Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Serahkan dia padaku!


__ADS_3

...184...


"Aku sudah bilang kan, jika aku tidak tahu!" bentak Syaila dengan menatap Davin nyalang.


"Kenapa kamu terus menuduhku Davin? Kenapa kamu begitu terpengaruh dengan wanita itu. Aku sekarang yakin jika kamu memang mulai menyukai gadis itu. Ingat Davin aku ini istrimu. Kamu memang harus menyingkirkan dia dari hidup kita Dav," lanjut Syaila dengan suara tinggi.


"Tutup mulutmu Syaila!" hardik Davin dengan kemarahan yang sudah mencapai puncaknya.


"Aku tidak ingin lagi membohongi hatiku. Aku mencintai Aelin, aku sangat mencintainya. Aku tidak akan menyingkirkan dia dari hidupku---"


"Lalu bagaimana denganku Davin? Seorang istri tidak pernah mau membagi suaminya dengan wanita lain," sosor Syaila dengan memotong ucapan Davin.


Davin menatap wajah Syaila dengan lekat. Menarik nafasnya dalam, sebelum bibirnya bergerak mengatakan sesuatu.


"Lebih baik kita bercerai."


Deg!


Cairan bening mengalir begitu saja dari ke dua mata Syaila. Ia terpaku dengan perkataan yang baru saja dikatakan oleh Davin. Tubuhnya terasa lemas seketika tanpa tenaga. Ia masih tidak percaya, Davin ingin menceraikan dirinya hanya demi bersama Aelin.


"Tuan, Nona Aelin sudah pulang!" seru seorang pelayan yang tiba-tiba datang menghampiri Davin dan Syaila yang masih terlibat dalam ketegangan.


Seperti hembusan angin yang sangat sejuk. Davin segera melenggang pergi begitu saja meninggalkan Syaila yang masih diam.


Tubuh Syaila langsung merosot jatuh ke lantai, dengan bibir bergetar hebat. Seketika tangis Syaila pecah dengan rasa sakit di ulu hatinya.


"Hiks ... hiks ... tega sekali kamu Davin, hiks ... hiks ...." tangis Syaila sambil menjambak rambutnya sendiri.


Sementara Davin berlari begitu cepat menuruni tangga supaya ia bisa sampai di ruang tamu. Wajah tegang Davin langsung melemas saat melihat Aelin yang kini berada di hadapannya.


Ke dua mata Davin berair, saat melihat tubuh Aelin di perban. Dengan cepat Davin berlari dan langsung memeluk Aelin yang masih di papah oleh Antonio.


"Aku sangat takut, kamu pergi kemana Ae?. Aku hampir gila mendengar jika kamu menghilang." Davin mengurai pelukannya, lalu mengecup kening Aelin dalam.


Davin menelisik tubuh Aelin, rasanya ia hancur melihat penampilan Aelin yang kotor dan kumal. Ia benar-benar suami yang tidak becus, kesal Davin pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa kamu bisa terluka sayang? Apa ada orang yang berani melukaimu?" cecar Davin dengan khawatir.


"Aku, baik-baik---"


Buk!


Satu bogem mentah melayang tepat ke wajah Davin. Tubuh Davin terjengkang ke belakang dengan ujung bibir yang sobek dan mengeluarkan darah segar.


Aelin membulatkan ke dua matanya, melihat Antonio yang meninju Davin dengan begitu keras.


"Suami macam apa kamu hah?" Antonio menarik kerah kemeja Davin, dan kembali melayangkan satu pukulan tepat di perut Davin.


Buk!


"Aaa!" pekik Davin saat merasakan lambungnya tergoncang, akibat pukulan Antonio.


"Kamu tahu, hampir saja Aelin mati diserang oleh seseorang!" teriak Antonio di depan wajah Davin. Ia melampiaskan kemarahan yang sejak tadi tertahan.


"Kamu meninggalkan dia sendiri di hotel. Aku diam Davin, tapi kamu tidak datang menyemputnya di sekolah hari ini dan menyebabkan Aelin di serang. Aku tidak terima!" Antonio mendorong tubuh Davin hingga tersungkur di lantai.


"Aku tahu aku salah, tolonga maafkan aku. Aku sudah menyuruh Darren menyambut Aelin," ujar Davin menjelaskan semuanya, sembari ke dua tangannya ia letakkan di depan wajah. Takut bila Antonio kembali menghajarnya.


"Cukup Kak, jangan lagi," lirih Aelin yang langsung membantu Davin bangun.


Antonio mengetatkan rahangnya, gigi-giginya begesekan satu sama lain. Ia tidak terima melihat Aelin yang masih membela Davin setelah Davin meninggalkan dia begitu saja.


Hatinya yang mencintai Aelin terasa begitu sakit. Melihat tatapan penuh cinta untuk pria lain di mata wanita yang sangat ia cintai.


"Kakak, aku berterimakasih padamu karna kau telah menolongku. Satu hal yang harus kakak tahu, Davin adalah suami terbaik untukku. Aku tahu dia tidak datang karna dia memiliki hal yang lebih penting yang harus dia tangani---"


"Hal penting apa yang dia lakukan sampai dia tidak datang mejemputmu Ae?" bentak Antonio dengan telunjuk menunjuk ke arah Davin. Ia sudah tidak bisa menahan emosinya.


Aelin tersentak dengan bentakan Antonio, untuk pertama kalinya Antonio membentak dirinya. Nyali Aelin sedikit menciut.


"Aku tahu aku salah Antonio, aku menyesal," ujar Davin dengan wajah memelas penuh penyesalan.

__ADS_1


"Kau tidak akan pernah bisa membahagiakan Aelin Dav. Dan kau Aelin, ikutlah bersamaku dan tinggalkan laki-laki brengsek ini." Antonio mengulurkan tangannya pada Aelin. Berharap Aelin akan ikut bersamanya.


"Tidak kak, aku ini istrinya Davin. Bagaimana mungkin aku meninggalkan suamiku. Jika kakak menyayangiku, aku mohon kakak lebih baik pergi dari sini," tolak Aelin dengan rasa bersalah karena mengatakan hal sekejam itu pada Antonio.


Tangan Antonio langsung jatuh begitu saja. Hatinya tertusuk ribuan belati yang begitu tajam. Penolakan Aelin begitu sangat menyakiti dirinya. Bahkan Aelin sampai mengusirnya. Antonio menelan bulat-bulat kekecewaan yang terasa begitu menyakitkan.


"Aku mohon!" lanjut Aelin dengan nada memohon. Antonio memandang Aelin dengan tatapan terluka dan perlahan melenggang pergi meninggalkan kediaman Arselion.


Aelin yang melihat tatapan kecewa dan terluka dari Antonio, benar-benar merasa sangat bersalah. Tangis Aelin seketika pecah, saat dadanya terasa di remas dengan kuat.


"Hiks ... hiks."


Adik macam apa dirinya? yang menyakiti pria yang sudah ia anggap kakak dan begitu menyayangi dirinya. Di setiap kesulitan Antonio selalu ada dan datang membantu dirinya. Namun, apa ia lakukan? Ia dengan jahatnya mengusir Antonio yang hanya ingin memastikan kebahagiannya.


"Ae ...." lirih Davin yang tak bisa berkata apa-apa melihat Aelin yang menangis.


Tangis Aelin semakin kencang, ia memilih berlari masuk ke dalam kamarnya. Dimana Davin segera menyusul Aelin. Ia sangat khawatir dengan keadaan Aelin. Ia tidak suka melihat wanitanya menangis sepedih itu, hatinya ikut sakit seolah ia merasakan penderitaan Aelin.


Tepat di lantai dua. Syaila menatap nanar pemandangan yang baru saja ia lihat. Dimana Davin langsung mengejar Aelin saat wanita itu menangis sedih.


Syaila mencebikkan bibirnya pedih. Sekarang ia yakin jika Davin sangat mencintai Aelin. Syaila meremas pembatas lantai dengan kuat. Meluapkan amarah dan kekesalan yang bercampur menjadi satu menjadi bara api kebencian di dada Syaila.


Ia tidak mau kehilangan Davin, itu artinya ia harus memisahkan Davin dan Aelin untuk selamanya.


Kau adalah kehancuran untukku Aelin. Namun, sebelum kamu menghancurkan aku, aku akan menghancurkanmu lebih dulu. Aku akan mengambil suamiku kembali darimu. Aku akan membuat Davin sangat membencimu, sehingga tidak ada cinta untukmu Aelin. Batin Syaila.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


komentar

__ADS_1


gift


vote


__ADS_2