Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Antara jujur atau kebohongan ?


__ADS_3

...57🌲...


"Ayo gunakan pisau ini.. Dan bunuh aku Aelin karna telah lancang mencintai mu...!" Cecar Davin lagi dengan buliran air mata, di mana wajah nya terlihat begitu menderita.


Aelin menggenggam pisau yang di berikan Davin dengan erat, sementara ke dua mata nya kini semakin memandang lekat mencari kebohongan pada ke dua wajah Davin yang kini bahkan berhamburan air mata.


Harus kah ia membunuh Davin dengan pisau ini?


Membalas kan dendam dan sakit hati nya karna perbuatan Davin yang telah merenggut mahkota nya.


Tapi bagaimana jika tindakan nya salah?.


Namun hati nya terlalu sakit untuk memaaf kan dan memaklumi perbuatan Davin yang bahkan pria itu memberi kan alasan yang tak masuk akal.


Davin mencintai diri nya?


Lalu kenapa ia tega menghancur kan hidup nya.?


Bukan nya mencintai adalah rasa yang tulus tanpa ada keegoisan di dalam nya.


Davin sedikit kaget, saat Aelin menggengam dengan erat pisau yang ia berikan.


"Apa sungguh bocah tengik ini akan menusuk pisau itu ke jantung ku..? Jika seperti itu maka aku sudah salah mengambil jalan cerita..." Pekik Davin membatin dengan mengontrol sedikit rasa takut nya saat melihat urat- urat tangan Aelin mengeras.


"Ayo... Tusuk aku..." Seru Davin dengan ragu, namun di dalam hati nya ia berharap Aelin tidak melakukan tindakan gila dengan menusuk dada nya.


Rahang Aelin semakin mengeras, dengan gigi yang bergemelatuk di mana ke dua mata nya menyirat kan kebencian yang sangat besar.


Aelin mengangkat tangan nya ke udara, di mana tangan itu memegang erat pisau yang siap diri nya tusuk kan ke arah jantung Davin.


"Aku sangat membenci mu...!" Pekik Aelin langsung menghujam pisau tersebut tepat di dada Davin.


Slesh...


Davin memejam kan ke dua mata nya, saat tangan Aelin mengayun tepat di dada nya.


Seperti nya ia akan berakhir di rumah sakit.


"Hiks... Hiks... Hiks...." Suara tangis Aelin menyadar kan Davin dari ketegangan nya.


Davin membuka mata nya, karna ia tidak merasa kan sakit atau pun nyeri di bagian dada karna sebuah tusukan.


Davin menghembus kan nafas nya lega, sungguh bucah kecil ini berhasil membuat seorang Davin Arselion merasa takut.


Namun sedetik kemudian, Ke dua netra Davin melebar sempurna saat melihat kucuran darah segar mengotori kemeja nya.

__ADS_1


Dan yang lebih mengaget kan diri nya lagi, jika yang terluka adalah tangan Aelin.


Gadis tengik itu tidak menusuk kan pisau tersebut ke dada nya, melain kan melukai tangan nya sendiri dengan memegang belahan pisau yang tajam, lalu memegang erat belahan pisau tersebut hingga membuat tangan nya mengeluar kan cukup banyak darah.


"Gadis gila ia melukai diri nya, dan menggengam belahan pisau dengan erat.. Jika begini telapak tangan nya bisa- bisa terpotong menjadi dua..." Umpat Davin yang mulai panik saat merasa kan kulit dada nya terkena oleh darah Aelin.


"Dasar bodoh...!!!" Bentak Davin yang langsung memegang tangan Aelin dan merebut pisau tersebut, lalu membuang nya ke lantai hingga meninggal kan suara nyaring.


Trang...


"Hiks... Hiks.... Kenapa kau melakukan hal ini... Biar kan saja tangan ku terluka...!" Bentak Aelin hendak ingin meraih pisau yang tergelatak di lantai karna sempat di buang oleh Davin.


Namun belum sempat tangan Aelin menggapai pisau tersebut, Davin menendang pisau tersebut hingga terpental beberapa meter.


Lalu menarik tubuh Aelin masuk ke dalam pelukan nya.


"Hentik kan...!!" Bisik Davin dengan mencium rakus puncak kepala Aelin.


Menahan penolakan dan rontaan Aelin dalam pelukan nya.


Menahan tubuh Aelin agar tak menggapai pisau.


Ia tidak mau melihat Aelin melakukan hal- hal nekat lagi.


Di mana Davin lagi- lagi meringgis saat melihat luka telapak tangan Aelin yang masih mengeluar kan darah.


Entah mengapa ia menangis serapuh ini di depan Davin, biasa nya ia akan memilih untuk memendam semua nya dan tidak menunjuk kan kelemahan nya.


Namun rasa nya derita nya sudah tak bisa ia bendung lagi.


Biar lah Davin menganggap nya lemah, karna sejati nya ia memang sosok lemah yang hanya berpura- pura untuk tegar.


Davin semakin mengerat kan pelukan nya, memberi kan rasa hangat untuk menenang kan Aelin.


Di mana kini tangis Aelin semakin tumpah bersamaan tubuh wanita itu berhenti untuk meronta.


Aelin sungguh lelah menghadapi semua nya, biar lah kali ini ia menumpah kan derita dan luka nya.


Menenggelam kan kepala nya di dada Davin, merasa kan kehangatan pelukan tangan kekar itu , meski seharus nya ia mendorong tubuh pria brengsek yang sudah menyebab kan diri nya berada dalam posisi ini.


Namun entah mengapa, ia tidak bisa melakukan itu, jangan kan mendorong, menusuk jantung pria ini pun ia tak sanggup.


Malah diri nya memilih untuk melukai diri nya sendiri.


Apa ia sudah terjebak dalam pesona seorang Davin Arselion.?

__ADS_1


Terjebak dengan paras tampan dan juga perhatian nya?


Lalu di mana benci yang selama ini ia pendam.?


Mengapa rasa itu hilang seketika saat Davin mengutara kan perasaan nya.?


Mengapa hati nya berdesir dengan hebat mendengar perkataan Davin yang bahkan ia tak tahu jika itu benar atau hanya seledar sandiwara.


"Jangan lakukan itu lagi... Kau melukai diri mu sendiri... Lihat tangan mu berdarah.." Celetuk Davin dengan gurat luka yang tampak jelas di wajah nya, saat melihat telapak tangan Aelin yang terluka.


"Maaf kan aku... Seharus nya kau menusuk pisau itu ke jantung ku, bukan melukai tangan mu... Kau sungguh memberi ku rasa sakit yang jauh lebih besar dari tusukan itu..." Lanjut Davin bahkan kini ke dua mata tajam itu sudah memerah sembab.


"Apa diri mu kali ini bukan topeng yang selalu bersandiwara? Apa kau mengata kan yang sejujur nya? Bahkan aku ragu untuk mempercayai mu.. Tapi aku juga terjebak dalam perhatian yang kau berikan. Tanpa aku sadari aku yang telah kalah dalam perang ini..." Batin Aelin dengan pertanyaan - pertanyaan yang terus berhamburan di kepala nya.


Ia sungguh tidak bisa membeda kan atau membaca ekspresi Davin yang begitu misterius.


Davin mengangkat tubuh ringkih Aelin, lalu membawa nya kembali untuk duduk di atas kursi.


Aelin hanya pasrah menerima semua perlakuan Davin pada nya.


Tenaga nya sudah habis terkuras oleh otak nya untuk menghadapi kenyataan baru yang belum bisa di cerna oleh akal nya, namun hati nya sudah memberontak berbunga- bunga.


Davin meninggal kan Aelin mencari kotak p3k untuk mengobati tangan Aelin yang semakin lama terus mengeluar kan darah.


...----------------...


...****************...


hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...


Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...


yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚


Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit

__ADS_1


Budayakan beberapa hal yang di atas.


Supaya othor makin semangat😙


__ADS_2