
...64🌱...
Davin menghenti kan langkah nya saat ia akan masuk ke dalam mobil.
Dengan cepat Davin merogoh kantong celana nya, mengeluar kan benda pipih ajaib yang biasa di sebut ponsel, lalu mengetik kan satu pesan yang langsung di kirim pada Darren. Sang tangan kanan kepercayaan nya.
Davin memasuk kan kembali ponsel nya dan masuk ke dalam mobil, dengan wajah tersenyum.
Seolah- olah apa yang ia lakukan pada ayah gadis di hadapan nya tidak pernah terjadi sedikit pun.
Aelin menatap datar pada Davin saat pria yang bernotabene sebagai suami nya masuk ke dalam mobil.
"Maaf sayang... Kau pasti lelah menunggu ku ya.. Maaf aku terlalu lama di dalam toilet..." Cicit Davin menampil kan wajah polos nya.
Sungguh sandiwara Davin memang pantas untuk di acungi jempol.
Ia menjalan kan rencana nya begitu apik, meski setengah hati nya mulai mengendur dengan rasa aneh yang perlahan merayapi hati nya.
Namun ia bersikeras melawan rasa itu, dan tetap melaksanakan rencana jahat nya untuk menghancur kan Aelin sehancur- hancur nya.
Meski di dalam lubuk hati terdalam, entah sejak kapan Davin merasa sakit saat melihat Aelin terluka.
Apa diri nya terlalu kejam?
Tapi semua itu ia lakukan untuk Syaila cinta nya yang sudah di lukai oleh Aelin.
Sang pengawal sekaligus supir , langsung menggiring mobil mewah Davin keluar dari pekarangan rumah sakit, membelah jalanan yang cukup padat dengan pengguna lain nya.
Aelin menatap ke luar ke arah jendela mobil, pemandangan di kota B tidak terlalu buruk jika di banding kan dengan kota kelahiran Aelin.
Semua nya terlihat sama saja, hanya perbedaan nya kota ini jauh lebih padat karna populasi kehidupan juga jauh lebih banyak.
Bibir Aelin menipis saat melewati pasar malam, yang belum beroperasi.
Ingatan nya melayang pada masa kecil, di mana ia dan Mr. Arkelin sangat sering mengunjungi pasar malam.
Suara tawa dan guyonan jenaka, mengalun begitu saja meninggal kan senyum manis di bibir Aelin.
Rasa nya baru kemarin tangan dan kaki nya sangat kecil, di mana tubuh nya selalu menempel pada gendongan sang ayah.
Namun kini ayah nya tidak mungkin menggendong tubuh nya yang sudah membesar.
Andai jika bisa Aelin memilih antara menjadi gadis kecil atau gadis remaja.
Ia memilih untuk tetap menjadi gadis kecil, gadis kecil yang selalu di curahi kasih sayang oleh sang papy, yang bahkan bibir nya tidak sempat untuk mengeluh meminta kasih sayang seorang ibu.
Aelin begitu terhanyut dengan kenangan masa kecil nya.
Sementara Davin kini tengah menatap wajah Aelin dengan tatapan yang tak bisa di arti kan.
__ADS_1
Davin bisa melihat bibir seksi Aelin tersenyum tipis saat melihat pasar malam yang belum beroperasi yang mereka lewati.
Saat melihat senyum itu, hati Davin berdesir hangat.
Wajah Aelin terlihat begitu cantik dengan senyum yang terulas di bibir nya.
Namun secepat kilat, Davin menepis rasa itu dari dalam diri nya.
Saat kepala nya di bentur oleh bayangan tubuh Syaila yang di penuhi oleh darah.
Setika itu pula, sosok iblis dalam diri Davin bangkit dengan kebencian yang besar untuk Aelin.
Hanya tinggal beberapa jam lagi, saat matahari pulang ke peristirahatan nya.
Maka saat itu ke dua mata Aelin akan menangis hingga pagi menjelang, karna mendengar kabar jika ayah nya telah pergi meninggal kan diri nya untuk selama nya.
Entah sosok jahat apa yang merasuki Davin hingga membuat diri nya begitu kejam.
Namun semua itu di picu karna ketidak relaan nya melihat Syaila terbujur kaku, meski diri nya sendiri belum mengetahui kebenaran sebenar nya.
Davin hanya melihat Aelin yang berlari dan di kejar oleh Syaila, yang langsung membuat Davin memvonis jika Aelin adalah penyebab kondisi Syaila.
Davin akan terus menyiksa Aelin, hingga wanita remaja itu mati kehabisan nafas karna menderita.
Rahang Davin mengeras dengan sempurna, di mana sorot ke dua mata nya menyalur kan dendam kesumat ke arah Aelin.
Davin sungguh seperti bunglon , ia bisa mengganti warna tubuh nya saat menempel pada suatu permukaan benda.
Davin mengulas senyum lebar.
"Kenapa tadi kau tidak menemui papy?" Tanya Aelin saat mengingat Davin sama sekali tidak ikut masuk menengok ayah nya saat ia masuk ke dalam kamar Mr. Arkelin.
"Aku hanya ingin membiar kan diri mu dan papy untuk saling berbicara , karna aku tahu terakhir kali diri mu meninggal kan rumah kau sama sekali tidak berbicara dengan papy..." Jawab Davin bohong, padahal saat ia berpamitan pergi ke toilet ia pergi menuju kamar Mr. Arkelin.
"Oh... Tapi kenapa aku merasa diri mu dan kak Antonio saling mengenal.." Selidik Aelin lagi, menyuara kan apa yang ia lihat saat pertemuan antara Davin dan Antonio.
Aelin dapat merasa kan ketidak sukaan Davin pada Antonio saat ia memeluk Antonio.
Seperti ada gurat kesal yang di tahan Davin, namun entah itu benar atau hanya perasaan nya saja.
"Tentu saja aku mengenal Antonio, Meski bertemu hanya beberapa kali saja. Tapi aku masih bisa sedikit mengingat dengan jelas Antonio..." Kata Davin memberi alasan semasuk akal pada Aelin.
"Antonio itu adik ipar ku tentu saja aku mengenal nya..." Batin Davin mengutara kan jawaban sebenar nya, hanya di dalam hati.
Aelin mengangguk mengerti, sedikit pun ia merasa tidak curiga dengan apa yang di kata kan Davin.
Aelin memang sangat polos, bahkan ia menerima alasan Davin tanpa menyaring nya terlebih dulu.
Sebelum nya apa pun yang di kata kan Davin selalu mencuriga kan bagi diri nya.
__ADS_1
Namun setelah apa yang di lakukan Davin, menyelamat kan diri nya di tengah hujan badai, lalu membawa nya menemui ayah nya.
Membuat Aelin merasa tidak ragu lagi dengan Davin, meski tanpa Aelin sadari ia tengah di nanti kan oleh jurang penderitaan tanpa ujung.
Davin merentang kan tangan nya, menatap Aelin dengan lekat lalu menarik dagu lancip Aelin untuk menatap wajah nya.
"Percaya lah semua nya akan baik- baik saja... Setelah kebenaran yang aku kata kan saat di pesawat, semoga hal itu bisa mengurangi rasa benci di hati mu... Kau boleh membenci ku.. Benci lah aku sepuas mu.. Tapi aku akan selalu mencintai mu Aelin Dirwantar..." Ucap Davin yang terdengar begitu serius di telinga Aelin.
Seolah menjadi kebenaran atas tindakan bejad Davin.
Aelin menatap lekat ke dua bola mata tajam Davin, mencari kebohongan di ke dua mata itu namun ia sama sekali tidak menemukan apa yang ia cari.
Wajah Davin semakin mendekat pada wajah Aelin.
Bahkan Aelin bisa merasa kan hembusan nafas Davin yang menerpa wajah nya.
Saat jarak bibir ke dua nya hanya tinggal satu centi lagi.
Aelin segera mendorong tubuh Davin, dan memaling kan wajah nya.
Ia belum siap untuk menerima ciuman dari Davin.
Sebagian hati nya masih ragu dan belum percaya seutuh nya pada pria yang sudah merenggut harta paling berharga dalam hidup nya.
...----------------...
...****************...
hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...
Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...
yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚
Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙
__ADS_1