Belengu Dendam OM Kaya

Belengu Dendam OM Kaya
Hotel.


__ADS_3

...65🌱...


Aelin menatap pantulan diri nya di depan cermin toilet.


Yah, saat ini diri nya sudah sampai di hotel yang akan menjadi tempat menginap diri nya Davin.


Ia memutus kan untuk segera mandi lalu istirahat, karna setelah itu ia ingin segera kembali ke rumah sakit.


Entah mengapa perasaan nya menjadi tidak karuan saat meninggal kan rumah sakit.


Aelin menyala kan shower, membiar kan tubuh nya terkena aliran air dingin yang langsung menyengat kulit putih nya.


Merasa kan sensasi rileks yang mampu membuat diri nya merasa lebih segar.


Sementara di luar kamar mandi. Davin melepas kan jas yang membalut tubuh indah nya, lalu meletak kan nya di atas kasur.


Membuka tiga kancing teratas kemeja nya, serta menghempas kan dasi yang selalu bertengger di leher nya.


Davin memijit tengkuk nya, sungguh hari ini ia sedikit letih karna terus bersandiwara.


Davin menatap ke arah kemeja nya yang terkena lumuran darah tangan Aelin yang sudah menghitam karna mengering.


Davin merogoh ponsel nya dan menelpon sang asisten kepercayaan nya, siapa lagi kalau bukan Darren.


"Iya tuan...!" Jawab Darren dari ujung telpon.


Davin memutar kepala menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup dengan suara shower yang menyala, menanda kan jika Aelin belum selesai mandi.


"Kau sudah melakukan apa yang aku minta?" Tanya Davin dengan wajah serius, sedang kan suara nya di kecil kan.


"Sudah tuan... Rekaman cctv di rumah sakit yang menampak kan tuan sudah di hapus, serta sudah di manipulasi oleh orang kepercayaan kita..."


"Hmmm Bagus.. Kau tidak pernah mengecewakan ku Darren..."


"Saya juga ingin melapor kan tuan, bahwa kondisi---"


Tut...


Klek...


Davin langsung mematikan panggilan nya dengan Darren, saat mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka.


Sementara Darren hanya menghembus kan nafas kasar, karna panggilan yang di putus secara paksa.


Padahal ia ingin mengabari Davin jika ada kemajuan pada kondisi Syaila.


Aelin menggigit bibir bawah nya, mengedar kan pandangan nya pada pintu kamar mandi yang terbuka kecil.


Bagaimana bisa ia mandi tanpa membawa baju ganti.


Apa lagi sekarang ia bersama seorang pria dalam satu kamar.


Meski tubuh nya sudah di baluti jubah mandi, tapi tetap saja ia merasa malu untuk terlihat di depan Davin.


"Aelin apa kau sudah selesai?" Suara bariton Davin yang tiba- tiba membuat Aelin terkejut.


Di mana tanpa sengaja Aelin memundur kan kaki nya dengan tergesa- gesa hingga kesimbangan tubuh nya tidak dapat ia pertahan kan.


Brak...

__ADS_1


"Auuuu...." Pekik Aelin spontan saat bokong mulus nya terjatuh di lantai kamar mandi yang dingin.


Mendengar pekikan Aelin, Davin segera mendorong pintu kamar mandi dan mendapati Aelin yang sudah jatuh.


Wajah Davin langsung berubah panik, melihat Aelin meringgis sambil memegangi bokong nya.


"Kau tidak apa- apa?" Tanya Davin dengan meraih tangan Aelin.


"Pantat ku sakit sekali om... Sshhhh..." Ringgis Aelin yang berusaha untuk bangkit namun tidak bisa.


Tanpa aba- aba, Davin langsung mengangkat tubuh kurus Aelin masuk ke dalan gendongan nya, seperti gaya bridestyle.


Lalu membawa tubuh Aelin dan meletak kan nya di atas ranjang.


Srak...


"Au.uuuuu" Lagi- lagi Aelin berteriak saat rambut panjang dan juga basah nya, tersangkut pada kemeja Davin.


"Maaf aku tidak tahu jika rambut mu tersangkut..." Cicit Davin berusaha melepas kan rambut Aelin yang entah kenapa bisa tersangkut di kemeja Davin.


Aelin membeku di tempat, saat menyadari posisi antara diri nya dan Davin yang sangat dekat.


Deg..


Deg..


Deg...


Jantung nakal nya kembali berdetak dua kali lipat, dengan ke dua mata besar nya yang melebar.


Diri nya dapat melihat dengan jelas, rahang tegas dan jelas Davin yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah nya.


Ke dua tangan Aelin langsung menarik rambut nya dengan cukup keras hingga rambut panjang nya akhir nya terlepas.


"Sudah... Rambut ku tidak tersangkut lagi..." Celetuk Aelin dengan kaku, sementara ke dua pipi nya memerah semerah tomat.


Bibir Davin berkedut melihat wajah cantik Aelin yang merona.


Sangat menggemas kan.


"Ku kira kau akan menendang ku, sama seperti terakhir kali saat posisi kita sangat dekat..." Goda Davin yang semakin membuat wajah Aelin merona karna malu.


Demi apa pun, kenapa sekarang perasaan nya berubah?.


Pekik Aelin ingin berteriak saat ini juga.


Tapi sungguh tubuh nya terasa benar- benar kaku sekarang.


Aelin langsung mendorong tubuh Davin, hingga terduduk di ranjang.


Jantung nya rasa nya akan meledak jika terus berada di posisi itu.


"Terimakasih karna sudah menggendong ku... Lebih baik om keluar sekarang karna aku ingin ganti baju..." Ketus Aelin dengan pipi mengembung.


Menyembunyi kan wajah nya yang saat ini ingin terbakar karna saking malu nya.


Aelin hendak beranjak dari ataa kasur, namun lagi- lagi ia meringgis karna bokong nya yang sakit.


"Auuuuhhhh...." Aelin memegangi bokong nya, memaksa diri nya untuk bangkit.

__ADS_1


"Berhenti lah memaksa kan diri mu... Seperti nya pantat mu lebam... " Seru Davin mencegah Aelin dengan kekehan di akhir kalimat nya.


Aelin melirik Davin dengan tatapan mengkilat membunuh.


Berani sekali pria tua ini menertawai nya diri nya yang sedang kesakita.


"Mending om diam dan jangan banyak bicara... " Sarkas Aelin.


"Ku kira tadi ada yang menjatuh kan karung.. Tapi ternyata kau yang jatuh.. Ha.. ha..." Tawa Davin pecah seketika.


"Om henti kan... Jangan menertawai ku... Jika tidak aku akan memukul mu..." Ancam Aelin yang kesal dengan wajah meledek Davin.


"Baiklah.. Istri kecil ku... Duduk lah aku akan mengambil kan pakaian mu hmm..." Davin menekan bahu Aelin untuk kembali duduk di atas kasur, lalu melenggang mendekat ke arah koper Aelin.


Mengeluar kan baju yang menurut nya cocok di guna kan Aelin.


Tatapan Aelin menyendu, saat melihat Davin mengambil kan pakaian untuk diri nya.


Kenapa sikap pria itu sangat manis pada nya.?


"Apa perlu aku pakai kan juga..?" Tanya Davin dengan seringgai mesum nya.


"Dasar om mesum... Berikan baju ku dan keluar lah... Aku akan memakai nya sendiri..." Sinis Aelin dengan wajah memangsa.


Davin mencebik kan bibir nua dan mengendik kan bahu nya.


Lalu memberi kan baju Aelin.


"Menggoda gadis ini sungguh sangat menyenang kan..." Pekik Davin dalam hati yang entah mengapa begitu senang saat melihat wajah kesal Aelin. Yang terlihat begitu menggemas kan di mata nya.


"Baik lah.. Kau tidak perlu khawatir jika aku mengintip.. Lagi pula aku sudah melihat semua nya..." Ujar Davin dengan mengedip kan mata nya nakal, lalu segera berlalu masuk ke dalan kamar mandi.


Sebelum Aelin akan melempar diri nya. Karna ia tahu Aelin adalah gadis yang cukup galak.


...----------------...


...****************...


hai hai... semua... karya othor masih sepi ini😭 kalau sepi terus othor sedih😭...


Ayo donk biar makin terkenal bagi vote dan hadiah... Biar otor tambah semangat untuk up...


yok jangan malas2 tangan nya buat beri komenan mendidik buat othor.. Biar rajin up untuk kalian semua😚


Hehe... Welcome back di karya yang ke tiga...


Jangan Lupa like.


Koment


Vote


Gift.


Rak Favorit


Budayakan beberapa hal yang di atas.


Supaya othor makin semangat😙

__ADS_1


__ADS_2