
...120💚...
"Ayo coba panggil aku...!" Desak Davin yang sudah tidak sabar untuk mendengar suara merdu Aelin yang memanggil nya dengan panggilan sayang.
Namun Aelin masih menggigit bibir bawah nya.
Ia ingin melalukan apa yang di ingin kan Davin.
Tapi sungguh bibir nya berubah bisu saat ini.
Terasa mulut nya tidak sanggup untuk mengata kan satu kata itu.
"Sa... Sa... aahhh aku tidak bisa om..." Pekik Aelin pasrah karna ia tidak bisa memanggil Davin dengan panggilan sayang.
Tenggorakan nya terasa kering seperti tengah terjadi musim kemarau.
Wajah Davin tertekuk ke dalam. Ia sudah menunggu dengan sabar. Namun lihat lah Aelin malah mengata kan jika dia tidak bisa memanggil diri nya dengan panggilan sayang.
Sangat menyebal kan.
"Coba lah.. Kamu tinggal mengata kan nya... Tidak sesulit itu sayang...!" Renggek Davin yang semakin mendesak Aelin.
Davin sudah seperti anak kecil yang merenggek meminta untuk di belikan mainan yang sangat di ingin kan nya.
Sementara Aelin yang mendengar permintaan Davin benar- benar frsutasi.
"Aduh... Kenapa pake acara ngomongin masalah panggilan segala sih..? Demi apa pun lidah ku benar- benar kelu untuk memanggil Davin dengan panggilan sayang... Rasa nya sangat mustahil..." Dumel Aelin yang benar- benar merasa serba salah.
"Ck... Bilang saja jika kamu tidak ingin memanggil ku dengan panggilan sayang bukan?. Kamu sangat egois.. Hanya aku yang memanggil mu dengan sebutan sayang.. Sedang kan kamu tidak mau sama sekali..." Decak Davin dengan memasang wajah cemberut.
"Tidak... Tidak... Bukan begitu... Baik lah aku akan mencoba nya..!" Timpal Aelin.
Ia tidak ingin Davin berpikir jika ia egois.
Aelin menarik nafas nya dalam, meraup oksigen sebanyak mungkin untuk di alir kan ke dalam paru- paru kecil nya.
Mengumpul kan kekuatan dalam diri nya dan memerintahkan kepala nya untuk meminta mulut nya untuk mengeluar kan panggilan sayang itu.
"Ayo...!" Desak Davin yang sudah di ambang batas kesabaran nya.
Aelin mengangguk kan kepala nya cepat. Davin benar- benar menuntut nya.
Di mana pria itu sama sekali tidak tahu jika ia sedang berada dalam kesulitan.
Kesulitan karna mulut nya sama sekali tidak bisa mengata kan satu kata itu.
"Aahhh kenapa sangat sulit... Aku harus bisa..." Batin Aelin dengan mensugesti diri nya.
"Sa--- sa...."
Klek...
"Tuan Davin saya akan memeriksa kondisi anda sebelum pulang..."
__ADS_1
Suara Dokter Nashila yang tiba- tiba masuk ke dalam ruangan Davin.
"Ck... Kenapa dokter itu harus datang selarang..." Umpat Davin kesal saat melihat Dokter Nashila yang masuk ke dalam ruangan nya dan mendekat ke arah nya.
Jika begini ia tidak akan bisa mendengar Aelin memanggil nya dengan panggilan sayang.
Sedang kan Aelin, menghela nafas nya lega.
Ia sangat bersyukur atas kehadiran dokter Nashila yang menyelamat kan diri nya dari kesulitan ini.
"Huffffttt...."
Aelin menyingkir kan tubuh nya dari samping Davin, dan membiar kan dokter Nashila memeriksa Davin.
Sementara Davin menatap Aelin dengan memicing kan alis nya.
"Kamu bisa lolos kali ini Aelin.. Tapi tidak untuk nanti..." Batin Davin dengan seringgai devil nya yang mempu membuat Aelin bergidik ngeri.
"Kondisi Tuan Davin semakin baik.. Seperti nya tidak masalah jika Tuan ingin melakukan rawat jalan... Oh iya luka yang ada di pipi kiri Tuan Davin sudah bisa di buka perban nya... Karna luka nya sudah kering..." Jelas Dokter Nashila dengan ramah membuat siapa pun lawan bicara nya akan terasa di hormati.
"Kalau begitu lepas kan perban nya.. Aku ingin melihat wajah ku yang cacat..." Titah Davin sambil menatap Aelin penuh arti.
Ia ingin tahu apa kah Aelin tidak takut saat melihat wajah nya yang cacat ?
Dokter Nashila pun mengangguk. Sementara Aelin menatap sedikit cemas ketika mendengar perintah Davin.
Perlahan tapi pasti dokter Nashila membuka perban yang ada di wajah Davin.
Aelin menutup ke dua mata nya spontan, saat melihat luka itu.
Hal itu tentu saja membuat Davin kecewa, karna Aelin ternyata takut hingga menutup mata nya saat luka nya di buka.
"Apa luka nya seburuk itu?" Tanya Davin dengan aura dingin yang menguar dari dalam tubuh nya.
"Luka nya tidak terlalu buruk.. Tapi luka ini akan tetap membekas di pipi mu tuan Davin.. Tapi tenang saja luka ini bisa menghilang jika tuan melakukan operasi plastik..." Ujar Dokter Nashila menjelas kan solusi yang tepat untuk menghilang kan bekas luka di wajah Davin.
"Tidak perlu..." Ujar Davin cepat, yang langsung membuat Aelin kaget.
Kenapa Davin tidak ingin menghilang kan luka itu dari wajah nya?
Pikir Aelin di mana otak nya mulai bertanya- tanya.
"Darren bantu aku...!!" Seru Davin memberi kan perintah pada Darren yang beberapa menit yang lalu sudah tiba di dalam ruangan nya.
Hati nya benar- benar terasa di remas kuat, terasa menyesak kan saat melihat Aelin menutup ke dua mata nya.
Diri nya sedikit kecewa.
Darren segera mengambil kursi roda. Lalu memapah tubuh sang majikan untuk duduk di kursi roda.
Melihat akan hal itu Aelin segera bergegas membantu Davin.
"Baik lah jika begitu... kami pamit Dokter Nashila.. Terimakasih sudah merawat suami ku dengan sangat baik..." Pamit Aelin sebelum benar- benar pergi dari rumah sakit ini.
__ADS_1
Tak lupa Aelin juga membungkuk kan tubuh nya hormat, untuk mengapresiasi pelayanan yang di berikan oleh dokter Nashila.
Dokter Nashila hanya mengangguk ramah.
Ternyata Aelin adalah gadis yang sangat sopan, bahkan gadis kecil itu tahu bagaimana cara menghargai jasa seseorang.
Meskipun diri nya tidak tahu apa kah Davin memang sudah menikah dengan Aelin. Karna bagi nya semua hal itu terlihat tabu.
Namun lagi- lagi ia bukan lah siapa- siapa yang bisa menanyakan hal yang memang bukan urusan nya.
Meski sebenar nya ia sangat penasaran dengan cerita di balik semua ini.
Darren mendorong kursi roda Davin, di mana terlihat kaki Davin yang masih terpasang gift.
Aelin segera menyusul Darren dan Davin.
"Darren berikan.. Biar aku yang mendorong nya..." Ujar Aelin terdengar seperti sebuah perintah.
Darren pun mengangguk , menyingkir kan tubuh nya dan memberikan kendali pada Aelin.
Aelin mulai mendorong kursi roda Davin. Di mana perjalanan mereka keluar dari rumah sakit hanya di temani oleh hening.
"O-- kau suka sekarang kita pulang?" Aelin melurus kan lidah nya saat mulut bodoh nya hampir memanggil Davin dengan om.
"Hemmm..." Dehem Davin sebagai jawaban.
Aelin yang mendengar jawaban singkat padat dan jelas Davin mengerut kan dahi nya.
"Tumben jawab nya hem?" Batin Aelin hanya mengendik kan bahu nya tidak tahu.
Sementara ia terus melangkah mendorong kursi roda Davin.
Davin melirik ke arah Aelin yang bersikap biasa saja.
"Isshhh dia tidak peka sama sekali jika aku sedang ngambek..." Sebal Davin dalam hati.
...----------------...
...****************...
Jangan Lupa like.
Koment
Vote
Gift.
Rak Favorit
Budayakan beberapa hal yang di atas.
Supaya othor makin semangat😙
__ADS_1