ruang tengah. Aelin mempersilahkan Syaila untuk duduk.


"Silahkan duduk, emm ... maaf aku lupa namamu," cicit Aelin dengan tersenyum ramah pada Syaila.


"Livia, namaku Livia kakak ipar," jawab Syaila dengan nada sedikit ditekan. Ia lalu merebahkan bokongnya di atas sofa.


"Sayang, tolong buatkan minuman untuk Livia. Sepertinya kepala pelayan sudah tidur!" pinta Davin.


"Iya," Aelin langsung menuruti perintah Davin, dan segera pergi ke dapur meninggalkan Davin dan Syaila hanya berdua.


...----------------...


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa like komen, gift, vote ya


__ADS_2