
...162💚...
Syaila membuka pintu kamar tersebut dan melangkah masuk ke dalam. Lalu meraih figura foto yang membuat dirinya langsung terpaku di tempat.
Deg...
Syaila menggengam figura foto tersebut dengan erat. Sorot matanya terlihat begitu tajam dan penuh amarah, ketika melihat foto pria yang ada dalam figur itu adalah Davin dengan seorang wanita lain.
Nafas Syaila memburu dengan hebat, dimana air matanya tumpah seketika. Rasanya saat ini seluruh organ dalamnya di keluarkan dari tubuhnya.
"Foto apa ini?" lirih Syaila dengan suara gemetar penuh pertanyaan.
Apa Davin mengkhianatinya dengan menikahi wanita lain?
Prang!!!
Figura tersebut hancur berkeping-keping saat Syaila membantingnya dengan sangat keras.
"Brengsek kau Davin!! Hiks... Hiks...." Tangis Syaila seketika pecah. Hatinya benar-benar hancur. Ia tidak menyangka jika ternyata Davin sudah mengkhianati dirinya dengan menikahi wanita lain.
Di saat ia sedang hampir meregang nyawa, ternyata suaminya malah membangun hubungan rumah tangga dengan wanita lain.
Syaila mengacak rambutnya frustasi, dimana ia menangis dengan sekencang-kencangnya. Sekelebat ingatan saat dirinya dan Davin menikah kembali terbayang. Ia masih ingat jika Davin berjanji tidak akan menyakiti dirinya.
"Pembohong, pengkhianat kamu Davin!!! Hiks ... Hiks ... Kenapa kamu mengkhianatiku," tangis Syaila dengan menatap figura foto yang sudah tak berbentuk lagi.
Syaila menghapus air matanya, saat tatapannya tertuju pada foto wanita yang sedang bersanding di sebelah Davin.
"Wajah itu? tidak terlihat asing!" seru Syaila meraih lembaran foto dengan belingan kaca yang bercecer. Namun, tangan Syaila terhenti di udara saat ia mendengar suara Maya.
"Nyonya, kenapa anda di sini?"
Syaila langsung berbalik, menatap pengawal pribadinya yang ternyata juga ada di rumah ini. Seingatnya Maya di tugaskan Davin untuk menjaganya. Lalu, kenapa Maya berada disini dengan pakaian pelayan? pikir Syaila dengan menautkan ke dua alisnya.
"Kenapa foto wanita itu bisa ada di sini?" Syaila menunjuk pada foto Aelin yang sudah pecah menjadi seribu.
Tentu saja Syaila mengingat wajah wanita yang ada di dalam foto, karna wanita itu adalah hal yang paling berbahaya untuk dirinya.
__ADS_1
Maya merasa bingung dengan pertanyaan Syaila. Bukankah itu Artinya Syaila mengenal Aelin? Tapi bukankah itu aneh? Syaila baru bangun dari koma, lalu kenapa bisa dia mengenal Aelin? pertanyaan-pertanyaan tersebut mulai bermunculan di kepala Maya.
"Maya!!!" teriak Syaila dengan kemarahan, saat melihat pengawal pribadinya hanya diam membisu.
"Dia adalah istri Tuan Davin Nyonya."
Plakk !!!
Plakk !!!
Dua tamparan beruntun mendarat di pipi Maya, bahkan kepala Maya menghadap ke samping karna kerasnya pukulan Syaila.
"Tidak, tidak. Kenapa harus wanita itu? Kenapa Davin tega mengkhianati ku. Tidak, aku tidak menerima semua ini!!!" Teriak Syaila frustasi bahkan membanting setiap barang yang ada di dalam kamar Aelin.
"Apa Davin sudah tahu, apa yang sudah aku perbuat di belakangnya? Apa wanita itu sudah mengatakan pada Davin apa yang terjadi sebenarnya? Tidak, tidak jika dia sudah mengatakan semuanya pada Davin. Pasti Davin sudah marah padaku. Aku harus bicara dan mengetahui alasan Davin menikahi wanita itu. Aku tidak mau suamiku di rebut oleh wanita lain. Aku tidak mau hidup sebagai gelandangan," batin Syaila dengan ketakutan yang luar biasa. Ia menyeka keringat yang mulai mengalir di pelipisnya, lalu kembali merogoh ponselnya dan menghubungi Davin.
Sebelum semuanya terlambat, ia harus tahu selebar mana langkah wanita yang kini berstatus sebagai madunya itu.
Syaila terlihat semakin gelagapan dan cemas, saat panggilan telponnya sama sekali tidak kunjung di angkat oleh Davin. Hanya terdengar nada sambung, tanpa ada tanda-tanda panggilan tersebut terjawab.
"Davin dimana kamu sekarang? Brengsek!!!" umpat Syaila yang semakin kalut, lalu melempar ponselnya ke dinding hingga pecah dan hancur.
Maya yang melihat semua hal itu, hanya diam sambil menunduk. Tidak ada sama sekali raut takut di wajahnya. Karna memang, dirinya sudah biasa melihat tempramen Syaila yang akan menghancurkan apapun yang ada di sekitarnya saat marah.
Tapi jauh di lubuk hatinya, ia sangat bersyukur karna Aelin sedang tidak ada di rumah. Sehingga Aelin tidak bertemu dengan Syaila. Jika ke duanya bertemu, entah apa yang akan terjadi. Tapi yang pasti itu bukanlah hal yang baik.
Syaila segera melangkah dengan cepat keluar dari kamar Aelin.
"Darren!!! Darren!!!" teriak Syaila memanggil nama Darren. Bahkan suaranya memantul-mantul di dalam rumah.
Para pelayan yang melihat dan mendengar teriakan Syaila. Hanya diam tanpa berani mencari tahu.
"Darren!!!" teriak Syaila semakin kencang, saat asisten suaminya itu tak kunjung terlihat.
"Iya Nyonya," sahut Darren dengan berlari kecil lalu membungkuk hormat pada Syaila.
"Dimana Davin? katakan di mana Davin!" bentak Syaila dengan menatap nyalang pada Darren.
__ADS_1
"Tuan sedang pergi ke luar kota. Karna, ada urusan pekerjaan jadi untuk malam ini dia tidak bisa pulang Nyonya," bohong Darren. Mana mungkin ia mengatakan jika Davin sedang bersama dengan Aelin di sebuah hotel.
"Benarkah? Atau Tuanmu itu sedang bersama istri mudanya?" selidik Syaila.
Deg...
Glek...
Darren menelan salivanya bulat-bulat mendengar pertanyaan dari Syaila. Itu artinya istri majikannya ini sudah tahu jika Davin sudah menikah lagi.
Darren menatap Syaila yang terlihat marah, tetapi tercampur sedikit rasa takut yang masih bisa Darren rasakan.
"Kenapa kamu tidak katakan dari awal jika Davin menikah lagi, hiks... Hiks ...." Syaila memukul dada Darren, melampiaskan kekesalan, kemarahan dan rasa sakit hatinya.
Bahkan wajahnya sudah memerah, dengan ke dua mata yang sembab dan bengkak.
"Katakan!!! Di mana Davin!!!" teriak Syaila lagi, mendesak Darren.
Tapi, Darren hanya diam. Saat ini diam adalah pilihan terbaik untuknya. Ia tidak mungkin mengatakan dimana Davin berada.
"Aku minta, suruh majikanmu sekarang pulang. Aku tidak peduli dia sedang di luar kota atau di luar negri. Katakan jika aku yang memintanya pulang. Sekarang Darren!!!" titah Syaila mutlak, tanpa bisa terbantahkan. Ia menutup wajahnya, mengontrol emosi dan rasa sakit yang tengah bersarang di hatinya. Memang ia tidak mencintai Davin, tapi ia tidak bisa kehilangan Davin karna Davin adalah satu-satunya penyangga hidupnya.
Jangan sampai, wanita itu memberitahu semuanya pada Davin. Harap Syaila mengusap wajahnya kasar. Syaila segera bergegas menaiki lift menuju kamarnya. Ia yakin saat ini Davin sedang bersama dengan wanita itu. Ia tidak akan membiarkan miliknya di ambil oleh orang lain.
Darren segera bergegas keluar dari rumah. Merogoh saku jasnya, dan mengeluarkan benda persegi. Memainkan jari-jarinya di atas layar pipih itu lalu mendekatkan benda itu ke telinganya.
"Tuan, jawablah!!" gumam Darren sambil mengetuk-ngetuk dinding di sampingnya. Ia yakin akan terjadi badai sekarang.
Ini lah yang selalu di takutkan oleh Darren, sehingga dirinya selalu memperingati Davin. Namun sayang, Davin terus melanjutkan semuanya tanpa pernah bisa memilih.
...----------------...
...****************...
Haduhhhh untung Aelin ngak di rumah ya.. Kalau di rumah dah habis kan di labrak sama si Syaila.
Davin, Davin ngak cukup apa satu istri. Eh malah punya dua kan sekarang jadi runyam. Perang ketiga menunggumu babang Davin🤣
__ADS_1
Jangan lupa like koment, gift anda vote ya.. Yang banyak donk..