
...177...
Pagi menjelang meninggalkan malam. Cahaya matahari mulai menyeruak, menyusup pada celah-celah rumah.
Aelin menggeliatkan tubuhnya sembari mengucek ke dua matanya dengan perlahan. Aelin menoleh ke samping tempat tidur. Namun, sosok yang di harapkan berada di sana tidak terlihat bayangan ataupun batang hidungnya.
"Dav, sudah bangun?" gumam Aelin lalu turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
"Dav, kamu di dalam kamar mandi sayang?" panggil Aelin sambil menempelkan telinganya di daun pintu. Namun, ia sama sekali tidak mendengar suara apapun dari dalam.
"Kemana Davin pagi-pagi seperti ini? Dia tidak mungkin kan meninggalkanku lagi? Ohhh, ayolah apa yang kupikirkan," ujar Aelin bermonolog sendiri, lalu segera menggelengka kepalanya, menepis pikiran-pikiran negatif. Ia sudah tidak punya alasan lagi untuk mencurigai Davin.
Dari pada memikirkan sesuatu yang membuat kepalanya pusing. Aelin memilih untuk mandi dan segera bersiap untuk pergi sekolah karna hari ini, adalah hari terakhir ujian.
Di dapur, semua pelayan tengah berdiri dengan wajah tertunduk ke dalam. Mereka semua tidak bergeming atau bergerak sedikitpun dari tempat mereka berdiri. Bahkan mereka mengontrol hembusan nafas mereka, agar tidak terdengar.
Aura mencekam dan mengerikan begitu terasa di dalam dapur mewah itu. Namun, berbeda dengan para pelayan yang diam membatu penuh ketegangan. Sosok pria tinggi dengan tubuh kekarnya sedang fokus dengan penggorengan di atas kompor.
Garis wajahnya terlihat begitu jelas, dengan ke dua tangannya yang terus bergoyang memainkan spatula dan wajan.
Setelah masakan yang ia masak selesai. Ia segera menyiapkannya di atas piring, bersamaan dengan senyum yang terus terukir dengan indah.
"Waaawww, Nasi Goreng!" pekik Syaila sembari menghirup aroma makanan tersebut yang menggelitik lubang hidungnya.
Davin tersenyum melihat Syaila. Namun tetap fokus pada nasi goreng yang sedang ia sajikan di atas piring. Syaila tersenyum lebar, ia yakin jika Davin memasak nasi goreng itu untuk dirinya.
Oh, astaga Davin memang selalu memperlakukan dirinya dengan begitu istimewa. Siapa yang tidak meleleh di perlakukan seperti seorang ratu. Ia selalu merindukan hal ini dari Davin.
Davin meletakkan sepiring nasi goreng di atas nampan yang terletak di atas meja. Ia melenggos begitu saja melewati Syaila yang masih berdiri di Set kitchen.
Syaila mengekor di belakang Davin dan menarik kursi tepat di depan sepiring nasi goreng yang telah di sajikan. Air liurnya sudah ingin tumpah dengan aroma nasi goreng yang begitu mengaduk-ngamuk perutnya sehingga merintih kelaparan.
Namun, saat tangan Syaila hendak menyendok nasi goreng tersebut Davin segera menarik makanan tersebut, yang langsung membuat Syaila terbelalak.
Ia mengangkat wajahnya ke arah Davin, dengan tatapan bertanya dan heran. Bukankah sarapan nasi goreng ini untuknya? Lalu apa-apaan ini?
__ADS_1
"Dav, aku ingin makan. Perutku sudah lapar, berikan nasi goreng itu!" pinta Syaila dengan merenggek.
"Siapa bilang ini untukmu Syai. Aku membuatkan nasi goreng ini untuk Aelin bukan untukmu. Hari ini adalah hari terakhir ujiannya. Jadi sebelum berangkat dia harus sarapan," tutur Davin dengan senyum di bibirnya.
Syaila meremas sendok yang ada di tangannya. Darahnya kembali mendidih dan memanas melihat sikap Davin yang ternyata begitu memperhatikan Aelin. Balas dendam macam apa ini? pikir Syaila dengan melemparkan garpu yang ada di tangannya ke lantai.
Trang!
"Aelin, Aelin, ini itu semua Aelin. Selalu saja Aelin. Sebenarnya di sini siapa istrimu Davin? Selama ini kamu selalu melakukan hal ini untukku, tapi kenapa kamu juga melakukannya pada Aelin yang notabenenya adalah musuhmu." Syaila menatap Davin dengan nyalang, ia sama sekali tidak terima dengan semua ini.
"Syaila jangan berteriak, tutup mulutmu!" sentak Davin dengan menekan kalimatnya.
"Aku tida akan diam, lihat saja aku akan memberi tahu semuanya pada Aelin---"
"Memberi tahuku tentang apa?" potong Aelin, yang ternyata sudah ada di dapur.
Davin dan Syaila seketika menjadi gelagapan. Pikiran mereka melayang bertanya apakah Aelin mendengar semua obrolan mereka barusan?
Davin memutar otak kecilnya, untuk menemukan alasan yang tepat. Sementara Aelin menatap penuh selidik pada dua orang yang ada di depannya.
Ia bisa melihat degan jelas ketegangan dari raut wajah ke duanya, tapi ia sama sekali tidak mendengar percakapan apa yang membuat keduanya sampai berada dalam kondisi tegang.
"Emmm, a-ku hanya ingin memberi tahumu jika sebenarnya aku tidak punya tempat tinggal. Bisnis yang kugeluti bangkrut karna ada beberapa oknum yang korupsi. Sedangkan aku hanya wanita sebatang kara yang tidak memiliki siapapun selain Davin. Aku meminta untuk bisa tinggal lebih lama di rumah ini. Namun, sepertinya Davin tidak mengizinkan hal itu," ujar Syaila memberikan alasan bohong.
Ini bukan waktu yang tepat jika penyamarannya sampai terbongkar, ia harus mendapatkan apa yang ia inginkan terlebih dahulu. Aelin berjalan mendekat ke arah Davin, lalu menepuk bahu Davin dengan lembut.
"Dav jangan terlalu kejam dengan anggota keluarga. Kasihan Livia, aku sangat mengerti rasanya hidup sebatang kara, dan hal itu tidak mudah Dav. Jadi aku mohon biarkan Livia tinggal di sini," ujar Aelin, tanpa ia tahu jika ia membiarkan musuh yang sesungguhnya tinggal bersama dirinya dalam satu atap.
Wajah Davin terlihat kesal. Syaila ternyata begitu pandai bersandiwara dan memberikan alasan. Namun, Davin sama sekali tidak setuju dengan Syaila yang tinggal di rumah ini. Tanpa mengatakan apapun, Davin memilih pergi meninggalkan dua wanita tersebut.
Syaila segera memasang wajah sedih penuh derita setelah kepergian Davin. Aelin yang melihat kesedihan Syaila cukup merasa iba.
"Tenanglah Livia, kamu boleh tinggal di sini," hibur Aelin dengan tersenyum tulus. Syaila menganggukkan kepalanya. Sementara jauh di lubuk hatinya, ia bersorak dan berteriak senang karna berhasil membodohi Aelin.
"Terimakasih Kakak ipar." Syaila memeluk Aelin.
__ADS_1
"Sama-sama" balas Aelin dengan mengurai pelukannya.
"Kakak ipar bolehkah aku meminjam ponselmu sebentar? Ponselku sedang di changer. Aku harus menelpon pegawaiku untuk menanyakan perkembangan bisnisku," pinta Syaila yang mulai melancarkan rencananya. Ia harus bisa memeriksa ponsel Aelin dan menghapus video yang melibatkan dirinya.
"Tentu saja," jawab Aelin, yang langsung merogoh ponselnya dari saku seragam.
"Nona Aelin!" panggil Darren yang langsung menghentikan pergerakan tangannya yang hendak memberikan ponsel pada Syaila.
Syaila menggigit bibir bawahnya dengan keras. Hampir saja ia mendapatkan apa yang ia cari, tapi harus gagal karna kedatangan Darren. Syaila meremas tangannya sendiri.
"Iya Darren!" timpal Aelin.
"Tuan sudah menunggu Nona di mobil untuk berangkat bersama."
"Baiklah, Livia aku berangkat dulu. Jangan sungkan di rumah ini, anggap rumah sendiri." Pesan Aelin sebelum ia pergi.
Ini memang rumahku, kamu yang sebenarnya menjadi tamu di sini.
Syaila menatap punggung Aelin yang terus menjauh penuh dengan kekesalan.
Brak!
Syaila menggebrak meja makan dengan sangat keras. Hingga beberapa gelas bergetar karna gebrakan tersebut.
...----------------...
...****************...
Aelin kenapa kamu baik banget sih...
Yuk jangan lupa
Like
koment
__ADS_1
Gift
Vote