
...175💚...
Syaila langsung menghambur memeluk Davin dengan erat. Ia sangat merindukan suaminya, ini semua tidak adil baginya. Bagaimana bisa hal yang menjadi miliknya malah dimiliki oleh orang lain. Meskipun dihatinya ia tidak mencintai Davin. Namun, ia tidak rela jika Davin bersama wanita lain karna Davin hanyalah miliknya.
Davin tersentak kaget, dengan kedua mata yang terbuka lebar karna Syaila yang tiba-tiba memeluknya. Ia tidak bisa membiarkan Syaila memeluknya. Bagaimana jika Aelin melihat mereka.
"Syai, lepaskan aku!" seru Davin dengan mendorong tubuh Syaila menjauh dari tubuhnya. Lalu bangkit dan berdiri menatap Syaila dengan tatapan tidak suka.
Syaila memicingkan ke dua matanya. Ia tidak percaya jika Davin berani menolak dirinya. Bahkan menatapnya dengan tatapan tidak suka.
"Ada apa sayang? Apa kau juga tidak mengenali istrimu?" Seringgai Syaila dengan berjalan mendekat ke arah Davin. Namun, Davin langsung mengangkat tangannya di depan Syaila. Sehingga langkah Syaila terhenti.
"Jangan mendekat Syai, aku tidak mau sampai Aelin melihat kau memelukku. Apa yang akan dia pikirkan nanti?"
"Hah, Davin aku ini istrimu. Kamu malah mengkhawatirkan wanita yang hampir saja membunuh istrimu Dav. Oh, ayolah Dav aku tidak suka dengan caramu."
Davin menyugar rambutnya. Rasanya saat ini kepalanya akan pecah menghadapi situasi yang baginya sangat sulit. Di satu sisi Aelin dan sisi lainnya ada Syaila. Davin menatap Syaila serius, berharap Syaila mau menurut dan tidak melakukan hal-hal yang akan membuat Aelin curiga.
"Syai, aku mohon jaga sikapmu. Aelin ada di rumah ini, jika dia melihatmu memelukku. Apa yang akan dia pikirkan. Dia pasti akan curiga dan balas dendam kita tidak akan terbalaskan. Jadi, aku mohon tahan dirimu," ujar Davin mencoba menjelaskan kepada Syaila. Meski jujur di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tidak nyaman di peluk oleh Syaila.
Syaila mencerna apa yang dikatakan oleh Davin. Ia setuju akan hal itu. Hanya saja ia menginginkan sentuhan dan suaminya, dan hal itu bukanlah hal yang salah.
"Aku tahu sayang, aku hanya tidak suka jika kamu bersikap begitu manis dengan wanita itu. Bahkan tadi kamu merangkul dan menggengam tanganya. Aku merasakan jika caramu menatapnya itu berbeda." Wajah Syaila menyendu.
Davin menghembuskan nafasnya kasar. Sepertinya ia sudah terlalu keras pada Syaila. Wajar jika seorang istri cemburu dengan suaminya. Ini juga salahnya, sudah menempatkan dua wanita penting dalam hidupnya dalam situasi yang rumit.
Davin mendekati Syaila, lalu memeluk tubuh indah istri pertamanya. Tentu saja, Syaila membalas pelukan Davin dengan tersenyum lebar. Sampai kapanpun Davin akan selalu menuruti keinginannya karna Davin selalu terikat dengan janji, yang sampai kapanpun tidak akan bisa dia ingkari.
__ADS_1
"Kamu seharusnya tidak melakukan hal ini Syai. Biarkan aku saja yang mengurus semuanya," lirih Davin dengan pikiran yang kusut. Kehadiran Syaila yang menyamar menjadi Livia sepupunya akan membuat masalah ini semakin rumit. Syaila pasti akan terus mendorong dirinya untuk segera membalaskan dendam pada Aelin. Padahal sejujurnya ia sama sekali tidak sanggup untuk melakukan hal itu. Akan tetapi, ia juga tidak bisa selalu berdiri pada dua buah perahu secara bersamaan. Ia harus menenggelamkan salah satunya, dan itu adalah Aelin.
Bukankah ini tujuan dan niat awal Davin. Ia hanya ingin membalas dendam dan menghancurkan Aelin. Tanpa pernah ia menduga jika hatinya malah berlabuh pada musuhnya.
"Aku tidak mungkin melepaskan mangsaku begitu saja Dav," balas Syaila menenggelamkan kepalanya di dada bidang Davin.
Tap
Tap
Tap
Sura langkah kaki yang mendekat, membuat Syaila dan Davin mengurai pelukan mereka dan langsung melempar diri ke sofa. Bersandiwara duduk dengan manis, seolah-olah tidak terjadi apa-apa di antara mereka.
Terlihat Aelin datang dengan membawa nampan berisi dua gelas minuman dingin. Ia tersenyum dengan manis pada Davin dan Syaila yang sedang menatap ke arahnya.
Dengan berhati-hati, Aelin menyajikan minuman pada Syaila serta Davin. Lalu segera duduk tepat di samping Davin.
"Livia, silahkan diminum minumannya?" ucap Aelin mempersilahkan.
"Tentu saja kakak ipar," jawab Syaila tak kalah ramah, lalu menegak minuman tersebut.
"Aku baru tahu ternyata suamiku memiliki seorang sepupu." Aelin menyuarakan rasa penasarannya. Ia masih merasa ada yang janggal di sini. Namun, entah ia tidak tahu apa itu.
Syaila mengulum senyum angkuhnya, menatap Aelin dengan tatapan merendahkan.
"Jangan salahkan aku kakak ipar, tapi salahkan Davin karna dia menikah dengan diam-diam di saat aku sedang sakit," sindir Syaila dengan melirik Davin dengan sudut matanya.
__ADS_1
Davin tersenyum kaku, ia tentu tahu jika Syaila menyindir dirinya. Davin mengontrol ekspresi di wajahnya agar terlihat sebiasa mungkin.
"Ha, pernikahan kami memang dilangsungkan secara mendadak. Akan tetapi pernikahan kami sangat bahagia. Aku sangat mencintai suamiku." Aelin meraih tangan Davin dan menggengamnya dengan erat. Sontak saja melihat pemandangan seperti itu, darah Syaila mendidih sampai ke ubun-ubun.
Namun, dengan sekuat tenaga ia mengontrol emosinya dengan menampilkan wajah semringah. Berbanding terbalik dengan kedua tangan Syaila yang saling meremas satu sama lainnya.
Davin tersenyum lebar pada Aelin. Membalas genggaman tangan Aelin tak kalah erat. Seolah mengatakan jika mereka adalah pasangan sejati.
"Aku sangat senang mendengar hal itu," ujar Syaila dengan suara dipaksakan.
"Oh ya Livia, bagaimana jika malam ini kamu menginap di sini. Lagi pula ini sudah malam, tidak baik jika kamu pulang sendiri. Iya kan Dav?" Aelin melempar pertanyaan pada Davin untuk meminta persetujuan.
"Sayang, Livia hanya mampir sebentar. Dia seorang pebisnis jadi waktu adalah uang baginya. Dia sepertinya tidak bisa menginap di sini karna dia pasti memiliki banyak pekerjaan, iya kan Livia?" Davin menatap Syaila dengan tatapan memohon. Berharap Syaila mengatakan iya, dan segera pergi dari sini. Ia merasa tidak nyaman dengan kehadiran istri pertamanya.
"Davin berani kamu mengusir istrimu dari rumahnya sendiri. Aku tidak akan pergi dari rumahku," batin Syaila dengan kekesalan yang ingin segera meledak.
"Sepertinya tawaran kakak ipar, aku menerimanya. Aku sangat lelah dan butuh istirahat. Lagi pula ini sudah larut malam." Syaila menyunggingkan senyum pahit pada Davin, yang terlihat kesal dengan keputusan dirinya.
Akan tetapi ia tidak peduli, ia tidak akan pernah membiarkan suaminya berdua dengan wanita lain. Malam ini ia tidak akan menuruti siapapun, termasuk perintah Davin. Tekad Syaila dengan smirk di bibirnya.
"Baiklah, Livia aku akan mengantarmu ke ruang tamu. Ayo!" ajak Aelin sambil berdiri dari duduknya.
Syaila beranjak dari duduknya dan mengikuti Aelin dari belakang. Sorot mata tajam Syaila tidak lepas dari Aelin. Ingin rasanya saat ini ia menikam Aelin dari belakang.
Davin yang melihat cara Syaila menatap Aelin hanya diam. Ia memilih untuk kembali ke kamar dan menunggu Aelin di sana. Sekarang ia harus memikirkan sesuatu untuk membuat Syaila mau pergi dari rumah ini. Ia tahu betul ke keras kepalaan Syaila yang tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang diinginkan.
...----------------...
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa like koment and vote.