
...209...
Syaila menghela nafas lega, akhirnya semua drama selesai sesuai dengan keinginannya. Ia pikir, tadi Davin akan memaafkan Aelin karena menerima kabar kehamilan wanita itu. Namun, untung saja, Davin berpikiran pintar sehingga rencananya tidak gagal.
"Dav, kenapa kamu tidak mengusir Aelin?" tanya Syaila hati-hati membuka suara. Davin menoleh ke arah istri pertamanya itu dengan tatapan nyalang siap menerkam. Tatapan yang membuat tubuh Syaila merinding ketakutan.
"Biarpun dia sudah mengkhianatiku, tapi dia tetap istriku. Rasa benci tidak akan menghalangiku untuk melaksanakan tanggung jawab," balas Davin menekan nada suaranya yang bergetar.
"Tanggung jawab untuk menghancurkan mental dan membuat dia menjadi mayat hidup?" sosor Antonio yang sejak tadi diam membisu. Ia juga tak kalah kaget mendengar kalau ternyata ayah Aelin yang selama ini membantu dan memberikan kasih sayang layaknya seorang ayah padanya telah dibunuh. Hatinya tentu ikut hancur, ternyata Davin adalah seorang pria kejam tak berhati.
Davin menoleh ke arah Antonio yang tersenyum getir dengan linangan air mata yang menumpuk. Sangat terlihat jelas bahwa Antonio juga terluka. Hal itu membuat rasa cemburu dalam dirinya terus membara.
"Lebih baik kamu pergi dari sini!" sentak Davin mengusir Antonio.
"Tidak, ini adalah rumahku. Kamu ingat kalau sebagian mansion ini adalah milikku."
"Antonio, pergi dari sini, sekarang!" Bukan Davin yang bersuara melainkan Syaila sang kakak.
"Aku sudah mengatakan dengan jelas bukan, aku akan tinggal di sini."
"Tapi aku tidak mengizinkanmu, Antonio." Suara Syaila meninggi.
"Lebih baik kamu membiarkan aku di sini, atau aku akan melupakan kalau kamu adalah kakakku dan membawa badai kehancuran untukmu dan Davin."
"Berani sekali kamu berbicara seperti itu padaku!"
"Rasa hormat yang aku miliki untukmu telah hilang. Aku hanya menghargai hubungan yang terikat di antara kita."
__ADS_1
Syaila berjalan dengan cepat menuju Antonio. Kemarahannya benar-benar tidak tertahankan lagi. Untuk pertama kalinya, Antonio melawan dan membantah dirinya, dan itu semua karena Aelin. Sungguh ia tidak terima akan hal ini. Syaila mengangkat tangannya dengan cepat hendak menampar Antonio.
Srap.
Namun, belum sempat tangan lentik itu mendarat di pipi Antonio, pria itu sudah menangkap tangan sang kakak sehingga mengambang begitu saja di udara.
"Aku tahu semua yang terjadi, Kak. Jangan uji kesabaranku dan membuat aku mengatakan semua kebenaran dirimu. Aku masih menganggap dirimu kakak karena kamu selalu menyayangiku sejak kecil. Oleh karena itu aku memilih diam. Jujur, aku tidak percaya dirimu yang terlihat seperti dewi di mataku, tak ubahnya seorang nenek sihir yang sedang menyamar menjadi korban. Jadi, jauhi aku dan Aelin," bisik Antonio penuh penekanan dan ancaman di setiap nada bicaranya. Ia melepaskan tangan sang kakak, dimana wajah Syaila terlihat pucat setelah mendengar lonceng peringatan dari adiknya sendiri.
Antonio beralih pada Davin. Ia meraih ke dua kerah baju pria itu dengan wajah merah penuh amarah. Ingin sekali saat ini ia menusuk setiap tubuh pria ini dengan pisau tajam untuk membalaskan luka yang saat ini ia rasakan. Davin membalas tatapan Antonio tak kalah tajam, seolah siap membanting pria itu hingga terperosok jauh ke dalam dasar bumi. Ia mencengkram kedua tangan Antonio yang bertengger pada kerah bajunya. Berusaha, menarik tangan itu agar terlepas. Namun, tangan Antonio seperti lem yang tak akan mudah untuk dilepaskan walau menerima tekanan yang cukup menyakitkan.
"Lepaskan, kerah bajuku," geram Davin dengan rahang mengeras sempurna.
"Dasar pembunuh, camkan ini, aku akan membayar untuk kematian Mr. Arkelin. Dia sudah ku anggap sebagai ayahku, dan kau? Sudah merenggutnya dariku. Aku akan membayar dengan tuntas beserta bunganya," pungkas Antonio penuh dendam. Ia melepas cengkraman tangannya pada kerah Davin dengan kasar. Kemudian, berlalu pergi membawa duka yang begitu dalam.
Suasana dalam ruangan yang begitu tegang dengan atmosfer yang begitu menyesakkan berangsur sepi bersamaan dengan raut kesedihan yang tampak jelas di wajah Davin. Syaila segera mendekati Davin, menyentuh bahu pria itu.
"Tinggalkan aku sendiri!" titah Davin mutlak yang membuat wajah Syaila cemberut.
"Bagaimana bisa, aku meninggalkanmu sendiri. Kamu sedang sedih," tolak Syaila.
"Lagipula kalau kau di sini, kamu tidak akan melakukan apapun."
"Kamu bisa berbagi apapun denganku, Dav. Aku sangat mengerti bagaimana rasanya berada di posisimu."
"Kamu tidak akan pernah mengerti. Orang yang sangat mengerti diriku telah menorehkan luka ini hingga rasa sakit ini tidak memiliki penawar lagi. Sekarang, pergi dari sini. Aku ingin sendiri." Air mata yang Davin tahan sejak tadi. Akhirnya mengalir dari sudut matanya begitu saja.
Syaila menelan ludahnya paksa dengan perasaan kesal. Ia meremas keras buku-buku tangannya. Davin masih saja memikirkan Aelin, padahal wanita itu sudah berkhianat. Akan tetapi, ia tidak mungkin memaksa atau Davin akan marah. Lebih baik, ia membiarkan Davin sendiri dulu, memupuk kebencian yang akan ia bakar setiap hari untuk membangkitkan amarah Davin. Sekarang, ia bisa bernafas lega karena Aelin sudah keluar dari hidup Davin. Ia pun melangkahkan kakinya perlahan menjauh dari Davin dan keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
Setelah kepergian Syaila. Tubuh Davin ambruk ke lantai. Ia menarik kedua kakinya hingga terlipat dan memeluk lutut sendiri. Suara tangis sesegukan terdengar lirih dari bibirnya yang gemetar. Rasa sesak yang begitu menyakitkan dengan jantung yang berhenti memompa sungguh membuat tenaganya hilang. Menuangkan rasa sakit karena dipatahkan oleh pengkhianatan dengan menangis.
"Kenapa? Kenapa?" lirih Davin tersekat.
Hal yang sama pun terjadi dengan Aelin. Wanita itu terduduk membisu di pinggir ranjang dengan wajah pucat dan mata sembab memerah. Tatapannya menatap kosong ke depan. Air mata tak lagi menitik dari matanya, mungkin cairan bening itu sudah mengering. Aura kesedihan begitu terasa menyisakan ruangan yang begitu hening dan dingin.
"Nona, ini obatmu. Minumlah," ujar Maya memberikan vitamin untuk Aelin yang diterima tanpa menjawab panggilan Maya. Aelin menelan cepat obat tersebut, lalu kembali terdiam layaknya patung. Tidak ada aura kehidupan sedikitpun yang menguar dari tubuh Aelin. Hal yang membuat Maya khawatir melihat kondisi sang majikan yang begitu memprihatinkan.
Maya terduduk di depan Aelin. Tangisnya pecah dengan perasaan merasa bersalah karena selama ini membohongi wanita sebaik Aelin. Ia meraih kedua tangan Aelin dan menggengamnya erat.
"Nona, maafkan aku. Aku sama sekali tidak bermaksud membohongimu. Aku hanya pelayan yang tidak bisa melakukan apapun. Maafkan, aku," ucap Maya memohon permintaan maaf Aelin dengan sepenuh hati.
Akan tetapi, Aelin hanya diam tanpa menoleh sedikitpun pada Maya. Rasa sakit yang ia rasakan sudah membuat ia tak bisa mencerna apapun dengan benar. Tenaga untuk berbicara pun tak ia miliki lagi. Hanya kebisuan yang saat ini menjadi hal yang paling nyaman.
"Nona," panggil Maya melihat Aelin hanya diam seperti batu.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa like
Komentar
gift
vote
__ADS_1
tips