Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Pembicaraan Antar hati


__ADS_3

...126💚...


Davin tersenyum senang, melihat Aelin yang menurut pada nya.


Sikap Aelin benar- benar berubah pada nya.


Wanita pembangkang yang selalu memberontak dan melawan perintah nya kini patuh seperti anak anjing yang baik.


"Sekarang kamu makan malam dulu.. kamu pasti lapar..." Ucap Aelin yang mulai menyendok kan nasi goreng dan menyuapi Davin.


Seperti biasa Davin langsung melahap makanan yang di suapi Aelin.


Lidah nya benar- benar selalu di manja kan dengan makanan yang di masak Aelin.


Bahkan kini Davin memasuk kan masakan Aelin ke dalam daftar makanan favorit nya.


Rasa nya ia hanya ingin memakan makanan yang hanya di masak oleh Aelin.


"Ehhhhhhmmmmm sangat enak..." Puji Davin dengan terus mengunyah makanan yang ada di dalam bibir nya.


Sementara Aelin sangat senang melihat Davin yang sangat menyukai masakan nya.


"Apa kamu suka?" Tanya Aelin basa- basi lalu menyuap kan kembali nasi goreng tersebut ke dalam bibir Davin.


"Rasa nya seumur hidup ku aku hanya ingin memakan masakan mu..." Goda Davin dengan mengedip kan sebelah mata nya genit pada Aelin.


Blush..


Pipi Aelin langsung merona, ucapan manis Davin selalu bisa membuat diri nya terombang- ambing di tengah lautan gombalan.


Rasa nya ada jutaan kupu- kupu yang tengah menggerayani hati nya.


Terasa manis.


Meski perjumpaan nya dengan Davin tidak seindah pelangi namun kini setidak nya hidup nya semakin membaik.


Meski ia masih punya tugas untuk mengambil hati Nyonya Tissa yang masih belum menerima diri nya di rumah ini.


Namun ia yakin jika ia pasti bisa melewati semua nya. Karna ada Davin yang berdiri di pihak nya.


"Maka aku dengan setia dan bersedia untuk memasak untuk mu..." Balas Aelin apa ada nya.

__ADS_1


Namun mampu menggetar kan hati seorang Davin Arselion.


Ucapan Aelin mampu menggetar kan hati nya.


Ia sama sekali tidak pernah bermimpi jika bibir indah wanita di hadapan nya akan mengata kan hal itu dengan begitu tulus.


"Kamu sudah merawat ku dengan sangat baik... Kenapa kamu tidak meninggal kan ku di saat aku bahkan tidak bisa untuk berdiri sendiri... Seharus nya jika kamu ingin kabur dari ku maka ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk mu Aelin.... Setelah semua yang ku lakukan pada mu.. Rasa nya begitu mustahil melihat mu memperlakukan ku dengan begitu baik tanpa ada sebab di balik sikap mu pada ku..." Davin menyuara kan apa yang selama ini menjanggal di hati nya.


Entah keberanian dari mana hingga bisa ia mengata kan semua ini.


Suasana di antara Davin dan Aelin semakin melebur menjadi satu.


Di mana ke dua nya saling menuntut untuk mengeluar kan semua perasaan yang terpendam jauh di dalam lubuk hati masing- masing.


Pembicaraan yang menjurus antar satu hati dengan hati yang lain nya.


Aelin yang mendengar ucapan Davin tersenyum. Di mana ia semakin menatap Davin intens.


Tatapan kejujuran dan tidak ada sedikit pun kebohongan di ke dua mata nya.


"Aku sudah berjanji pada almarhum papy jika aku akan membuka hati dan mencoba menerima mu menjadi suami ku.. Dan hal itu adalah pesan terakhir papy pada ku.. Bukan kah itu adalah satu kewajiban yang harus aku laksana kan..." Seru Aelin di mana mata nya mulai berkaca- kaca.


Setiap kali otak nya membayang kan wajah papy nya yaitu Mr. Arkelin. Maka rasa rindu menyeruak begitu saja di dalam hati nya.


Ia sama sekali tidak mengingin kan pernyataan seperti itu dari bibir Aelin.


Hati nya menuntut hal yang lain.


"Itu arti nya kamu terpaksa tetap di sini dan bersama ku... Jika begitu aku akan membebas kan mu.. Kamu bisa pergi dan kau tidak akan terjerat dengan laki- laki brengsek seperti ku..." Ucap Davin di mana pernyataan nya sendiri melukai dan menyayat hati nya.


Tangan Aelin segera menutup bibir Davin. Ia tidak kuat mendengar hal yang terasa mencabik- cabik ulu hati nya yang hanya berbentuk daging lunak.


"Tidak... Aku tidak akan pergi... Memang nya aku akan pergi kemana jika aku pergi dari mu... Setelah papy, aku sama sekali tidak punya siapa pun di dunia ini... Aku hanya sendiri di tengah ribuan manusia dan hanya sendiri di atas bumi yang kejam ini... Hidup tanpa seseorang sebagai sandaran mu apa lagi untuk ku sangat lah sulit.. Rasa nya aku memilih untuk hilang dari bumi ini... Tapi kini aku punya alasan untuk bertahan dan aku masih punya tempat untuk bersandar di kehidupan yang mengerikan ini... Dan itu adalah kamu... "


Aelin menjeda kalimat nya, di mana ia menarik nafas nya dalam.


Mungkin ini memang saat nya ia mengutara kan semua yang ada di dalam hati nya.


Mengeluar kan semua hal yang mengganjal.


"Ku akui jika pertemuan kita memang sangat buruk.. Tapi aku meyakini satu hal jika itu sudah di takdir kan dan di garis kan... Untuk itu aku menerima nya dengan lapang dada.. Aku akan membuka lembaran baru yang lebih baik dengan menerima semua keadaan dan semua kejadian itu. Karna melawan dan menentang hanya membuat ku semakin terluka...."

__ADS_1


Satu tetes buliran bening jatuh begitu saja dari sudut mata Davin.


Ternyata ia sudah sangat menyakiti Aelin, bahkan membuat Aelin merasa hanya sendiri di dunia ini.


Rasa nya ribuan anak panah sedang menancap di seluruh tubuh nya.


"Bukan kah ini yang aku ingin kan... Melihat dia merasa menderita dan hancur... Lalu mengapa sekarang aku yang ikut merasa kan luka yang sudah ku buat sendiri... Aelin begitu naif dan polos.. Apa aku salah sudah menarget kan dia sebagai pembalasan dendam ku.. Rasa nya tidak mungkin seorang perempuan selugu dia bisa membuat Syaila nyaris mati...." Batin Davin di mana rasa bersalah mulai tumbuh subur di hati nya.


"Hei... Kenapa menangis? Astaga apa ucapan ku ada yang salah...?" Celetuk Aelin merasa tidak enak saat melihat wajah Davin yang tertekuk sedih.


"Bisa kah kamu memberi ku sebuah pelukan..." Pinta Davin.


Aelin mengangguk, tidak ada alasan bagi nya untuk menolak permintaan Davin.


Aelin meletak kan nampan makanan di atas meja nakas di samping ranjang tidur Davin.


Lalu merebah kan kepala nya di atas dada bidang Davin.


Davin memeluk tubuh Aelin erat, rasa nya ia tidak rela jika moment ini harus berhenti.


Jika bisa ia ingin waktu berhenti untuk selama nya. Hingga ia bisa memeluk Aelin selalu.


Aelin memejam kan ke dua mata nya saat kepala nya ia letak kan di dada bidang Davin.


Suara detak jantung Davin yang berdetak dengan cepat bisa Aelin dengar dengan jelas.


Detak jantung yang kini berdetak sama- sama bergemuruh juga di dada nya.


...----------------...


...****************...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit

__ADS_1


Budayakan beberapa hal yang di atas.


Supaya othor makin semangat😙


__ADS_2