
...98💚...
Lia berjalan dengan beberapa siswi menuju tempat parkiran.
Hari ini ia pulang lumayan sore, karna ia sempat mengikuti ekskul musik.
Ia sangat tertarik dengan dunia musik, bahkan ia lebih tertarik di dunia itu dari pada belajar.
Ia rela menghabis kan seluruh hari nya untuk bermain musik, namun sangat malas untuk belajar.
Alat musik favorit nya adalah biola. Berbeda dengan Aelin yang lebih suka belajar dari pada musik.
Itu lah satu perbedaan diri nya dan Aelin, bahkan masih banyak lagi lain nya.
Diri nya dan Aelin seperti dua sisi koin yang berbeda.
Tapi perbedaan itu lah yang mempersatu kan mereka.
Bahkan hubungan mereka rasa nya cukup kuat dan dalam.
Lia berhenti di depan gerbang, seperti biasa diri nya akan menunggu supir nya untuk menjemput.
Namun dari arah lain, motor sport berwarna biru langit berhenti di depan Lia.
Lia sedikit mengerjit, namun seketika berubah pias saat melihat wajah pria yang ada di balik helm.
"Boy...!" Lirih Lia yang langsung memasang wajah judes nya.
Ia bukan tipe gadis ramah, yang suka menebar senyum.
Apa lagi untuk seorang pria.
Boy menyengir menunjuk kan deretan gigi putih nya yang berderet rapi.
"Sesuai rencana kita jadi kan ke rumah Aelin..." Seru nya dengan sangat semangat.
Lia sempat lupa jika ia sudah membuat rencana untuk mengunjungi rumah Aelin.
Mungkin karna terlalu terbawa saat bermain musik tadi, ia lupa rencana nya.
"Iya jadi.. Tapi tunggu supir gue dulu..." Jawab Lia datar.
"Lo sama gue aja.. Gue boncengin... Kalau nunggu supir lo bisa- bisa kita ngak jadi pergi karna kemaleman..."
"Tapi--"
"Udah lah.. Nanti gue anter lo pulang deh... Ayo naik...!" Bujuk Boy yang sudah tidak sabar untuk segera pergi ke rumah Aelin.
Bagi nya ini adalah sebuah kesempatan, untuk mendapat kan alamat rumah sang pujaan hati.
Jika ia tahu alamat rumah Aelin , ia jadi mudah ngapel ke rumah gadis cantik itu.
Lia menatap tajam ke arah Boy yang masih dengan cengiran kuda nya yang membuat mata Lia sedikit sakit.
Tapi apa yang di kata kan Boy ada benar nya juga.
Lagian bukan masalah kan jika hari ini ia di antar Boy.
__ADS_1
Ia bisa menelpon supir nya untuk tidak menjemput nya hari ini.
"Oke.." Setuju Lia singkat menyetujui saran dari Boy.
Mendapat udara segar, membuat senyum Boy semakin mengembang.
Ia segera menyerah kan helm pada Lia.
Lia memakai helm tersebut, namun ia sedikit kesusahan saat memasang tali helm.
Ia sangat jarang naik motor, jadi ia jarang mengguna kan helm. Ia lebih sering mengguna kan mobil. Tinggal masuk dan duduk manis.
Boy yang melihat Lia sedikit kesusahan langsung mengambil alih, membuat tangan nya dan Lia bersentuhan.
Deg..
Jantung Lia langsung berdebar tidak karuan, saat merasa kan kulit Boy menyentuh kulit tangan nya.
Di mana tatapan nya lurus menatap wajah Boy.
Diri nya akui jika wajah Boy ternyata cukup tampan.
Rahang yang tegas, alis yang tebal tapi tertata dengan begitu rapi , lalu mata nya yang tajam namun teduh dan bibir yang seksi di mana ke dua benda kenyal itu terlihat merah.
Glek...
Lia menelan saliva nya paksa , apa yang terjadi pada nya?
Mengapa jantung nya berdebar seperti ini?
Pekik Lia yang merasa ada yang aneh dengan diri nya.
"Sudah.. Ayo naik..." Seru Boy setelah memasang kan tali helm Lia.
Lia terhenyak, saat ucapan Boy membuyar kan lamunan nya.
Dengan tingkah kaku, Lia menaiki motor Boy, di mana tangan nya memegang bahu Boy.
"Kamu siap?" Tanya Boy memastikan sebelum ia menjalan kan kuda besi nya.
"I.. Iya..." Jawab Lia dengan terbata- bata. Ia masih menyatabil kan detakan jantung nya yang berdetak dengan tidak normal.
Setelah mendengar jawaban Lia, Boy mulai menggiring motor nya keluar dari area sekolah.
Sementara Arjun yang memperhati kan intraksi Boy dan Lia sedikit menatap tajam.
"Hai Arjun ganteng....!" Seru Yaya dengan ke dua teman nya yang membuat fokus Arjun terpecah.
Arjun menatap acuh, lalu beranjak segera pergi.
"Gue ingin membuat penawaran...!" Pekik Yaya saat melihat Arjun melenggang pergi begitu saja.
Ia seperti pohon mati yang di acuh kan oleh semua orang.
Ia tahu Arjun selalu bersikap seperti itu, selalu mengacuh kan diri nya.
Tapi tetap Arjun adalah mangsa nya.
__ADS_1
Langkah kaki Arjun pun berhenti, di mana ia memutar tubuh nya menghadap Yaya.
Apa lagi yang akan di perbuat gadis ulat bulu ini?
Sekali saja hidup nya tidak di lingkari oleh gadis - gadis ini mungkin ia akan sangat bersyukur.
Ia sudah berhasil menyingkir kan Aelin, dan sekarang gadis lain nya kembali mengusik hidup nya.
Ingin sekali Arjun rasa nya melempar gadis- gadis ini ke dalam palung samudra. Hinga mereka tenggelam dan tak bisa kembali.
"Gue tidak punya waktu untuk membuat penawaran... Jangan ganggu gue Yaya..!" Sarkas Arjun menatap jijik pada Yaya.
Yaya mengepal kan tangan nya erat, ia sangat kesal.
Padahal Aelin sudah menyingkir dari sisi Arjun, tapi tetap saja Arjun bersikap sinis kepada nya.
"Lo ngak bisa menolak, karna ini berhubungan dengan nama baik lo sebagai siswa teladan..."
Arjun menegang mendengar ucapan Yaya, kepala nya mulai berpikir apa yang sedang di rencana kan gadis licik di hadapan nya.
Bibir Yaya tersenyum miring, melihat ekspresi Arjun yang mulai tertarik dengan pembicaraan nya.
Ini lah yang ia ingin kan.
Yaya merogoh ponsel nya dan memutar vidio lalu menunjuk kan nya pada Arjun.
Mata Arjun melebar, melihat vidio diri nya yang sedang minum di club.
"Lo.."
"Gimana? Kalau gue sebarin vidio ini.. Gue yakin lo bakal hancur.. Reputasi lo sebagai siswa teladan akan hancur, dan mungkin tersemat julukan siswa nakal di nama Lo.. Sama seperti Boy.." Kekeh Yaya, yang kini berasa di atas awan karna berhasil mengendali kan situasi.
"Jangan berani- berani lo ngancem Gue Yaya.. Jangan macem- macem Lo sama Gue..." Pungkas Arjun yang sedikit takut jika Yaya berani menyebar kan vidio itu. Bisa- bisa reputasi nya hancur dan pasti nya ayah nya akan sangat murka jika tahu akan hal itu.
"Gue ngak ngancem kok sayang..." Yaya mendekat ke arah Arjun, membelai wajah tampan Arjun dengan penuh minat.
"Tenang aja vidio ini ngak akan kesebar, kalau lo mau jadi pacar Yaya... " Bisik Yaya tepat di telinga Arjun dengan senyum licik nya.
Arjun terpaku di tempat mendengar hal itu, ia sama sekali tidak sudi menjadi pacar Yaya, lebih baik ia menjadi tunangan Aelin.
Tapi bagaimana dengan reputasi nya yang akan hancur, jika ia tidak menuruti permintaan Yaya.
...----------------...
...****************...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
__ADS_1
Supaya othor makin semangat😙