Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Perang tatapan.


__ADS_3

...61🌲...


Antonio tenggelam dalam pikiran nya, sedang kan Davin menatap tubuh Antonio yang terduduk begitu saja dengan wajah frustasi.


Di mana kini Antonio benar- benar berada dalam dilema besar.


Memilih satu keputusan yang pasti nya akan membuat hidup nya berubah drastis.


Namun ia harus tetap memilih antara cinta dan persaudaraan.


Klek...


Pintu kamar Mr. Arkelin terbuka, membuat Antonio dan Davin melempar pandangan nya pada pintu kamar inap Mr. Arkelin.


Di mana Aelin keluar dengan wajah cukup tenang tidak seperti terakhir kali.


Antonio segera berdiri hendak mendekat kepada Aelin, namun langkah nya terhenti saat Davin sudah berdiri di hadapan Aelin.


Ada rasa tidak suka melihat pemandangan ke dua orang tersebut di hati Antonio.


"Bagaimana kondisi papy?" Sergap Davin dengan menampil kan sosok perhatian , meski di dalam hati nya ia ingin mendengar kabar kematian Mr. Arkelin dari bibir Aelin.


Aelin mengusap perlahan bekas air mata yang masih tersisa di pipi nya. Dengan bibir mengulas senyum yang terkesan memaksa.


"Kondisi papy semakin membaik..."Jawab Aelin dengan perasaan lega dan senang, namun membuat Davin kecewa mendengar kabar Mr. Arkelin.


"Dia masih bertahan meski nyawa nya sudah di ujung tanduk.. Baik lah aku yang akan membantu mu menemui malaikat maut..." Batin Davin dengan raut kecewa yang si sembunyi kan.


Sedang kan Antonio hanya diam membisu memperhati kan intraksi ke dua nya.


Ia sungguh salut dengan akting alami yang sedang di main kan Davin.


Bahkan ia sempat terkecoh melihat Davin yang tampil sebagai suami idaman yang baik hati, namun kebenaran nya dia tak lebih dari pria busuk berhati buaya.


Antonio mendekat ke arah dua orang di depan nya.


Mengulas senyum yang di paksa kan dengan hati yang benar- benar gelisah.


"Aku sudah mengata kan nya bukan Aelin, jika papy akan baik- baik saja... Kenapa peri kecil kakak harus repot- repot datang kemari..." Seru Antonio dengan sikap humoris yang selalu ia tunjuk kan di depan Aelin.


Bibir Aelin semakin mengembang sempurna, ia sangat senang bertemu dengan Antonio, pria yang sudah di anggap kakak sendiri.


"Kakak kan tahu jika Aelin tidak akan bisa diam jika mendengar kabar buruk, apalagi soal papy.. Kakak kan tahu hati Aelin lembut di cubit sedikit langsung mewek..." Balas Aelin dengan sikap manja nya, yang langsung mengamit lengan Antonio manja.


Antonio tersenyum melihat sikap Aelin pada nya yang sama sekali tidak berubah, selalu menjadi peri kecil kesayangan nya.

__ADS_1


Namun mulai detik ini ia harus menepis dan menghilang kan rasa itu, karna kini ia sudah memutus kan untuk bersikap netral sebelum ia mengetahui jika Aelin bersalah atau tidak. Ia akan menyelidiki ulang semua nya. Jika Aelin terbukti bersalah ia pasti kan tangan nya sendiri yang akan membalas perbuatan Aelin.


Namun jika peri kecil nya tidak bersalah, ia akan merebut kembali Aelin dari Davin.


Sementara Davin rasa nya sudah hampir terbakar melihat intraksi ke dua nya.


Apa lagi untuk pertama kali nya ia melihat sikap manja Aelin yang di tuju kan pada pria lain.


Entah mengapa hati nya tidak menyukai akan hal itu.


Tapi ia menyakini rasa itu adalah rasa dendam yang menuntut pembalasan.


"Siapa dia Aelin?" Tanya Davin dengan nada datar.


"Dia adalah Antonio... Asisten papy ku.. " Jawab Aelin biasa- biasa saja.


"Cih... Bahkan dia berakting tidak mengenali adik ipar nya sendiri..." Dumel Antonio yang mulai muak dengan sandiwara Davin.


"Tapi kau terlihat sangat dekat dengan nya..." Sarkas Davin dengan tatapan melotot ke arah Antonio, lalu menarik tangan Aelin untuk melepaskan lengan Antonio.


"Tentu saja dia adalah peri kecil ku.. Lalu kau siapa diri mu?.." Tanya Antonio dengan nada yang tak kalah sarkas, di mana tatapan nya menukik tajam ke arah Davin.


Mengata kan jika Davin hanya menjadi kan Aelin mainan balas dendam, namun sikap nya seperti tidak menunjuk kan hal itu. Pikir Antonio yang memasang wajah curiga.


"Aku adalah suami nya, jadi derajat ku lebih tinggi dari asisten seperti mu..." Jawab Davin dengan merengkuh pinggang Aelin untuk mendekat ke tubuh nya.


"Iya kak.. Dia suami ku.. Aku tahu aku dan dia terlihat tidak serasi, mungkin karna faktor perbedaan umur yang cukup jauh... Tapi percaya lah dia suami ku.. Lagi pula dia masih cukup tampan bukan.? Maaf jika saat aku menikah aku tidak memberi tahu mu.. Karna semua nya terjadi begitu cepat, lain kali aku akan mencerita kan nya pada mu.." Jelas Aelin dengan menampil kan tawa kaku.


Sementara wajah Davin memberengut karna ucapan Aelin.


Berani sekali bocah tengik ini menyindir diri nya tua.


Tapi di saat yang bersamaan dia juga mengata kan jika diri nya tampan.


Asal dia tahu, jika diri nya adalah pria tampan yang banyak di kelilingi oleh wanita cantik.


Batin Davin yang sedikit tersinggung dengan perkataan Aelin, namun ia tersenyum lebar saat Aelin juga mengakui ketampanan nya.


"Kau berhutang penjelasan pada ku Aelin..." Ucap Antonio mengelus lembut puncak kepala Aelin.


Davin langsung memegang tangan Antonio dan menyingkir kan nya dari atas kepala Aelin.


"Sayang.. Kau sudah bertemu dengan papy bukan.. Kita harus kembali ke hotel karna kamu membutuh kan istirahat.. Kita akan kembali lagi nanti... " Ujar Davin dengan penekanan di setiap kata- kata nya, sedang kan ke dua mata tajam nya tak pernah lepas dari Antonio.


"Baik lah... Tapi nanti sore bawa aku lagi ke sini..." Jawab Aelin menatap wajah tegas suami nya dengan sendu.

__ADS_1


"Iya.. Apa pun akan ku lakukan untuk mu... Jawab Davin lembut dengan mengecup kening Aelin di depan Antonio.


Antonio hanya bisa menahan rasa cemburu yang begitu menyesak kan dada.


Saat melihat Davin mencium kening Aelin.


Antonio berusaha mengontrol mimik wajah nya agar terlihat biasa- biasa saja, sementara tangan nya sudah mengepal dengan sempurna.


"Kak Antonio tolong jaga papy di sini... Aku tidak akan lama, aku akan kembali sore ini... "Ucap Aelin pada Antonio.


"Iya... Kau jangan khawatir... Hati- hati di jalan Aelin..." Pesan Antonio dengan memaksa kan suara nya yang tercekat.


Aelin melangkah maju mendekat pada Antonio, memeluk tubuh tinggi Antonio sebelum ia pergi bersama Davin.


"Selain nakal dia juga genit... Giliran dengan ku dia tidak pernah memeluk ku..." Dumel Davin dalam hati melihat adegan merusak mata di depan nya.


"Ayo om..." Lirih Aelin yang langsung melangkah mendahului Davin.


Antonio menatap kepergian Davin dan Aelin yang semakin menjauh dari pandangan nya.


"Aku akan segera membebas kan Aelin dadi jeratan mu Davin... Aku yakin peri kecil ku tidak bersalah..." Gumam Antonio dengan tekad yang memancar dari ke dua manik mata nya.


...----------------...


...****************...


hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...


Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...


yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚


Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit


Budayakan beberapa hal yang di atas.

__ADS_1


Supaya othor makin semangat😙


__ADS_2